My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2015

KULINER OTENTIK KHAS JOGJA - MANGUT LELE MBAH MARTO

Bicara jalan-jalan gak puol rasanya kalau gak icip-icip makanan lokal khas setempat. Jogjakarta salah satu kota yang terkenal dengan makanan kampung yang otentik rasanya, unik tempatnya dan gak nyekik harganya. Berikut referensi beberapa tempat yang sudah dicek langsung ke TKP dan dicicipi rasanya.

MANGUT LELE MBAH MARTO di Bantul.
Meski terletak didalam gang kecil yang hanya muat untuk dua orang berjalan beriringan, gak membuat warung mangut lele Mbah Marto ini sepi dari pengunjung. Seperti pepatah, ada gula ada semut. Makanan enak meski tempatnya nyusahin banget dan gak mudah tetap aja dicari orang (termasuk saya). Tampak depan warung Mbah Marto kelihatan segar dengan tembok berwarna hjau. Yang unik, pada salah satu tembok tetangga berjejer poster-poster iklan mulai dari Bank BNI sampai iklan perumahan. Hebat ya justru bank nasional sekelas BNI dan perumahan lokal memasang iklan mereka di warung Mbah Marto ckk...ck..ck...

Melangkah masuk kedalam warung, tampak meja dan kursi  sederhana. Gak ada bell boy yang membukakan pintu dan menyambut pelanggan datang dan gak juga pelayan datang membawakan buku menu. Semua serba apa adanya dan bener-bener self service. Jangan berharap dengan duduk manis kemudian pelayan datang, di warung Mbah Marto, pelanggan langsung masuk ke dapur. Membaui harumnya nasi, sayur gudeg, krecek dan mangut lele yang dimasak dengan tungku dan kayu bakar. Di dapur seluas 4x5 meter aneka masakan terhampar diatas bale kayu beralaskan tikar. Pengunjung dipersilahkan mengambil sendiri nasi dan teman-temannya sesuai kebutuhan dan selera masing-masing. Terkadang Mbah Marto hadir di dapur tuanya, duduk-duduk sambil ngobrol dengan pegawainya yang sudah lama mengabdi. Jangan berharap bisa selfie bareng Mbah Marto karena beliau akan ngibrit sambil menggerutu kalau ada pengunjung yang mau memotret dirinya. Meskipun di warungnya banyak foto-foto Mbah Marto dengan para seleb hits yang mampir makan mangut lele ditempatnya, Mbah Marto sebetulnya enggan untuk difoto. Jadi, jangan mekso lho yooo....kita hormati keengganan beliau untuk di foto.

Anyway, rasa mangut lele Mbah Marto memang luar biasa...otentik, dan bumbunya meresap sampai kedalam daging. Sayur gudeg, sambal krecek dan arehnya benar-benar pas di lidah. Tidak terlalu manis. Keseluruhan menu terasa saling melengkapi keberadaannya. Nasi putih yang mengepul hangat dan menguarkan harum aroma kayu bakar seakan menjadi pengikat menu-menu yang ada. Semua terasa pas baik komposisi maupun rasanya. Kelezatan rasa mangut lele seakan menjadi pemaaf atas kursi makan butut yang reyot dan joknya somplak disana sini serta udara panas tanpa ampun yang menggemboskan keringat dari balik pakaian seperti sauna.

Mbah Marto dengan mangut lelenya telah mematahkan berbagai prinsip-prinsip pemasaran yang ada. Tanpa iklan, tanpa modernisasi, tanpa jaga image dengan perabot yang layak. Sing penting uenak!

Sabtu, 26 Oktober 2013

5 Kuliner Wajib di Vietnam

Berwisata ke Vietnam, belum lengkap rasanya tanpa mencicipi makanan khas setempat. Berikut ini beberapa kuliner di kota Ho Chi Minh yang patut anda coba.

Beef Pho, Resto Pho 2000
Pho
Salah satu makanan khas Vietnam yang terkenal adalah Pho (dibaca: Feu). Makanan sejenis mie dari tepung beras ini diolah dengan kuah berkaldu dengan irisan daging dan sayuran diatasnya. Jenis-jenis kuah kaldu yang tersedia antara lain sapi, ayam, babi dan seafood. Orang Vietnam sangat menyukai daun mint, hampir disetiap masakan daun mint selalu diikutsertakan. Pho berkuah kaldu yang gurih menjadi segar dengan paduan daun selada, kol, tauge dan mint.

