My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2015

KULINER OTENTIK KHAS JOGJA - MANGUT LELE MBAH MARTO

Bicara jalan-jalan gak puol rasanya kalau gak icip-icip makanan lokal khas setempat. Jogjakarta salah satu kota yang terkenal dengan makanan kampung yang otentik rasanya, unik tempatnya dan gak nyekik harganya. Berikut referensi beberapa tempat yang sudah dicek langsung ke TKP dan dicicipi rasanya.

MANGUT LELE MBAH MARTO di Bantul.
Meski terletak didalam gang kecil yang hanya muat untuk dua orang berjalan beriringan, gak membuat warung mangut lele Mbah Marto ini sepi dari pengunjung. Seperti pepatah, ada gula ada semut. Makanan enak meski tempatnya nyusahin banget dan gak mudah tetap aja dicari orang (termasuk saya). Tampak depan warung Mbah Marto kelihatan segar dengan tembok berwarna hjau. Yang unik, pada salah satu tembok tetangga berjejer poster-poster iklan mulai dari Bank BNI sampai iklan perumahan. Hebat ya justru bank nasional sekelas BNI dan perumahan lokal memasang iklan mereka di warung Mbah Marto ckk...ck..ck...

Melangkah masuk kedalam warung, tampak meja dan kursi  sederhana. Gak ada bell boy yang membukakan pintu dan menyambut pelanggan datang dan gak juga pelayan datang membawakan buku menu. Semua serba apa adanya dan bener-bener self service. Jangan berharap dengan duduk manis kemudian pelayan datang, di warung Mbah Marto, pelanggan langsung masuk ke dapur. Membaui harumnya nasi, sayur gudeg, krecek dan mangut lele yang dimasak dengan tungku dan kayu bakar. Di dapur seluas 4x5 meter aneka masakan terhampar diatas bale kayu beralaskan tikar. Pengunjung dipersilahkan mengambil sendiri nasi dan teman-temannya sesuai kebutuhan dan selera masing-masing. Terkadang Mbah Marto hadir di dapur tuanya, duduk-duduk sambil ngobrol dengan pegawainya yang sudah lama mengabdi. Jangan berharap bisa selfie bareng Mbah Marto karena beliau akan ngibrit sambil menggerutu kalau ada pengunjung yang mau memotret dirinya. Meskipun di warungnya banyak foto-foto Mbah Marto dengan para seleb hits yang mampir makan mangut lele ditempatnya, Mbah Marto sebetulnya enggan untuk difoto. Jadi, jangan mekso lho yooo....kita hormati keengganan beliau untuk di foto.

Anyway, rasa mangut lele Mbah Marto memang luar biasa...otentik, dan bumbunya meresap sampai kedalam daging. Sayur gudeg, sambal krecek dan arehnya benar-benar pas di lidah. Tidak terlalu manis. Keseluruhan menu terasa saling melengkapi keberadaannya. Nasi putih yang mengepul hangat dan menguarkan harum aroma kayu bakar seakan menjadi pengikat menu-menu yang ada. Semua terasa pas baik komposisi maupun rasanya. Kelezatan rasa mangut lele seakan menjadi pemaaf atas kursi makan butut yang reyot dan joknya somplak disana sini serta udara panas tanpa ampun yang menggemboskan keringat dari balik pakaian seperti sauna.

Mbah Marto dengan mangut lelenya telah mematahkan berbagai prinsip-prinsip pemasaran yang ada. Tanpa iklan, tanpa modernisasi, tanpa jaga image dengan perabot yang layak. Sing penting uenak!

Sabtu, 17 Januari 2015

Pacu Adrenalin di Canopy Bridge, Bukit Bangkirai


Kalimantan dianugerahi potensi hutan yang luar biasa. Jangan heran kalau ukuran pohon-pohon di Kalimantan jauh lebih besar dan lebih tinggi dari pohon-pohon pada umumnya di Pulau Jawa. Selain besar dan tinggi, umumnya pohon pun tumbuh tegak lurus keatas. Salah satu obyek wisata yang memanfaatkan potensi hutan, adalah Bukit Bangkirai yang terletak di jalan Soekarno Hatta KM 38 Jalan propinsi Balikpapan-Samarinda, kecamatan Samboja. 

Kawasan wisata Bukit Bangkirai merupakan kawasan wisata yang dikelola oleh PT. Inhutani I unit I Balikpapan. Jaraknya sekitar 3jam dari kota Balikpapan.Kawasan Bukit Bangkirai dengan luas 1,500ha merupakan hutan hujan tropis (tropical rain forest), konservasi hutan yang mempunyai peran penting untuk mengembangkan monumen hutan alam tropika basah.Kawasan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi wisata dan kecintaan masyarakat terhadap lingkungan dan hutan. Pada tanggal 14 Maret 1998, 510 hektare dari kawasan ini diresmikan sebagai kawasan wisata oleh Djamalludin Suryohadikusumo, Menteri Kehutanan RI pada Kabinet Pembangunan VI.  Kawasan wisata alam ini diberi nama Bukit Bangkirai karena dominannya pohon jenis Bangkirai yang tumbuh di kawasan hutan lindung ini. Pohon Bangkirai pun kemudian dijadikan maskot utama obyek wisata yang telah mendunia ini. Di kawasan ini banyak terdapat pohon Bangkirai yang berumur lebih dari 150 tahun dengan ketinggian mencapai 40 hingga 50 m, dengan diameter 2,3 m. Pertumbuhan banir (akar papan) yang besar dan kuat menjadikan pohon ini memiliki nilai keindahan tersendiri.

Canopy bridge
Sebagai kawasan wisata, sarana dan prasarana dilengkapi seperti restoran, lamin untuk pertemuan, kolam renang, serta cottage maupun jungle cabin. Di kawasan ini juga terdapat canopy bridge (jembatan tajuk) sepanjang 64 m yang digantung menghubungkan 5 pohon Bangkirai di ketinggian 30 m. Untuk naik ke canopy bridge pengunjung bisa naik melalui menara terdapat dua menara dari kayu ulin yang didirikan mengelilingi batang pohon Bangkirai. Jembatan tajuk ini merupakan yang pertama diIndonesia, kedua di Asia dan yang kedelapan di dunia. Konstruksinya dibuat di Amerika Serikat. Sejarah singkatnya, peneliti asal Amerika serikat telah melakukan survey lokasi dan pohon serta lingkungan maka dilakukan pembangunan tahap pertama pada Januari 1998 dan tahap kedua selesai pada Februari 1998 dimana jembatan ini diselesaikan kurang lebih 1 bulan. yang dikerjakan oleh kontraktor Amerika yang tergabung dalam CCA (Canopy Constraction Asosiated) sebanyak enam orang pelaksana lapangan dengan dibantu tenaga lokal sebanyak tiga orang. Selain kayu dalam konstruksinya digunakan pula baja tahan karat atau Galvanized dari Amerika. Umur jembatan tajuk ini dari selesainya diperkirakan dapat mampu bertahan selama 15-20 tahun.

Untuk menuju canopy bridge pengunjung harus melewati jalur/trek yang melintasi hutan dengan pohon-pohon besar yang sebagian besar berjenis bangkirai (Shorea Laevifolia). Banyak pohon-pohon tua di kawasan hutan Bukit Bangkirai yang diadopsi untuk dipertahankan kelestariannya. Nama orang yang mengadopsi dicantumkan pada sebuah papan. Unik ya! Pada awalnya memang terasa menyeramkan menaiki menara yang tingginya kurang lebih 30meter dari permukaan tanah. Ditambah terpaan angin, menara terasa bergoyang-goyang mengikuti arah angin. Menapaki kaki diatas jembatan tajuk juga tidak kalah mendebarkan jantung. tetapi sesampaiknya di canopy, pemandangan yang ditawarkan luar biasa indahnya. Panorama hutan hujan tropis terhampar luas. 

Jenis-jenis fauna yang ada di kawasan Bukit Bangkirai adalah Owa-Owa (Hylobates muelleri), Beruk (Macaca nemestrina), Lutung Merah (Presbytus rubicunda), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Susvittatus), Bajing Terbang (Squiler) serta Rusa Sambar (Corvus unicolor) yang telah ditangkarkan. Saat saya disana beberapa ekor Owa-Owa menampakan diri malu-malu disekitar cacnopy bridge berada. Bagi pecinta alam dan fotografi, hutan ini eksotis sekali untuk direkam dalam gambar.