Di kota Ho Chi Minh ada satu tempat yang sangat terkenal untuk menikmati Pho. Tempat ini merupakan salah satu dari  307 hal yang wajib dilakukan oleh wisatawan saat berada di Ho Chi Minh versi Lonely Planet. Restaurant Pho 2000 menjadi terkenal namanya karena pernah disinggahi oleh Presiden Bill Clinton saat berkunjung ke Ho Chi Minh. Jika beruntung, anda bisa mendapatkan meja dimana Bill Clinton duduk untuk menikmati Pho. Restaurant ini terletak disamping Ben Thanh market, tempat yang terkenal untuk belanja oleh-oleh Vietnam.

Banh Mi
foto diambil dari foodpeoplewant.com
Pengaruh Perancis selain terlihat dari gaya bangunan yang Eropa neo-klasik juga ikut mempengaruhi kuliner Vietnam. Banh Mi adalah sejenis roti sandwich ala Vietnam atau biasa disebut juga Vietnamese Sandwich. Terbuat dari roti keras sejenis roti baquette yang didalamnya dioleskan mentega, kornet, disisipkan sayuran (daun mint sudah pasti ada) dan suiran daging ayam. Selain suiran daging ayam, ada juga banh mi yang berisi irisan daging babi. Banh mi dapat ditemukan dipinggir jalan dekat pasar Ben Thanh. Roti ini cocok untuk sarapan pagi ataupun ngemil di sore hari. Sebuah banh mi dihargai 20,000vnd. Maaf saking enaknya banh mi ini, saya selalu khilaf untuk mengambil gambarnya sebelum dinikmati. Jadi saya ambil gambarnya saja ya dari internet sebagai gambaran.

Coconut Prawn
fenomenal banget ya penampakannya :-)
Bisa anda temukan di seputaran Ben Thanh market. Biasanya mereka buka malam hari. Semacam seafood kaki lima begitu. Udang segar yang ukurannya besar-besar dijejerkan mengelilingi kelapa yang sudah dibuka bagian atasnya. Sementara itu bagian bawah kelapa diberi parafin untuk membakar kelapa lengkap dengan air didalamnya dan jejeran udang yang berubah warna menjadi oranye saat matang. Setelah udang matang, pramusaji dengan cekatan mengupas kulit udang dan menceburkan udang-udang tersebut kedalam air kelapa yang sudah panas. Rasanya? hmmmm.... gurih dan segar. Jangan khawatir, disana higenitas terjaga dengan baik meskipun makan di kaki lima. Pramusajinya melengkapi tangan mereka dengan sarung plastik jadi terjaminlah kebersihan sang udang saat dilucuti dari kulitnya.

Vietnamese Spring Roll
foto diunduh dari fooddat.com
Ini makanan saya favorit nomor 2 setelah Banh Mi. Bentuknya seperti lumpia basah yang isinya bisa beraneka macam. Spring roll ala Vietnam ini uniknya dibungkus dengan kertas khusus yang disebut "Rice Paper". Disetiap variasi isi spring roll, daun mint selalu eksis. Saya paling suka spring roll veggie alias sayuran.Ada juga yang diisi dengan udang, pork atau ayam. Tapi saya lebih suka yang pure sayur mayur. Biar langsing ala gadis Vietnam hihihihii *ngarepyanggakmungkin*. Sebagai kawan pendamping, spring roll dimakan dengan saus tamarind yang rasanya asem manis aduhai, pokoknya bikin nagih deh rasanya. Daaaann...seperti biasa, apa-apa yang jadi makanan favorit selalu khilaf untuk diabadikan. Menyaksikan langsung cara pembuatan spring roll dari awal hingga akhir sudah bikin air liur saya naik turun gak tahan. Ritual dimulai dengan membasahi selembar rice paper kemudian dengan cekatan pramusaji menata aneka sayuran dan dalam hitungan detik saja tarraaaa... sepotong spring roll siap dinikmati. Nah, mana sempet foto dulu, wong dari awal aja udah gak tahan liatnya hahahahaa....Tapi tenaaangg...saya berhasil mendapatkan gambar yang pas dengan spring roll kesukaan saya meskipun ada isi udangnya. Oya pesen penting nih, spring roll lebih enak yang basah daripada yang digoreng. Lebih fresh rasanya.