Pengumuman
Oya bagi pengunjung Bukit Bangkirai harap memperhatikan aturan di kawasan ini. Sebuah papan peringatan dipasang untuk mengingatkan pengunjung untuk tidak membunuh sesuatu kecuali waktu, jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Herannya sudah sedemikian jelas dibuatkan peraturan secara tertulis, masih saja ada yang mencoret-coret menara untuk memninggalkan jejak pernah berada disana. Sepertinya petugas pengelola kawasan wisata Bukit Bangkirai perlu memeriksa tas pengunjung agar tidak membawa alat yang bisa digunakan untuk menulis di menara ataupun menggores pohon.

Balada Kumala, Pulau Cantik Tapi Terabaikan

Gapura Selamat datang
Sebelum berangkat ke Kalimantan Timur, seperti biasa saya menyiapkan diri dengan amunisi berbagai informasi peta wisata dan kuliner. Nama Pulau Kumala ada di puncak daftar wajib kunjungan yang akan saya lakukan. Tidak banyak informasi menarik yang bisa saya dapatkan dari internet. Sepertinya obyek wisata yang satu ini belum terlalu populer dikalangan pejalan. Menuntaskan rasa penasaran, akhir Desember lalu saya berkesempatan berkunjung ke salah satu provinsi terkaya di Indonesia, Kalimantan Timur.

Pulau Kumala terletak di Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Pulau yang berjarak hanya beberapa ratus meter saja dengan menyeberangi sungai Mahakam ini berada persis diseberang kantor Bupati. Saat saya berada disana Tenggarong tengah gencar mempromosikan potensi wisatanya melalui film yang berjudul "Erau" dan perhelatan akbar festival Erau yang akan diselenggarakan pada bulan Juni mendatang. Kabarnya festival Erau tahun 2015 akan mengundang lebih banyak lagi negara-negara yang memiliki kerajaan. Woww...sepertinya harus mulai menabung untuk datang kesana nih.

Ini bukti pohon yang ditanam pada mati
Pulau Kumala sebetulnya menyimpan banyak sekali potensi wisata, namun sayangnya kurang dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Banyak wahana-wahana yang tidak berfungsi sejak lama. Kendaraan shuttle yang bertugas mengantar wisatawan berkeliling sudah tua dan tak layak berfungsi sebagai kendaraan wisata, sementara itu, disebelah shuttle yang renta, parkir sebuah shutlle dengan warna kuning gonjreng mencolok mata. Sayangnya shuttle istimewa tersebut hanya dipergunakan untuk tamu-tamu penting saja, sementara wisatawan yang berbayar cukup diservis dengan kendaraan renta. Selain kendaraan, ada sangkar burung raksaksa yang berada di tengah pulau kosong melompong tanpa seekor burungpun didalamnya. Bangunan rumah adat dayak disana sini mulai terlihat rusak. Gazebo tempat simbol kebanggaan kabupaten dan kerajaan Kutai Kartanagara yang diberi nama Lembu Suana berdiri dengan gagahnya, mulai mengalami kerusakan. Lantai pecah dimana-mana. Program gerakan menanam sejuta pohon yang dilakukan di Pulau Kumala seperti sia-sia karena hampir semua pohon mati kering. Bahkan gong raksaksa yang seharusnya menggantung di tiangnya hanya tinggal angan-angan. Tinggal tiang saja tanpa gong. Supir shuttle di P. Kumala bercerita dengan nada pahit kekecewaannya terhadap pemerintah setempat saat ini yang membuat Pulau Kumala seolah mati segan hidup tak mau.

Sangkar tanpa burung
Sangat disayangkan, Kalimantan Timur dengan kekayaan hasil tambangnya tidak bisa mengelola tempat hiburan bagi masyarakatnya. Seandainya pemerintah lokal mau memperhatikan fasilitas hiburan bagi masyarakatnya, justru akan menguntungkan daerah itu sendiri. Saya membayangkan jika P. Kumala dikelola seperti The Jungle atau Dunia Fantasy, tentunya masyarakat Tenggarong tidak perlu pergi ke Jakarta untuk membuang uang disana bukan? Semoga pemerintah setempat cepat menyadari bahwa menyediakan sarana dan prasarana hiburan bagi masayarakatnya merupakan umpan balik untuk meraih loyalitas mereka terhadap pemerintahan sekaligus mendorong roda perekonomian daerah. Miris juga mendengar ada hotel di P. Kumala tapi gak ada stafnya. Jadi pengunjung dipersilahkan menginap dengan syarat membawa makanan sendiri. Hellooww...., itu hotel atau camping ground? Saya berharap, kunjungan berikutnya ke Pulau Kumala, aneka wahana sudah mulai difungsikan, sangkar burung raksaksa sudah terisi, shuttle sudah berganti dengan yang lebih bagus dan semua fasilitas difungsikan dengan maksimal. Ayok dong Tenggarong, daerah lain yang tidak sekaya kalian semacam kota Batu di Jawa Timur saja pintar mengelola potensi wisata dengan adanya Jatim Park 1 dan Jatim Park 2. Atau kota Bogor yang kecil dan penuh angkot saja bisa punya The Jungle dan Jungle Land. Masa kalian cuma Pulau kosong melompong? Satu-satunya yang melegakan hati saya hanya diorama Putri Junjung Buih dan 2 ekor Naga yang terlihat seperti baru dicat. Well.....setidaknya ada sedikit hal bagus yang bisa dilihat oleh pengunjung.

Cuma ini yang bikin saya senyum di P.Kumala
Banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah setempat. Mulai dari mengganti shutlle yang lebih layak, memperbaiki wahana-wahana yang ada, mengaktifkan kembali resort/penginapan, membuat food court, membuat souvenir shop dan masih banyak lagi deh. Sekian curhat saya tentang Pulau Kumala, tanpa bermaksud menjelekan pemerintah setempat saat ini karena semua yang ditulis sesuai dengan apa yang saya lihat.  

KETIKA KEMATIAN MENJADI WISATA, DAYA TARIK TANA TORAJA YANG MENDUNIA

Sudah lama saya mendengar keunikan wisata di Tana Toraja. Ya bagaimana tidak unik, jika daerah lain mengandalkan alam, kuliner atau belanja sebagai pariwisatanya, Tana Toraja menawarkan wisata kuburan sebagai daya Tarik wisatanya. Terlebih dengan upacara pemakaman mayat yang dikenal dengan sebutan “Rambu Solok”. Upacara yang menelan biaya hingga miliaran juta ini selalu menyedot perhatian wisatawan local maupun asing sehingga berduyun-duyun datang ke Tana Toraja untuk melihatnya.

Si hitam yang harganya aduhai
Dalam upacara rambu solok, keluarga yang berduka biasanya memberikan persembahan berupa babi dan kerbau. Kerbau atau Tedong dalam masyarakat Tana Toraja merupakan simbol status sosial. Rumah adat suku Toraja yang disebut Tongkonan dihiasi dengan tanduk tedong. Semakin banyak tedong yang dikurbankan, menandakan semakin tinggi status sosial pemiliknya. Pemilik rumah memajang tanduk tedong dibagian depan tongkonan berderet dari atas hingga ke bawah. Ada tiga jenis tedong yang biasa digunakan dalam upacara. Kerbau putih atau tedong putih, kerbau hitam atau biasa disebut tedong saja dan kerbau belang atau disebut Tedong Bonga. Diantara ketiga jenis kerbau atau tedong tersebut Tedong Bonga menempati urutan puncak strata kerbau. Hasil iseng bertanya ke penduduk lokal harga seekor Tedong hitam biasa berkisar Rp160 juta, dan seekor tedong bonga konon harganya sama dengan sebuah mobil ferari, wooww.... fantastis!

Berangkat dari cerita keunikan upacara pemakaman Rambu Solok, kuburan tebing, kuburan gua, tedong dan tongkonan saya menyusun rencana pergi ke Tana Toraja. Hasrat hati seakan sulit dibendung, setiap kali melihat gambar Tongkonan di internet, hati saya berdesir-desir seperti orang yang sedang kasmaran, menunggu waktu untuk bertemu. Halahh!

Penampakan sleeper bus.
Dilengkapi selimut dan guling
Saya sengaja mengambil penerbangan sore hari agar tiba di Makassar malam hari. Setiba di Makassar langsung bersiap menunggu bus Bintang Prima dengan rute Makassar - Toraja. Perjalanan menuju Tana Toraja hanya dapat ditempuh dengan menggunakan jalan darat saja. Bus menuju Toraja hanya tersedia 2 jam keberangkatan, pagi pukul 09.00 dan malam hari pukul 21.00 dengan lama waktu perjalanan sekitar 9 sampai 10 jam. Tidak usah khawatir, perjalanan yang panjang akan terasa nyaman dengan sleeper bus yang setiap kursinya dilengkapi dengan sistem reclying seat yang bisa direbahkan hingga hampir 180 derajat dan fasilitas guling dan selimut karena AC busnya super dingin. Busnya pun bagus-bagus dengan pengemudi profesional yang sudah paham medan perjalanan menuju Tana Toraja. Bagi pejalan yang tidak memiliki waktu banyak, sebaiknya mengambil jam keberangkatan malam agar tiba di Rantepao pagi hari. Setiba di Rantepao, bisa mencari penyewaan motor yang terletak didekat lapangan Rantepao. Gunakan rute yang efektif agar perjalanan maksimal dan tidak ada yang terlewatkan.

Londa, makam didalam tebing batu
Rute yang saya gunakan adalah mengunjungi obyek wisata kuburan di Lemo terlebih dahulu. Ciri khas makam di Lemo adalah meletakan peti mati didalam tebing yang dipahat membentuk ceruk. Terbayang tingkat kesulitannya memahat tebing batu yang keras dan mengusung peti mati kedalam tebing. Luar biasa sekali upaya yang dilakukan. Dibagian depan tebing tampak beberapa Tau-tau atau boneka yang menyerupai orang yang sudah meninggal. Konon profesi sebagai pembuat Tau-tau sudah semakin langka di Toraja. Hingga saat ini hanya ada 2 orang saja yang terkenal keahliannya membuat Tau-tau. Oya, ternyata tidak semua yang meninggal bisa dibuatkan Tau-tau. Hanya kalangan tertentu saja yang diperbolehkan dibuatkan Tau-tau. Dari tebing makam, berjalanlah kearah jalan setapak. Ikuti terus jalan tersebut, anda akan menemukan toko souvenir khas Toraja yang letaknya cukup tersembunyi.

Boneka Tau-tau didepan pemakaman Londa
Rute berikutnya mengunjungi obyek wisata kuburan di Londa yang terletak 7km di arah selatan kota Rantepao. Ciri khas pemakaman di Londa adalah meletakan peti mati didalam gua. Pemakaman di dalam gua Londa ini dikhususkan bagi orang Toraja yang bermarga Tolengke, dan boneka Tau-tau yang terletak diatas gua Londa menandakan bahwa almarhum merupakan seorang bangsawan. Didalam gua beberapa peti mati bahkan sudah hancur dan menampakan tulang belulang serta tengkorak kepala manusia. Londa merupakan tempat pemakaman untuk leluhur suku Tolengke. Jika anda cukup berani, tidak ada salahnya mengikuti pemandu gua masuk kedalam hingga ke ujung yang tersempit. Pengalaman yang mendebarkan sekaligus menyenangkan. Pemandu akan menyorotkan sinar senter untuk membantu kita melihat bagian dalam gua. Uniknya, saya tidak mencium bau busuk mayat dan tidak terdapat tikus seekor pun padahal peti mati dan tulang belulang berserakan dimana-mana. Keluarga peziarah biasanya membawakan minuman untuk yang sudah meninggal. Minuman kemasan dalam botol tersebut ditinggalkan didalam gua. Tadinya saya pikir itu sampah yang ditinggalkan oleh keluarga peziarah ternyata itu merupakan sesaji bagi yang sudah meninggal. Pengetahuan baru saya dapatkan dari tradisi unik suku Toraja. 

Spot favorit para pejalan, berlatar Tongkonan!
Selepas berziarah di Londa, arahkan kendaraan menuju Kete’ Kesu, obyek wisata paling popular di Tana Toraja. Letaknya di kampung Bonoran Sanggalangi, sekitar 4km dari Rantepao. Disinilah pusat makam Toraja dan rumah adat/Tongkonan yang terbesar lengkap dengan Alang Sura' (lumbung padi). Kalau anda pernah membeli kartu pos Toraja dengan gambar Tongkonan, maka gambar tersebut diambil dari deretan Tongkonan yang ada di Kete’ Kesu. Beberapa tongkonan memiliki deretan tanduk tedong dari atas hingga bawah. Terbayang ya, kalau satu tedong seharga 160juta berapa nilai Tongkonan dengan deretan tanduk tedong tersebut? Saya beruntung, siang itu Kete’ Kesu belum dipadati pengunjung, jadi saya bisa mengambil beberapa gambar Kete’ Kesu tanpa ada orang lain disana. Puas mengambil gambar Tongkonan, langkahkan kaki ke arah makam. Ciri khas makam di Kete’ Kesu adalah di dalam gua.  Disalah satu sudut gua, terdapat 2 tengkorak kepala manusia. Pemandu wisata bercerita bahwa kedua tengkorak tersebut adalah sepasang kekasih yang mati bunuh diri karena cintanya tidak mendapat restu dari keluarga. Tidak ada aura mistis yang mengerikan didalam gua. Yang terasa hanya udara gua yang terasa lembab. Pemandu gua mempersilahkan pengunjung untuk mengambil foto-foto tengkorak yang ada didalam gua dengan syarat tidak memindahkan tulang ataupun tengkorak. Saya sendiri sempat berfoto dibelakang tumpukan tengkorak kepala, tapi sayangnya gambarnya agak goyang. Sepertinya teman saya yang memotret agak nervous dengan tumpukan tengkorak yang ada didepan muka saya hahahhaa agaknya diperlukan ketegaran hati untuk mengambil gambar disini.

Konon pernah ada turis asing yang iseng mencuri sebuah tengkorak dan membawa pulang ke negaranya. Ternyata roh/spirit tengkorak mengikutinya hingga ke negara asal dan terus menerus menghantui. Tengkorak kemudian dikirim ke Indonesia, tetapi roh tetap tidak berhenti menghantui. Si turis kemudian datang kembali ke Indonesia untuk mengadakan upacara dengan menyembelih seekor kerbau dan babi, barulah roh/spirit berhenti menghantui. Saat ini tengkorak yang dicuri disimpan kembali didalam museum.

Miniatur Tau-tau
Di sekitar Kete’ Kesu banyak terdapat penjual cinderamata, baik itu ukiran kayu, batik maupun patung kakek dan nenek Toraja. Uniknya di Toraja ini semua patung berwajah orangtua. Saat saya tanyakan apakah ada alasan tertentu mengapa patung hanya berwajah orangtua, penduduk disana tidak dapat menjelaskan alasannya. Mungkin itu sudah menjadi semacam tradisi bagi mereka. Bila orang dewasa yang telah meninggal dimakamkan didalam tebing atau gua, maka anak kecil yang belum tumbuh giginya dimakamkan didalam pohon. Para tetua mempercayai bahwa getah pohon menjadi susu bagi bayi. Sayangnya karena keterbatasan waktu saya tidak sempat berkunjung ke daerah yang memiliki pohon tempat menyimpan jasad anak kecil yang belum tumbuh giginya. Sekarang ini bayi yang meninggal tidak lagi dikuburkan didalam pohon tetapi dibuatkan rumah kecil.

Kurre Sumanga (terima kasih) Toraja, saya sangat menikmati perjalanan seharian disini. Perjalanan wisata tidak melulu hanya keindahan alam semesta yang memanjakan mata. Perjalanan wisata yang berlatar budaya dan sejarah seperti ini bisa menambah wawasan kita tentang negeri sendiri, Indonesia. Kalau bukan kita yang menghargai sejarah dan budaya bangsa, siapa lagi?

Kamis, 25 Desember 2014

Asyiknya Keliling Kota Surabaya dengan Surabaya Heritage Track

Surabaya Heritage Track
Sudah lama saya ingin mengunjungi museum rokok Sampoerna atau yang lebih tenar disebut House of Sampoerna. Terlebih dengan adanya wisata keliling kota Surabaya dengan menggunakan bus Surabaya Heritage Track. Bis dengan warna merah menyala dilengkapi dengan guide yang profesional siap mengantar pengunjung keliling kota secara gratis!