Elephant Fish
Cadas ya masbro tampilannya
Menu ini saya cicipi sewaktu ambil paket tur sungai mekong. Waktu pertama kali ditawari menu ini, gak kebayang seperti apa bentuknya ikan sebesar gajahkah atau ikan yang badannya berbentuk gajah mini? daripada mati penasaran (oke, ini agak lebay dikit), akhirnya diputuskan untuk mencoba pesan saja. Saat menu dihidangkan, oalaaahhh ini sih kalo di Indonesia namanya gurame goreng kering masbro. Tetapi setelah saya perhatikan baik-baik, sepertinya ini jenis ikan yang tidak umum karena sisiknya besar-besar sekali. Bisa dilihat penampakan sisiknya setelah digoreng kering sebagian berjatuhan dan sebagian lagi masih menempel pada tubuh ikannya. Rasanya gurih tapi agak-agak bau tanah karena ini ikan yang hidup di sungai Mekong. Saus tamarind kembali menjadi kawan pendamping setia si menu yang punya nama bombastis ini.


Nah selamat berburu kuliner di Vietnam ya. Satu lagi, jangan lupa mampir ke kedai kopi yang ada di pinggir-pinggir jalan. Ada yang terkenal tuh namanya Trung Nguyen. Menyajikan kopi dengan drip vietnam yang unik. Saya aja sampai beli dripnya padahal bukan penikmat kopi cuma seneng aja lihat bentuknya yang unik. Selamat berwisata kuliner. Lupakan diet, nikmati hidup! :))

Minggu, 10 Maret 2013

KULINER DI SEMARANG YUK!

2 bulan terakhir ini saya lagi sering bolak balik ke kota Semarang untuk tugas kantor. Biarpun tugas kantor, tetep dong disempetin curi-curi waktu untuk sekedar wisata kuliner atau wisata yang deket-deket. Intinya i want to make the best of my trips. Harus selalu ada sesuatu yang baru untuk diceritakan disini.
 
Sebelum berangkat ke Semarang, daftar tempat wisata kuliner dari berbagai sumber sudah ada ditangan. Tapi ya itu tadi, karena ini bukan dalam rangka liburan jadi gak bisa maksimal kulinerannya. Tapi paling enggak saya berhasil ke tempat-tempat berikut ini.
 
Rumah Makan Cianjur
Meski namanya rumah makan Cianjur tapi ini letaknya di kota lama Semarang, tepat diseberang gereja Blenduk yang terkenal itu. Suasana rumah makan yang sudah lama berdiri di kota lama Semarang ini menjadi langganan para pejabat ataupun pelancong kota. Suasananya bersetting jaman kolonial dengan sentuhan jawa. Bersih dan apik sekali, terlihat perawatan rumah makan ini betul-betul dijaga. Menu andalannya adalah ikan bakar dan ayam goreng. Yang tidak kalah seru adalah es campurnya, segeerr banget. Pas untuk diminum siang hari sehabis berjalan-jalan disekitar kota lama. 

Istana Wedang
Letaknya strategis banget diseberang hotel Crown Plaza, jadi saya tinggal menyeberang jalan saja. Bahkan sebelum berangkat saya bisa mengintip dulu dari jendela kamar apakah tempat itu sudah buka atau belum hehehehe. Menu disini yang saya sangat rekomendasikan adalah wedang ronde (sudah pastilah ya) dan galantin. Wedang rondenya alamaaakkk legiiit bener! ketan legit berisi kacang tanah yang ditumbuk halus bercampur gula pas bener disandingkan dengan air jahe yang tidak terlalu manis. Intinya, maknyus! sedangkan menu satunya lagi adalah galantin, sejenis bistiknya orang jawa yang rasanya manis. Buat yang suka pedas, bisa nambahin saus sambal atau lada bubuk biar rasanya lebih mengigit. Galantin adalah daging cincang yang dibentuk seperti rolade dengan dimensi kotak disajikan bersama kentang goreng dan sayuran wortel buncis. Rasanya manis gurih. Sedap!
 