Seperti biasa, sebelum mengunjungi suatu tempat, saya selalu menyiapkan diri dengan bekal sebanyak-banyaknya. Dari hasil browsing di internet, ternyata tiket untuk naik bus Surabaya Heritage Track dapat dipesan melalui email. Tanpa membuang kesempatan, saya segera mengirimkan email permohonan reservasi untuk 9 orang. Staf marketing House of Sampoerna dengan ramah melayani pemesanan saya meskipun waktunya masih 3 bulan kedepan! hahaha keliatan sekali ya kalau saya udah ngincer banget pengen naik bus ini. Informasi dari mbak staf marketing yang ramah itu, pemesanan melalui email hanya berlaku untuk 10 orang saja. Diluar itu, calon penumpang harus datang dan daftar on the spot. Beruntungnya saya, karena waktu kami datang ke House of Sampoerna banyak pengunjung yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket bus Surabaya Heritage Track. Pfiuuh untung saja saya sudah buat reservasi jauh-jauh hari sebelumnya.

Bus Surabaya Heritage Track yang berkapasitas duduk 22 orang tersebut siap mengantar para tracker sebutan untuk penumpang bus dengan rute yang telah disediakan. Dalam 1 hari SHT melakukan 3 kali keberangkatan dan menempuh 1,5 hingga 2 jam per rute. Sedangkan dalam 1 minggu terdapat 2 rute, yaitu Rute A short trip pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis, dan Rute B long trip pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Sedangkan pada hari senin SHT tidak ada rute alias libur. Ada 3 kali jadwal keberangakatan bus yaitu jam 10.00 s/d 11.30, 13.00 s/d 14.30 dan yang terakhir 15.00 s/d 16.30. Saya mengambil jadwal jam 13.00, saat matahari di langit Surabaya sedang galak-galaknya.

Bus mengambil rute kota lama, melintasi jalan-jalan protokol dimana gedung-gedung tua yang apik dan masih berfungsi sebagai perkantoran. Saya sempat mengabadikan beberapa gambar gedung dari dalam bus dan cukup terpana dengan hasilnya. Gambar gedung tua dengan langit biru bersih diatasnya, cantik sekali! Bus berhenti di Tugu Pahlawan Surabaya. Penumpang dipersilahkan turun dan mendengarkan narasi dari tour guide yang dengan fasih menceritakan asal usul nama Surabaya, sejarah kota Surabaya dan masih banyak lagi. Guide juga mempersilahkan para penumpang berfoto dengan latar patung proklamator Indonesia, Soekarno dan Hatta. Sekitar 10 menit kemudian, bus melanjutkan perjalanan kembali.
PTPN XI
Setelah melewati beberapa gedung tua, bus kembali berhenti. Kali ini disebuah gedung PTPN termegah sepulau Jawa. Di tangan Belanda, perusahaan ini awalnya bernama Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), yang arti harfiahnya Asosiasi Pedagang Amsterdam. Sesuai namanya gedung ini memang ditempati oleh HVA, sebuah perusahaan asal Belanda yang didirkan sejak tahun 1879 di Amsterdam dan bergerak di bidang impor hasil pertanian dan budidaya tebu, kopi dan singkong. Perusahaan tersebut juga memiliki puluhan perusahaan di Hindia Belanda dan gedung di Surabaya ini berfungsi sebagai pusat kontrol untuk produksi gula di wilayah Jawa Timur. Gedung HVA terletak di jalan Merak no 1. Surabaya dan dibangun pada tahun 1920-1925 diatas lahan seluas 1.6 hektar oleh arsitek terkenal di Batavia, Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers.

Konon gedung ini memiliki bagian-bagian ornamen yang yang diimpor dari Belanda dan Italia. Uniknya gedung ini didesain fleksibel terhadap gempa. Gedung dibagi menjadi dua pondasi dan tulang dimana keduanya tidak melekat satu sama lain. Hebat deh, pemikiran arsiteknya sudah jauh kedepan pada masanya. Secara keseluruhan gedung terlihat kokoh dan anggun, tentu saja kesan angker tidak bisa dihilangkan dari gedung-gedung tua yang pada umumnya menyimpan kisah-kisah misteri hantu Belanda.

Sekitar 1,5 jam perjalanan berkeliling kota, akhirnya bus kembali memasuki halaman House of Sampoerna. Selanjutnya mengeksplore isi museum Sampoerna sembari mendinginkan kulit yang memerah terpanggang matahari. 

Museum Sampoerna
Saat membuka pintu museum, nyeesss udara sejuk menyapa kulit dibarengi dengan harum tembakau yang anehnya tidak membuat kepala pusing. Padahal biasanya kalau ada yang merokok dekat-dekat saya, sebelum rokok dinyalakan kepala sudah berdenyut-denyut duluan karena pusing mencium aroma rokok. Entah kenapa harum tembakau di dalam ruangan museum ini justru membuat kesegaran tersendiri. Ditambah penataan interior museum yang apik dan lighting yang pas membuat keseluruhan museum terlihat ciamik. Lantai pertama dipenuhi oleh foto-foto keluarga Sampoerna. Ada juga gerobak warung yang ditata sedemikian rupa sehingga mirip gerobak warung sungguhan. Isi museum dilantai 1 ini bisa menjadi edukasi untuk pengunjung, tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Ruang melinting rokok
Beralih ke lantai 2, disni terdapat aneka merchandise dari House of Sampoerna. Aneka magnetic fridge, polo shirt, gantungan kunci, pin, aneka batik tulis dan masih banyak lagi ragam merchandise yang dijual dengan kualitas prima. Dari lantai 2 ini pengunjung juga bisa melihat ruang melinting rokok yang hingga saat ini masih difungsikan. Ya, meskipun Sampoerna sudah membuat pabrik yang modern dilokasi yang lain, tetapi untuk menghargai sejarah berdirinya perusahaan Sampoerna, ruangan melinting rokok tetap dipertahankan di gedung ini.

Rasanya tidak ada yang bisa saya ungkapkan selain rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada founder perusahaan Sampoerna yang telah berjasa memberikan edukasi melalui museumnya secara gratis dan menyediakan fasilitas bus Surabaya Heritage Track keliling kota lengkap dengan naratif tour guidenya secara gratis juga. Tidak banyak pengusaha yang punya perhatian terhadap perkembangan sejarah dan pendidikan bangsa. Bangga rasanya keluarga Sampoerna memiliki keperdulian yang tinggi terhadap Indonesia, meskipun saat ini perusahaan Sampoerna bukan lagi menjadi perusahaan nasional semenjak diakuisisi oleh perusahaan Philip Morris. Hiikss, semoga dimasa mendatang, pengusaha Indonesia lainnya atau keluarga Sampoerna bisa membeli kembali perusahaan yang pernah menjadi salah satu perusahaan nasional terbesar di Indonesia. 

Legenda Ikan Massapi di Tilanga, Tana Toraja

Kolam Tilanga
Tempat ini terletak diantara Makale dan Rantepao. Tilanga yang berada di kecamatan Makale Utara adalah tempat pemandian dengan air alam yang terasa dingin namun memberikan kesejukan luar biasa. Air kolam Tilangan yang berwarna kehijauan memiliki kejernihan yang luar biasa. Pada beberapa bagian kolam yang tidak terlalu dalam, kita bahkan bisa melihat hingga ke dasar kolam. Pengunjung dikenakan tiket masuk sehargar Rp10,000,- untuk menikmati keindahan kolam Tilanga.

Disini pengunjung dipersilahkan untuk menceburkan diri kedalam kolam dan mandi. Tetapi harap perhatikan peraturan ditempat ini yang tidak memperbolehkan pengunjung mandi menggunakan shampoo, sabun atau segala sesuatu yang brsifat detergen. Hal ini untuk menjaga kelestarian ekosistem yang ada didalam kolam Tilanga.

Bagian kolam yang terdalam
Keunikan dari kolam ini adalah adanya beberapa belut berkuping (moa) yang memiliki nama latin Anguilla Sp, sementara oarng Toraja menyebutnya Massapi. Massapi kerap keluar dari celah-celah bebatuan yang ada disekitar kolam. Anehnya tidak ada satupun yang tahu secara tepat dibagian bebatuan mana Massapi bersarang. Tidak sembarang orang dapat memanggil Massapi hingga keluar dari sarangnya. Konon ada anak kecil yang mampu memangil Massapi hanya dengan menjentik-jentikan jarinya kedalam air dengan berbekal telur bebek rebus. Saat saya berkunjung, beberapa cangkang telur terlihat dipinggir kolam.

Konon Massapi membawa keberuntungan bagi siapapun yang bisa melihatnya di kolam Tilanga, apalagi jika dapat melihat Massapi Bonga yang memiliki warna kulit belang hitam dan putih. Seperti halnya Tedong Bonga sebutan untuk kerbau dengan warna belang hitam putih yang harganya selangit karena kelangkaannya, Massapi Bonga memiliki keberuntungan yang lebih dibandingkan Massapi biasa bagi yang dapat melihatnya. Wallahualam.