Bakmi Jawa
Hanya beberapa langkah dari istana wedang, tempat bakmi jawa ini eksis berdiri. Setiap malam kalau saya intip dari kamar, warung bakmi jawa ini gak pernah sepi pengunjung. Berdasarkan observasi tersebut dan rekomendasi dari rekan lokal, akhirnya malam itu saya mencicipi makan di warung bakmi jawa. Seporsi bakmi nyemek ternyata uenak tenaaaan! pedasnya yang dikategorikan medium oleh si pelayan terasa pas dilidah dan perut saya. Hangat dan gurih kuah mie jawa yang diberi telur itu mampu membuat saya mengusap-ngusap perut kekenyangan.
 
Es Krim Toko Oen
Restaurant Oen ini sudah berdiri sejak tahun 1976 dan masih eksis hingga sekarang, luar biasa.... menu andalan di resto ini adalah es krimnya yang konon sudah melegenda di kota Semarang. Tanpa basa-basi saya memesan 'sony boy" yang tampilannya adalah 3 scoop es krim dengan selembar kue lidah kucing sebagai garnishnya. Aiihh memang pas bener makan es krim di kota Semarang siang hari. Udara diluar yang terasa panas mengigit kulit (agak lebay) terasa jadi adem dan sejuk begitu sony boy masuk dalam suapan. Suasana toko Oen juga nyaman banget buat duduk-duduk santai bareng temen-temen. Dekorasi toko yang masih berkesan jadul namun bersih bikin kita betah duduk disana. Sayangnya saya gak bisa lama-lama menikmati sony boy karena harus mengejar pesawat sore itu.
 
Tahu Gimbal
Mendengar kata gimbal, yang ada diotak saya adalah keriting. Jadi yang terbayang adalah tahu yang entah diapakan cara pembuatannya yang pasti tampilannya keriting. Ternyata pikiran tersebut harus diedit sodara-sodara. Tampilan tahu gimbal yang sudah disajikan dalam piring saji adalah tahu goreng yang sudah dipotong-potong, dicampur lontong, bakwan udang, telur goreng dan sayur toge kemudian disiram bumbu kacang. Rasanya mirip-mirip ketoprak jakarta. Konon katanya tahu gimbal yang terkenal adanya di daerah simpang lima Semarang.
 
Tahu Bakso
Hasil investigasi dengan supir rental menyebutkan tahu bakso sebagai salah satu penganan khas Semarang selain tahu pong dan tahu gimbal sebagai kuliner favorit dari family tahu-tahuan. Tahu bakso adalah tahu goreng yang setengah bagian kosong dari tahunya diisi bakso, dimakan dengan cabe rawit atau tanpa cabe rawit bagi yang tidak suka pedas. Sebungkus tahu bakso isi 6 potong kecil-kecil cuma Rp3,500 aja. lumayanlah buat cemil-cemil dijalan.
 
Kepala Kakap Pak Untung
Ini kali kedua saya mencicipi kepala kakap pak Untung di dua tempat yang berbeda. Pertama kali mencoba di resto utama didaerah gombel dan yang kedua di jalan Gajah Mada. Gak ada perbedaan rasa masih tetep maknyuusss!! yang membedakan antara cabang dan utama hanya variasi menu saja. Di resto utama menunya lebih komplit daripada yang di Gajah Mada. Tapi soal rasa terjaga standarisasinya. Kepala ikan tanpa santan terasa seger banget kuahnya. Paduan jeruk lemon dan daun jeruk purutnya menambah kesegaran citarasa kepala kakap. Ini wajib lho untuk dicoba kalau kalian ke Semarang!
 