Masih menurut kepercayaan yang beredar di masyarakat sektiar, Massapi pantang untuk dipancing. Kabarnya pernah ada orang yang nekat memancing Massapi. Beberapa hari kemudian tersiar berita bahwa si pemancing meninggal dunia tanpa diketahu sebabnya. Masyarakat juga percaya bahwa didalam kolam hidup raja Massapi yang kerap muncul tengah malam untuk membersihkan kolam dari dedaunan yang berguguran dari pohon-pohon disekeliling kolam sehingga pada pagi hari kolam terlihat bersih kembali.

Kesejukan yang sulit ditolak
Diluar berbagai legenda yang menyebar di masyarakat tentang Massapi, pemandian Tilangan memiliki kesejukan air yang sulit untuk ditolak. Dengan rimbunnya pepohonan disekitar kolam dan suara daun bambu yang bergesekan ditiup angin membuat kita betah berlama-lama duduk dipinggir kolam. Coba celupkan kaki anda saat berada ditepi kolam, rasakan sensasi kesejukannya yang menjalar perlahan dari ujung kaki ke tubuh bagian atas. Bagi pengunjung yang ingin mandi disini harap  berhati-hati karena ada bagian kolam yang sangat dalam dan sulit untuk disentuh dasar kolamnya. Bagi anda yang berjiwa pemberani, beberapa dahan pohon yang melintang didekat kolam derap kali dijadikan papan untuk berayun dan meloncat kedalam kolam. Anda berani mencobanya?

Kamis, 18 Desember 2014

Island Hopping. Sekali dayung tiga pulau terlampaui (Lae-lae, Samalona, Kodingareng Keke)

Cuaca cerah, waktunya ke pulau!
Setiap kali menuliskan kata kunci “Makassar” di mesin pencari, berkali-kali nama pulau Samalona muncul. Pulau yang digambarkan sebagai kepingan surga yang jatuh di tanah Sulawesi Selatan membuat rasa penasaran berkecamuk didalam pikiran.

Kesempatan mendaratkan kaki di Sulawesi Selatan untuk berlibur akhirnya terwujud. Akhir November lalu saya solo traveling ke Makassar. Tujuan utamanya pulau Samalona yang sudah lama diimpi-impikan. Cara menuju Pulau Samalona sangat mudah sekali. Tepat diseberang benteng/Fort Rotterdam anda akan menemukan dermaga kecil tempat perahu sewaan menuju pulau-pulau. Sebelum  menyeberang saya sempatkan menikmati semangkuk Pallu Basa, kuliner khas Makassar yang terdiri dari potongan daging sapi dengan kuah berbumbu pekat bercampur serundeng kelapa. Jangan lupa membeli bekal untuk makan siang di pulau dan buroncong, kue khas Makassar untuk camilan.

pulau Lae-lae, ramai pengunjung
Hari itu cuaca sedang berpihak pada saya, cuaca cerah ceria. Pulau pertama yang akan menjadi persinggahan kami adalah Pulau Lae-lae yang jaraknya hanya sekitar 15 menit saja dari Makassar. Bahkan dari ujung dermaga kita bisa melihat pulau Lae-lae. Disini kami hanya singgah untuk menjemput jaket pelampung. Meskipun merasa bisa berenang, tidak ada salahnya untuk tetap memperhatikan keselamatan dengan membawa jaket pelampung, untuk antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perjalanan kami lanjutkan menuju pulau Samalona. Pulau yang sudah lama sekali saya dengar keindahan bawah lautnya, gradasi biru jernih air laut yang berpadu dengan pasir putih terlihat begitu menawan. Tidak salah memang jika pulau ini begitu terkenal dikalangan para pejalan. Anda yang tidak membawa pakaian renang atau wet suit untuk diving/snorkling tidak usah bingung, di pulau ini menyediakan sewa wet suit, celana renang hingga alat snorkling dengan harga yang tidak mahal. Alih-alih menggunakan baju yang sudah disiapkan dari hotel, saya malah menyewa wet suit supaya tidak usah membawa pulang pakaian basah. Spot snorkling di pulau Samalona cukup bagus, dengan kejernihan airnya  aneka biota laut seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias berwarna warni dapat diobservasi dengan mudah tanpa harus menyelam terlalu dalam. Kami berpindah-pindah ke beberapa titik snorkling untuk mengeksplorasi keindahan bawah laut Samalona.

Pulau Kodingareng Keke
Puas menikmati pemandangan bawah laut Samalona, kami berpindah ke pulau Kodingareng Keke yang berjarak sekitar 25 menit dari Samalona. Kawan, harus saya akui, diantara ketiga pulau; Lae-lae, Samalona dan Kodingareng Keke hati saya tertambat di pulau yang terakhir . Pulau tak berpenghuni ini hanya terdiri dari dataran yang terbentuk dari gundukan pasir putih dengan beberapa batang pohon yang berhasil bertahan hidup dari teriknya matahari ditengah laut. Disini sejauh mata memandang hanya jernihnya laut biru bersanding dengan putihnya pasir membentuk harmoni yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Pulau ini benar-benar mencuri hati saya. Teriknya matahari terkalahkan oleh pemandangan yang terhampar didepan mata. Sempatkan untuk berkeliling, anda bisa menemukan bintang laut berwarna biru dipinggir pantai. Kebetulan hari itu pengunjung pulau Kodingareng Keke tidak terlalu banyak, jadi serasa ada di pulau pribadi. Meskipun pulau ini tidak berpenghuni, tetapi ada satu dua nelayan yang kerap singgah di pulau Kodingareng Keke. Menurut mereka, pulau ini dulu pernah berpenghuni tetapi kemudian, sang penghuni pergi meninggalkan pulau setelah rumah mereka roboh terkena abrasi pantai. Sisa-sisa pondasi rumah masih terlihat dipinggiran pantai.

Welcome to my paradise ;-)
Di pulau ini, untuk pertama kalinya dalam hidup saya mencicipi lauk yang biasa dimakan nelayan. Mereka menyebutnya kerbau laut atau tedong laut. Tedong laut adalah sejenis kerang hias besar yang diolah hanya dengan dibakar saja tanpa bumbu apapun. Pak Saeful, salah seorang nelayan yang kebetulan singgah di pulau membakar beberapa tedong dan mengupas cangkang tedong sebagai hadiah buat saya. Duh jadi terharu banget diberi hadiah oleh nelayan. Tanpa sungkan, saya ambil tedong yang sudah dibakar dari tangan pak Saeful dan langsung melahapnya. Awalnya saya sempat membatin, seperti apa ya rasanya. Ternyata setelah satu tedong meluncur kedalam mulut, saya malah ketagihan! Rasanya gurih sekali...., seperti escargot. Hmmmm pantas saja ya nelayan punya stamina yang tinggi, makanan mereka berprotein tinggi dari alam. Selesai makan siang, saatnya merebahkan badan diatas hammock yang sudah tertata manis. Aahh…indah sekali dunia saya saat itu rasanya, berayun-ayun diatas hammock dengan pemandangan pasir putih dan laut biru didepan mata serta semilir angin pantai. Samar-samar lagu welcome to my paradise terdengar ditelinga, OK itu halusinasi saya yang terlampau menikmati suasana yang luar biasa relaksnya. Bak di pulau pribadi! No work…no phone call….no email….benar-benar menikmati alam. Oya, di pulau ini sinyal provider apapun nyaris tidak bisa tembus. Ada bagusnya juga, jadi waktu untuk menikmati pulau tidak terganggu oleh komunikasi apapun bentuknya.

Tedong laut. Berani coba?
Sebelum pulang kami sempatkan untuk kembali snorkling di beberapa spot. Untuk para pengunjung, sebaiknya baca aturan yang ada di pulau Kodingareng Keke agar tidak belajar snorkling di area yang padat karang karena dalam setahun karang hanya mampu tumbuh sebesar 1cm saja. Selain itu pengunjung juga dihimbau untuk menjaga kebersihan pulau. Kesal rasanya melihat ada sampah botol plastik, puntung rokok maupun botol beling dibeberapa sudut pulau. Apa sih susahnya mengutip sampah sebelum meninggalkan pulau.

Tepat pukul 3 sore, saya bertolak kembali menuju kota Makassar. Petualangan 3 pulau sudah usai, tetapi semua kenangan masih terekam kuat dan terus berputar-putar dalam ingatan. Rasa lelah yang muncul langsung lenyap saat mengingat betapa indah maha karya sang Pencipta yang sudah menurunkan tetesan-tetesan surga di bumi Sulawesi Selatan.