Pisa Cafe
Tempat makan yang tergolong baru di Semarang. Dengan konsep reto indoor dan outdoor. Kalau cuaca lagi cerah bersahabat, duduk di teras bagian belakang lebih mengasikan. Pemandangan kota Semarang di malam hari terlihat cantik. Mirip tempat-tempat makan yang ada di puncak bogor atau setiabudi bandung. Menu disini andalannya adalah menu italia. Cuma, maaf aja nih saya pernah kecewa berat pesen pizza-nya. Sudah hampir 2 jam nunggu pesanan gak dateng-dateng dengan berbagai macem alesan. Padahal kalau memang menunggunya akan lama sekali seharusnya pelayan menawarkan customer untuk ganti menu. Setiap kali ditanya jawabnya lagi dipanggang terus, tapi gak selesai-selesai.
 
Gamma Seafood
Ohmaygaat! ini tempat makan seafood yang endang bambang gurindang sekali. Semua jenis seafood kita cobain malam itu.Mulai dari kepiting, cumi, udang dan kerang. Gak ada olahan yang mengecewakan, semuanya enak dan habis bersih sampai gak bisa nafas akibat keliaran tangan dan mulut hahahahaa. Pokoknya ini tempat recommended bangfet deh. Bersih, gak lama nunggunya dan hasil olahannya pun pas dengan lidah pada umumnya.

RM. Selera Indonesia
Sesuai dengan namanya, masakan disini benar-benar selera Indonesia. Suasana rumah makan yang hommy bikin betah berlama-lama. Menu-menu yang disajikan seluruhnya masakan ala Indonesia yang tradisional. Untuk minumannya ada beras kencur yang rasanya unik apalagi kalau ditambahkan es batu. Rupanya RM. Selera Indonesia cukup dikenal sebagai tempat kuliner wajib di Semarang. Terbukti dari buku tamu yang dipenuhi tanda tangan dan foto berbagai selebriti yang pernah mampir kesana. Serius deh, kalau kamu asli Indonesia, wajib coba rumah makan ini .

Lumpia Mbak Lina
Semarang dikenal sebagai kota dengan maskot kuliner Lumpia. Disetiap penjuru kota Semarang lumpia mudah sekali ditemui dan semua mengklaim dirinya sebagai lumpia paling enak. Salah satu daerah dengan jajaran lumpia ngetop ada di Jalan Lombok, Mataram dan Pemuda. Lumpia Mbak Lina terletak di Jalan Pemuda. Satu buah lumpia basah (belum digoreng) dibandrol dengan harga Rp10,000. Satu kotak bisa isi 15 buah atau 30 buah.
 
Nah segitu dulu yaa referensinya. Nanti kalau ke Semarang lagi saya udah cita-cita nih mau wisata kuliner ke pasar Semawis. Mudah-mudahan tercapai biar bisa sharing lagi disini.

3 KULINER WAJIB DI SOLO

Saya termasuk orang yang ogah rugi kalau lagi traveling. Biasanya semua serba ingin didatangi dan jadwal sudah tersusun padat merayap dari pagi sampai tengah malam. Jadwal teresbut cuma panduan aja buat saya, gak mesti diikuti secara kaku, fleksibel aja kalau ternyata ada tempat yang kurang sreg biasanya dilewatin atau hanya sebentar saja disana. Namun yang pasti, disetiap kali perjalanan saya selalu menyempatkan mencicipi kuliner khas setempat daerah yang saya sambangi. Rugi rasanya kalau tidak mencoba. Terlepas dari nantinya suka atau tidak yang penting sudah mencoba. Nah berikut ini ada 3 kuliner khas Solo yang waaaajjiiib hukumnya untuk anda coba saat berada di kota Solo.

1. Serabi Notosuman
Berbeda dengan serabi pada umumnya yang berbentuk lingkaran, serabi Notosuman berbentuk seperti dadar gulung. Digulung dalam daun pisang membuat serabi ini semakin harum wanginya. Biasanya serabi dijual dalam keadaan masih panas atau hangat. Sekotak serabi ada yang berisi 15 potong dan ada yang 30 potong. Rasa serabi ada 2 macam, yaitu coklat dan kelapa.
 
2. Timlo Sastro
Terletak di dalam pasar Gede Solo, Timlo ini memang wajib anda kunjungi meskipun letaknya terpencil didalam pasar. Kuah timlo yang bening terasa segar dipadu dengan potongan daging dan sosis solo. Porsinya pun pas sekali untuk sarapan pagi. Semangkok timlo dan sepiring nasi siap mengganjal perut anda untuk berkeliling kota Solo sampai siang nanti.
 