Terimakasih tak terhingga untuk kawan-kawan baru saya di Makassar, Firman, Arief dan Ipang yang telah memandu menjelajah alam bawah laut pulau Samalona dan Kodingareng Keke yang mempesona. Buat hammocknya yang sudah membuai saya ke alam khayal, buat minuman coklat milonya yang dibuat dengan menggunakan kompor Trangianya yang lebih mahal dari harga kompor saya dirumah. Tanpa kalian liburan saya tidak berarti apa-apa. Kalian sudah membuktikan keramahan sejati orang Makassar dan kepiawaian kalian melakukan free dive sudah tidak diragukan lagi. Tunggu saya kembali ke kota ini ya!

Jappa-jappa (Jalan-jalan) di kota Makassar Dalam 6 Jam

Memiliki waktu hanya 6 jam di kota Makassar yang dikenal sebagai kota “Anging Mamiri” bukan berarti cuma bisa berdiam diri di hotel tempat menginap. Dalam 6 jam saja ternyata banyak tempat yang bisa disambangi. Gak percaya? Cek tulisan berikut ini.

Fort Rotterdam di pagi hari, cantik!
Jam 8 pagi jalan-jalan dimulai. Tujuan pertama adalah benteng Rotterdam. Benteng yang awalnya bernama benteng Ujung Pandang ini berdiri sejak tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-10 terletak dijalan Ujung Pandang no 2. Sebetulnya tidak ada tiket masuk ke benteng ini, tetapi pengunjung diminta untuk memberi sumbangan serelanya. Benteng dengan dinding bercat kuning langsat terlihat kontras berpadu dengan beberapa daun jendela dan pintu yang berwarna merah. Di benteng ini terdapat ruang tahanan Pangeran Diponegoro. Fort Rotterdam memiliki museum dengan nama yang unik “La Galigo” yang diambil dari nama karya sastra klasik dunia yang besar dan terkenal. Pertimbangan lainnya, nama La Galigo sangat terkenal di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. La Galigo adalah seorang tokoh legendaris putra Sawerigading Opunna Ware dari pernikahannya dengan We Cudai Daeng Ri Sompa. Setelah dewasa La Galigo dinobatkan menjadi Payung Lolo (Raja Muda) di kerajaan Luwu yang merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Saya terkesan melihat Museum La Galigo cukup terawat, terlihat betapa masyarakat Makassar begitu mengapresiasi sejarah mereka ditempatnya sendiri. Isi museum seperti pada umumnya memuat koleksi benda-benda bersejarah yang tersimpan apik didalam lemari kaca. Ada juga baju tradisional dan kain songket Makassar yang terkenal kehalusannya.  Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi benteng Rotterdam yang saat terekam kamera tampak begitu dramatis antara bentuk bangunan kolonial berpadu dengan birunya langit. Cantik, bak lukisan!

Pinisi, kapal nenek moyang
Konon asal usul nenek moyang kita yang seorang pelaut berasal dari Makassar. Pelaut Makassar terkenal kehebatannya mengarungi luasnya samudera dengan Kapal kayu tradisional yang disebut Kapal Pinisi. Maka pelabuhan Paotere menjadi tempat kedua yang dikunjungi. Pagi hari hiruk pikuk di pelabuhan Paotere sudah terlihat. Beberapa kapal Pinisi sedang melakukan bongkar muat dan perbaikan. Beberapa kapal lainnya tampak sedang istirahat bersandar saja di pelabuhan. Sementara itu di sisi lain dari pelabuhan Paotere tampak sekumpulan anak-anak kecil sedang berenang riang gembira bersama di laut. Tidaklah heran kalau label pelaut ulung dilekatkan pada orang Makassar. Laut menjadi taman mereka bermain semenjak kecil rupanya.  Puas mengamati aneka kapal Pinisi yang sedang berlabuh, kaki kembali melangkah menuju tempat berikutnya.

Mesjid Raya Makassar, bak istana.
Mesjid Raya Makassar yang didominasi warna putih terlihat seperti istana yang berdiri anggun dibawah langit biru berawan putih. Sejenak saya terpana…., dimata saya mesjid ini tampak bak istana yang ada di dongeng-dongeng negeri timur tengah. Satu persatu saya menapaki tangga mesjid yang megah ini. Pada salah satu dinding terdapat daftar nama panitia pemugaran Mesjid Raya Makassar yang dilakukan pada tanggal 16 Juni 1976. Nama H. Kalla dan H. Drs. Yusuf Kalla ada didalam daftar. Mesjid ini sendiri kemudian diresmikan oleh H. Yusuf Kalla dibulan Mei 2005 saat beliau menjadi Wakil Presiden RI. Mengintip ke bagian dalam mesjid, saya mendapati sebuah Al-Quran besar dengan ukuran 1m x1,5m dan berat 544kg. Al-quran ini dikerjakan selama 12 bulan lamanya dan ditempatkan dalam kotak kayu jati yang sudah dikeringkan selama 1 bulan agar tahan hingga ratusan tahun. Subhanallah…

Mesjid Apung Amirul Mikminin
Selain Mesjid Raya Makassar, ada dua mesjid lagi yang wajib untuk dikunjungi. Mesjid apung Amirul Mukminin yang terletak dipinggir pantai Losari. Mesjid mungil dengan kubah biru yang menjorok ke laut ini disangga oleh tiang-tiang kokoh menjadikannya terlihat cantik dan menjadi icon baru di pantai Losari. Mesjid selanjutnya adalah Al Markaz yang merupakan mesjid terbesar se Asia Tenggara. Konon tinggi tiang menara mesjid Al Markaz menyamai tinggi menara Masjidil Haram. Luar biasa….

Mayoritas penduduk di Makassar adalah muslim, tetapi jangan heran jika disini tempat-tempat ibadah agama lainnya dengan mudah bisa ditemui. Agaknya kerukunan hidup beragama sudah tertanam dengan baik disini. Saat saya mengambil gambar-gambar tempat ibadah seperti gereja dan klenteng pun mereka tidak melarang, malah mempersilahkan. Tentu saja saya paham aturan mengambil gambar ditempat ibadah, tidak boleh memotret dari depan saat umat sedang menjalankan ibadah dan tidak mengganggu umat yang sedang beribadah.

Klenteng Xian Ma
Klenteng pertama yang disambangi adalah Yayasan Marga Thoeng, sejak tahun 1898. Sayangnya hari itu klenteng sedang tidak dibuka, jadi saya hanya bisa mengambil gambar pintu klenteng yang berwarna merah dengan hiasan beberapa lampion diatasnya. Beberapa meter dari Yayasan Marga Thoeng, ada Klenteng Kwan Kong. Kali ini cukup beruntung. Klenteng sedang dibuka dan beberapa umat tampak sedang sembahyang didalamnya. Klenteng ini tampak kental nuansa orientalnya dengan ornamen patung singa yang sedang duduk sambil menggenggam bola dikaki kanannya. Di bagian dalam klenteng terdapat lonceng besar berwarna emas dengan tulisan china berwarna merah pada badan lonceng. Sementara pada altar untuk sembahyang yang berwarna merah, tampak beberapa lilin dan sesaji seperti minuman dan buah-buahan diatasnya.

Keseruan belum berakhir, hanya berjarak beberapa belas meter saja tiba di Istana Naga Sakti Klenteng Xian Ma. Uniknya klenteng Xian Ma diresmikan oleh H. Syahrul Yasin Limpo yang menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 2009. Nah, sekali lagi bukti kerukunan antar umat beraga terlihat disini. Berseberangan dengan Klenteng Xian Ma, tampak Vihara Ibu Agung Bahari. Bagian depan vihara tampak dihiasi dengan lampion berwarna merah dengan beberapa pilar berukir menopang canopy teras vihara.

Gereja Katedral
Tempat terakhir yang dikunjungi adalah gereja Katedral. Sengaja saya memilih gereja sebagai tempat terakhir untuk dikunjungi agar tidak mengganggu umat kristiani yang sedang melakukan ibadah minggu. Pagi itu gereja Katedral tampaknya sedang mempersiapkan pohon natal yang besar. Di depan gereja terlihat rangka besi yang menyerupai pohon cemara. Bangunan gereja Katedral ini cukup mungil ukurannya. Dindingnya berwarna coklat muda beraksen atap dengan warna coklat yang lebih tua, terlihat klasik dan tidak berlebihan. Sederhana namun tidak mengurangi keanggunannya.

Waah ternyata jappa-jappa atau jalan-jalan dalam Bahasa Makassar selama 6 jam cukup banyak juga tempat yang bisa disambangi ya. Meskipun matahari terik tetapi angin sepoi-sepoi membelai seakan meredakan teriknya sengatan matahari. Tidak salah kalau kota Makassar dijuluki sebagai kota “Anging Mamiri”. Sampai bertemu lagi kota Makassar, semoga tahun depan saya bisa kembali lagi!

Kamis, 24 Juli 2014

Washington, A Sweet Trip to Remember


Penampakan Embassy of Indonesia
Tempat penting yang seringkali terlupakan untuk dikunjungi saat anda melancong keluar negeri adalah Kedutaan Besar yang mewakili negara anda. Padahal jika anda tertimpa musibah saat di negara orang, maka pihak Kedutaan Besarlah yang akan menjadi penolong anda.

Nah, selagi saya berada di Amerika maka kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia yang terletak di 2020Massachusetts Avenue N.W. Washington DC masuk kedalam agenda wajib kunjungan saya. Apalagi Brigjen Arief yang menjabat sebagai Atase Polri disana sudah membantu menyiapkan acara ramah tamah dengan Duta Besar Indonesia, Ambassador Budi Bowoleksono dilanjutkan dengan foto bersama dan ditutup makan siang dengan menu Asia. Rupanya beliau paham betul dengan kondisi para tamu-tamu Indonesianya yang akan berkunjung sudah rindu masakan tanah air terutama nasi :D

tangga dimana Evalyn sering
menampakan diri
Bicara tentang Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amerika Serikat, kita patut berbangga hati sebab gedung yang dibeli pada tahun 1952 memiliki nilai historis yang tinggi dan termasuk gedung Kedutaan paling cantik. Interior gedung dengan langit-langit yang dilukis bak awan dan ukiran-ukiran kayu berdetail rumit dilengkapi tangga dengan patung 2 orang perempuan melengkapi kecantikan gedung ini. Gedung KBRI dikenal dengan sebutan Walsh Mansion. Gedung ini dibangun oleh Thomas J. Walsh seorang imigran dari Irlandia yang pindah ke Washington DC pada tahun 1898 dimana ia membangun Walsh mansion. Thomas Walsh wafat pada April 1910, rumah tersebut ditempati oleh anak perempuannya, Evalyn Walsh yang menikah dengan Edward Beale "Ned" McLean. Di tahun yang sama, McLean membelikan sang istri sebuah berlian yang diduga memiliki kutukan. Setelah membeli kalung berlian biru yang kemudian dikenal dengan The Hope Diamond, tragedi demi tragedi terjadi pada keluarga tersebut. Evalyn dan suaminya kehilangan anak laki-lakinya yang berusia 9 tahun dalam sebuah kecelakaan mobil, McLean meninggal akibat serangan jantung dan anak perempuan mereka meninggal akibat over dosis obat tidur. Sejak kematian Evalyn 26 April 1947, Walsh mansion dijual kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia pada tahun 1952 senilai US$355.000 jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pembuatannya yang mencapai US$850.000 di tahun 1903. Saat ini The Hope Diamond disimpan di George Washington monument.

Konon roh Evalyn sering terlihat di gedung yang pernah menjadi kediamannya. Banyak cerita-cerita mistis diseputar ruangan-ruangan yang ada di gedung KBRI ini. Tangga yang berada diruangan tengah kabarnya menjadi salah satu tempat dimana roh-roh halus sering menampakan diri. Waktu saya permisi untuk menggunakan toilet dilantai bawah, mereka meminta saya untuk cepat-cepat naik ke lantai satu. Meskipun tidak menjelaskan ada apa, tetapi dari raut wajahnya bisa saya simpulkan bahwa sesuatu yang kasat mata dan tidak menyenangkan terlihat diruangan paling bawah dari KBRI.

Ini dia ruang kerja Ambassador
Barangkali saya termasuk yang beruntung karena diperkenankan mengintip ruang kerja Ambassador yang siang itu tidak bisa menemani makan siang bersama karena akan menjemput Bapak B.J. Habibie yang rupanya sedang bertandang ke Washington DC. Ruangan kerja yang luas dilengkapi dengan satu buah meja kerja kayu berukuran besar dan kursi kerja yang berbahan kulit warna merah marun dengan karpet warna senada menghiasi lantai tepat dibawah meja kerja. Satu perangkat sofa diletakan diseberang meja kerja untuk berbincang-bincang. Penataan yang apik dan pemilihan furniture yang tepat menjadikan ruangan ini enak untuk dilihat.

Ruangan kerja ini memiliki beberapa jendela yang tinggi-tinggi sehingga cahaya dapat menerobos masuk kedalam ruangan menjadikan ruangan terang dan terasa lebih hangat.

Mumpung Ambassador sedang keluar KBRI, saya manfaatkan untuk mengambil beberapa gambar diruangan istimewa ini. Kapan lagi, mumpung bisaa...hehehe

Selesai berkeliling gedung KBRI meskipun hanya dilantai satu saja, saya dan rombongan bersiap-siap makan siang dengan menu istimewa, asian cuisine! selesai makan, kami berpamitan dengan Brigjen Arief dan beberapa staf KBRI yang hari itu hadir untuk menyambut kami untuk melanjutkan acara jalan-jalan di seputar Washington DC. Terimakasih pak Arief atas undangannya!

Capitol Building
Disekitar Washington DC banyak tempat-tempat wisata yang gak akan bisa dijelajahi dalam waktu singkat. Sayang banget, mengingat kami harus kembali ke Moyock, North Carolina yang berjarak sekitar 4 jam dari Washington DC, gak begitu banyak tempat yang bisa dikunjungi. Hanya beberapa lokasi wajib saja seperti The United States Capitol. Gedung yang didirikan tahun 1800-an dengan arsitek William Thornton itu menjadi kantor bagi anggota parlemen AS. Bangunan ini punya kubah besar bergaris di bagian tengahLincoln Memorial Park

White House
Gedung lainnya yang kami sambangi adalah White House atau kediaman Presiden AS rumah bergaya Georgian yang menjadi tempat tinggal resmi para presiden AS sejak Presiden Kedua AS Johan Adams, tahun 1800. Jadi, selama 200-an tahun lebih, orang-orang nomor satu di negeri itu tinggal di sana, termasuk Barack Obama. Gedung ini dibangun pada masa presiden George Washington. Meskipun dibangun olehnya, tapi George Washington tidak pernah menempati gedung ini. Gedung ini juga pernah dibakar oleh tentara Inggris pada 1814. Pembakaran ini membuat Gedung Putih berwarna hitam. Setelah direnovasi, gedung ini kemudian dicat putih, sehingga orang menyebutnya Gedung Putih. Gedung Putih terletak di utara George Washington Monumen.

Bila Gedung Putih merupakan tempat bagi eksekutif beraktivitas, Capitol Building adalah tempat beraktivitasnya legislatif. Secara topografi, letak Capitol Building lebih tinggi daripada Gedung Putih. Ini melambangkan bahwa legislatif lebih tinggi dari pada eksekutif. Rakyat lebih tinggi dari pemerintah. Banyak tempat di Washington DC yang memiliki makna-makna simbolis seperti ini. Simbol-simbol ini umumnya menceritakan tentang sejarah Amerika. Unik ya ternyata penempatan gedung pun menjadi simbol-simbol yang memiliki arti tersendiri.


George Washington Monument

White House, Washington Monument, dan United States Capitol berdiri pada titik segitiga di jantung kota Washington DC. Pada jarak lurus antara Washington Monument dan United States Capitol, terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall. Dari jalur terbuka inilah, para wisatawan leluasa mengamati kota. Duduk-duduk disini sambil mendengarkan kicauan burung terasa amat menyenangkan. Satu hal yang agaknya sulit untuk didapatkan di Indonesia adalah banyaknya burung yang bebas berkeliaran di taman dan bahkan di jalan-jalan. Di Indonesia jangan harap burung bisa bebas bercengkrama di taman, pemburu-pemburu liar sudah barang tentu menyiapkan senapan angin atau jebakan buat menjeratnya.

George Washington Monument sendiri merupakan tugu yang paling dihormati oleh masyarakat Washington DC. Hal ini sebagai ungkapan terima kasih masyarakat Amerika terhadap mendiang presiden pertama Amerika, George Washington. Bentuk penghormatan ini, salah satunya adalah ketinggian gedung-gedung di Washington DC tidak boleh lebih tinggi dari George Washington Monument. Dan hal ini benar-benar ditaati oleh masyarakat Washington DC.