3. Nasi Liwet Wongso Lemu
Tempat ini buka sampai malam hari. Nasi dengan campuran sayur labu bersantan dilengkapi ati dan ampela ayam plus selembar kerupuk gendar. Dimakan selagi panas sangat cocok untuk wisata kuliner malam hari. Keunikan warung nasi liwet wongso lemu ini adalah sinden-sinden yang siap menghibur pengunjung selagi menyantap kuliner terasa semakin mengasikan. Duduk lesehan mendengarkan sinden membawakan lagu-lagu daerah sambil menyantap sepincuk nasi liwet wongso lemu membuat saya betah berlama-lama duduk disana.
 
Karena saya cuma punya waktu sehari di Solo, belum banyak referensi tempat makan yang bisa saya berikan. tunggu perjalanan saya berikutnya ke Kota Solo lagi ya. Rencananya saya pengen banget nongkrong malam di pasar ngarsopuro atau wisata kuliner di galabo.

Rabu, 14 Maret 2012

Romantisnya Indische Koffie, Yogyakarta

Suasana romantis
Sewaktu saya ke Yogya secara tidak sengaja menemukan kafe baru bergaya kolonial ini. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan tempat ini.

Indische Koffie, resto yang hadir dengan citarasa warisan budaya. Resto yang terletak didalam Benteng Fort Vredeburg, Yogyakarta mengusung konsep klasik elegan yang terinspirasi gaya tempo dulu.

Kafe yang terletak didalam benteng Vredeburg ini baru beroperasi dua bulan terakhir. Berada didalam kafe ini serasa terbawa ke masa lalu. Bagian dalam kafe ini beragaya tempo dulu dengan banyak menggunakan furniture kayu. Pada bagian dinding terdapat beberapa foto-foto lama berwarna hitam putih. Piano hitam yang terletak didekat meja bar membuat makan malam terasa lebih romantis.

Menurut Asisten Chef, Apri, Indische Mixed Rice adalah menu utama andalan dari Indische Koffie. Menu ini terdiri atas tiga jenis nasi (nasi kuning, merah dan putih) dilengkapi dengan potongan daging empal, ayam goreng dan tiga jenis sate (sate ayam, sapi dan kambing). Sebagai hidangan penutup, Chef merekomendasikan Ontbijkoek Pudding. Kue Ontbijkoek yang berbalut agar-agar susu disiram dengan vla dan taburan gula palem. Irisan buah strawberry, kiwi dan daun mint menambah cantik penampilan puding ini. 

Untuk minuman tepat rasanya untuk merekomendasikan Gypsi Temple dan Kiwi Frizz. Malam itu saya mencoba Ontbijkoek Pudding, Calamary dan secangkir Indische Chocolate yang terbuat dari campuran cokalt Swiss dan coklat putih yang rasa coklatnya lembut membelai lidah. Harga yang dibandrol untuk makanan disini berkisar dari Rp16,000 - Rp110,000. Untuk minuman mulai dari Rp5,000 - Rp26,000. 

Dibagian outdoor, pengunjung kafe juga dapat bersantai dihalaman ataupun selasar. kafe ini juga dilengkapi dengan koneksi Wifi, pas banget kan untuk bersantai-santai sambil mengakses internet. Informasi yang saya dapat, rencananya kafe ini baru akan melakukan Grand Opening di bulan April. Indische Koffie buka setiap hari dari Senin hingga Jumat pukul 08.00wib - 22.00wib. 

Semoga seiring bertambahnya jumlah pengunjung, kafe ini buka lebih lama lagi di akhir pekan. Kalau Anda berkunjung ke Yogyakarta, mampir ke kafe Indische Koffie tidak akan merugikan.

Tulisan ini dimuat di detikTravel tanggal 23 Februari 2012

Selasa, 26 April 2011

Wisata Kuliner ala Anak Kost

Pernah merasakan jadi anak kost? hehehe mungkin ada yang pernah dan mungkin juga ada yang belum pernah sama sekali merasakan jadi anak kost. Diluar stigma bebas yang melekat pada anak kost, sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi sisi positif sebagai anak kost, salah satunya yaitu 'kemandirian'.


Tongseng
 Mandiri dalam segala hal termasuk mencari makan. Efek sampingnya bagus juga, saya dan teman-teman senasib sepenanggungan menjadi kreatif dalam berburu tempat-tempat makan yang murah meriah dan enak. Mulai dari sekitaran tempat kost sampai yang agak jauh. Tempat makan yang terdekat dengan tempat kost yang berjarak hanya beberapa meter dari kantor adalah Tongseng. Tempatnya persis disebelah PT. Henkel - Cognis di Jalan Raya Jakarta Bogor, Cimanggis. Cuma sepetak ruang dengan beberapa meja, disebelahnya bengkel motor yang seringkali berisik meraung-raung disaat pelanggan sedang makan. Hehehehe anggap aja makan diiringi live music aliran cadas :p. Soal rasa, beuuh...menurut saya, ini tongseng yang paling enak dijamannya. Cara membuatnya masih menggunakan anglo, membuat tongseng jadi khas wanginya. Disini pertama kali saya mencicipi dan jatuh cinta dengan tongseng.

Kalau malam tiba, biasanya kami anak-anak kost ramai-ramai makan pecel lele/ pecel ayam yang terletak persis didepan rumah kost ibu Haji disisi Jalan Raya Jakarta Bogor, Cimanggis. Duduk ramai-ramai sambil ngobrol ngalor ngidul, bertukar cerita meski berbeda kantor. Sungguh suasana yang sekarang kok jadi ngangenin ya? bosan dengan pecel ayam/pecel lele bisa pindah ke Chinese Food Anggrek di seberang jalan atau melipir ke Soto Betawi bu Haji didekat gang Mesjid, persis di sebelah optik.


Gado-gado

Jam makan siang kantor biasanya sering juga digunakan untuk ajang wisata kuliner dengan rekan-rekan. Ada Gado-gado Yanmar, begitu kami menyebutnya. Disebut Gado-gado Yanmar karena letaknya tepat di seberang Pabrik Yanmar. Tempatnya cukup representatif, rumah makan yang cukup besar. Yang hits disini gado-gadonya, tapi selain itu ada juga menu masakan lain yang rasanya juga enak. Harganya juga gak mahal-mahal banget. Paslah untuk ukuran kantong anak kost. Ada juga Gudeg Yogya di Jalan Radar Auri, letaknya persis diseberang perumahan Permata Puri Cibubur. Tempatnya nyaman banget buat kongkow-kongkow. Gudeknya itu loch...ya ampuun.. aseli banget cita rasa Yogyanya. Paket nasi gudeg komplit adalah nasi, sayur nangka/ gudeg, ayam opor/goreng (sesuai request), krecek, ati+ampela goreng, telur pindang dan terakhir disiram kuah arehnya yang berwarna putih. Mankyeesss banget! minumnya es lidah buaya. Rasanya gak kepengen balik lagi kekantor hehehehe... Kadang kalau lagi malas keluar kantor, saya cukup telpon untuk minta di delivery. Selain itu ada tempat makan Mie Ayam enak di dekat PT. Lassale, sayang saya lupa namanya. Pangsit basahnya yummie deh.

Gudeg Yogya

After office hour menjadi waktu yang paling asik untuk berburu tempat makanan yang agak jauh, karena tidak terbatas oleh jam kantor. Ada Tongseng dan sate di simpang depok (tongsengnya masih lebih enak yang di Jalan Raya Bogor menurut saya), Bale Air di Jalan Radar Auri, Ayam Penyet di Kelapadua, Depok yang sambalnya luar biasa panas diperut dan dibibir. Dan masih banyak lagi tempat makan disepanjang Jalan Raya Jakarta Bogor dan seputaran Cimanggis, Cibubur hingga Cijantung yang menjadi obyek sasaran kami para anak kost. Demi kebersamaan dan rasa enak, kami rela menjelajah tempat-tempat yang bisa memanjakan lidah. Semoga semua tempat-tempat yang pernah saya singgahi masih eksis hingga kini, semakin maju usahanya dan tetap tidak berubah cita rasanya. Kapan-kapan napak tilas aahh!