Gereja di pusat kota Washington DC
Kota Washington DC sendiri memiliki sejarah yang menarik untuk dicermati. Washington DC (singkatan dari District of Columbia) didirikan tahun 1790. Kota pinggir Sungai Potomac ini didesain arsitek Perancis, Pierre Charles L’Enfant, sebagai ibu kota negara. Rancangannya bergaya Eropa abad pertengahan. Maka tidak heran jika tata kotanya banyak mengadopsi gaya Eropa dengan taman dan bundaran ditengah-tengah untuk membagi jalan. Gedung-gedungnya pun banyak mengadopsi gaya eropa Renaissance.

Washington DC memang bukan hanya pusat pemerintahan Amerika Serikat. Lebih dari itu, kota ini memang dirancang dengan nilai filosofi yang tinggi. Sebuah nilai yang ikut membangun negara ini ratusan tahun silam
Sebelum kembali ke North Carolina hari itu,  satu yang tidak boleh dilewatkan adalah mampir ke "gudang" untuk berbelanja souvenir dengan harga super murah. Kawasan ini sebetulnya tempat penyimpanan barang/gudang tetapi pemilik gudang sekaligus membuka toko di gudangnya. Barang-barang yang dijual sama dengan yang dapat anda temui di seputaran Capitol Building dan kawasan wisata sekitar Washington DC tetapi tentu saja harganya jauh lebih miring. Malah kalau melakukan transaksi pembelian dalam jumlah lebih dari 3 buah mendapat diskon khusus. Sudah murah, dapat diskon pula! waaah bikin kalap orang Indonesia deh! hahhahaa...berita buruknya, konon kawasan gudang ini akan dipindahkan dari lokasi sekarang. Sekali lagi, keberuntungan masih menyertai kami. Well, sekalipun trip hari ini ke Washington begitu padat dan singkat tetapi tidak mengurangi makna mendalam yang didapatkan. Selalu menarik untuk mempelajari sejarah baik itu dari negara sendiri maupun negara lain. Sebagai penggemar wisata sejarah, bagi saya perjalanan ini sangat memuaskan.




Selasa, 22 Juli 2014

Serunya perayaan hari Pahlawan di kota tua Williamsburg



Gereja tua di Williamsburg
Hari Pahlawan/Memorial day di Amerika Serikat diperingati setiap tanggal 26 Mei. Hari Pahlawan termasuk salah satu hari nasional di Amerika Serikat yang dirayakan secara besar-besaran untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang berjasa pada negara. Salah satu kota yang mengadakan perayaan hari Pahlawan dengan atraksi adalah kota Williamsburg di Negara bagian Virginia. Saya beruntung berada disana saat Williamsburg merayakan hari Pahlawan. Williamsburg sendiri adalah kawasan kota tua yang sangat bersejarah seluas 301 hektar bak museum yang terbuka. Disini terdapat kawasan yang dikenal dengan nama Colonial Williamsburg, yang merupakan tempat wisata favorit para turis domestik maupun mancanegara. Setiap bangunan yang ada di Colonial Williamsburg termasuk bangunan yang dilindungi atau menjadi cagar budaya. Bangunan-bangunan tersebut bergaya colonial Inggris. Sejarahnya orang-orang Inggris mulai berdatangan ke Amerika Serikat dan menetap di Jamestown, Virginia pada tahun 1607. Tahun 1770-an tigabelas koloni Inggris mencapai jumlah dua setengah juta penduduk dan terus berkembang dengan pesat. Konflik panas antara Inggris dan Amerika dimulai pada bulan April 1775, dimana setelah melalui Revolusi Amerika, koloni-koloni membebaskan diri dari kerajaan Britania Raya pada tanggal 4 Juli 1776 dan mendirikan Amerika Serikat. Selama abad ke-18 Williamsburg menjadi pusat pemerintahan, pendidikan dan budaya dari koloni Virginia.

Tradisional Market
Konon katanya kawasan ini terkenal juga dengan penampakan hantu-hantu dari masa lalu. Seringkali turis yang berkunjung melihat penampakan orang-orang dengan pakaian ala colonial Inggris berada di taman atau didalam bangunan. Penampakan ini bukan sekedar mitos, meskipun tidak mengganggu namun para hantu tidak anti kamera sehingga turis kerap mendapatkan penampakan mereka meskipun tidak terlihat jelas.
Tidak ada biaya tiket untuk memasuki area kota colonial Williamsburg. Setiap wisatawan bebas berkunjung untuk melihat-lihat aneka bangunan tua cantik yang terawat apik atau anda juga bisa mampir ke toko-toko cinderamata dengan aneka barang bercirikan kota colonial atau bahkan sekedar duduk-duduk cantik sambil minum kopi dan menikmati lalu lalang pengunjung. Bagi anda yang menyukai wisata sejarah dan landscape, kota colonial Williamsburg wajib anda masukan kedalam agenda wisata. Anda juga bisa berbelanja di tradisional market yang hanya buka hingga jam 2 siang saja. Beberapa toko memberikan voucher untuk berbelanja di tradisional market apabila melakukan transaksi di toko mereka. Unik ya, keberadaan toko-toko tidak mematikan pasar tradisional.

Parade Marching Band
Saya cukup beruntung, hari itu dalam rangka memperingati hari Pahlawan kota colonial Williamsburg mempersembahkan marching band yang dibawakan oleh anak-anak remaja, uniknya mereka mengenakan kostum Inggris. Tidak hanya itu, disini anda bisa berfoto dengan kereta kuda bak kereta kencana kerajaan dengan kusir yang berpakaian ala prajurit Inggris lengkap dengan rambut palsu bergelombang yang dikuncir ke belakang. Anda juga bisa menyewa kereta kuda untuk berputar-putar dikawasan Williamsburg, tetapi berjalan kaki sambil menikmati berbagai bangunan tua bersejarah merupakan keasyikan yang berbeda. Bangunan-bangunan bersejarah di Williamsburg ada yang difungsikan sebagai toko maupun kafe tetapi banyak juga yang dibiarkan kosong meskipun demikian tetap terlihat apik. Jika anda berkunjung ke Williamsburg, jangan lupa mampir ke toko souvenir "Everything Williamsburg". Toko cantik yang kental dengan nuansa kolonial Inggris ini menjual aneka cinderamata dengan kualitas yang bagus.  Ohya asiknya lagi, Williamsburg menawarkan berbagai atraksi yang berbeda-beda setiap season. Jadi musim apapun anda berkunjung akan selalu ada atraksi menarik untuk anda nikmati disini.

Toko Favorit saya, Everything Williamsburg
Selain berbagai atraksi dalam rangka memperingati hari Pahlawan, warga Amerika Serikat dan wisatawan juga dimanjakan dengan adanya memorial big sale yang memberikan diskon besar-besaran sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan. Beberapa toko bahkan memberikan diskon khusus untuk veteran tentara ataupun keluarga tentara. Menarik ya bagaimana Amerika Serikat memberikan atensi dan apresiasi yang tinggi untuk orang-orang yang berjasa terhadap negara. Kawasan berbelanja favorit para turis dan bahkan warga Amerika sendiri di wilayah ini adalah Williamsburg Outlet Mall. Kawasan ini dikenal dengan barang-barang brandednya yang dijual dengan harga miring. Berada di kawasan Williamsburg Outlet Mall disaat Memorial big sale bak mendapat durian runtuh! merk-merk ternama seperti Guess, Nine West, Kate Spade, Nike, Reebok, Calvin Clain, Zara, Mango, Seiko dan masih banyak lagi berlomba-lomba memberikan diskon hingga 70% saat periode Memorial big sale yang biasanya digelar hanya 1 minggu saja. So, buat anda yang punya rencana berkunjung ke Amerika Serikat, upayakan tanggal kunjungan anda tepat mengenai periode Memorial Big Sale ya, selain itu bulan Mei cuacanya relatif adem jadi enak banget buat dipakai berjalan kaki menikmati kesegaran udara dan hangatnya sinar matahari yang tidak menyengat. Alternatif lainnya bisa juga di bulan November saat perayaan Thanks Giving dimana warga Amerika dan wisatawan kembali dimanjakan dengan big sale. Tuh baik kan saya kasih bocoran ini. Nah, tunggu apalagi, segera rencanakan perjalanan anda ke Amerika Serikat, have fun go mad!