My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Rabu, 14 Maret 2012

Air Terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang Kencana

Air terjun Sri Gethuk/ Slempret
 Sejak dari Bogor saya merencanakan untuk mengunjungi air terjun Sri Gethuk atau disebut juga air terjun Slempret yang terletak di daerah Playen, Kab. Gunung Kidul sekitar 40km dari pusat kota Yogyakarta. Ternyata didekat lokasi air terjun Sri Gethuk ada obyek wisata gua Rancang Kencana. Tiket masuknya sudah menjadi satu paket. Waah....ini bonus kejutan buat saya.

Dinamai Air Terjun Sri Gethuk atau Sri Ketuk karena menurut kepercayaan masyarakat setempat pada masa lalu, sering terdengar suara gamelan, yang diyakini milik raja jin Slempret yang bernama Angga Mendura. Konon, keberadaan air terjun ini merupakan lokasi pasar jin. Di malam-malam tertentu, masyarakat sering mendengar bunyi-bunyian seperti slompret dari arah air terjun itu. Tapi jika suara itu didekati, suara tersebut akan menghilang. Makanya masyarakat menyebutnya Air Terjun Slempret. 

Lokasi menuju air terjun Sri Gethuk cukup unik. Pengunjung harus menyusuri sungai dengan perahu motor. Perjalanan menyusuri sungai serasa berpetualang di alam bebas. Saya jadi teringat film Anaconda menyusuri sungai lebar dengan perahu. Diam-diam saya juga berdoa dalam hati semoga tidak bertemu buaya atau ular ditengah jalan nanti. Perahu sesekali merapat ke salah satu dinding tebing agar pengunjung bisa menikmati keindahan alam sekitarnya. Sejauh mata memandang hanya hijaunya pepohonan. Kombinasi yang asri dengan air sungai yang tenang. Saya sangat menikmati perjalanan menyusuri sungai menuju air terjun Sri Gethuk.

Air terjun Sri Gethuk sendiri terdiri dari tiga buah air terjun meluncur berjejeran dengan batu-batuan besar dibawahnya. Untuk mencapai lokasi persis dibawah air terjun, kita harus menaiki tebing terjal dan licin. Saran saya kalau kesana sebaiknya pakai sepatu yang kets atau sepatu yang tidak licin agar tidak tergelincir. 

Selesai menikmati indahnya air terjun Sri Gethuk, saya bergegas menuju gua Rancang Kencana yang memiliki keindahan tebing dengan ketinggian sampai dengan 50 meter. Gerbang masuk menuju gua ditandai dengan 2 buah batu besar dikanan dan kiri. Sekitar 30 meter dari tumpukan batu itu tampak menjulang tinggi sebuah pohon Klumpit (Terminalia Edulis) yang cukup besar dan rindang. Melihat dari bentuk dan besarnya ukuran pohon klumpit dengan bentuk akarnya yang sangat kokoh itu tentu usianya sudah mencapai ratusan tahun. Tepat dibawah pohon barulah tampak lubang yang sangat besar dengan tangga yang sudah disemen untuk masuk dan turun kedalam gua. Rimbunnya tanaman menjadikan lokasi gua Rancang Kencana tampak asri dan sejuk, namum temaramnya sinar matahari yang masuk kedalam gua membuat suasana didalam dan sekitar gua terasa nuansa mistis.

Gua Rancang Kencana
Didepan gua tampak beberapa anak kecil menyewakan senter untuk masuk kedalam lubang gua. Suasana gua yang auranya bikin bulu kuduk berdiri, membuat saya menolak manis tawaran untuk masuk kedalam lorong gua. Lagipula lorongnya sempit sekali. Saya agak phobia dengan tempat gelap dan sempit (a.k.a takut). Sempat ngobrol-ngobrol dengan bocah-bocah penjaja senter. Duuh mereka masih lugu-lugu bener... gak kenal apa itu facebook! hihihi beda bener sama anak-anak kota yang sudah sampai taraf diculik gara-gara facebookan (lhaa jadi nglantur). Anyway, buat pecinta fotografi, gua ini bagus banget untuk dijadikan lokasi pemotretan. Hasil foto-foto di gua ini terlihat artistik dan natural. 

Romantisnya Indische Koffie, Yogyakarta

Suasana romantis
Sewaktu saya ke Yogya secara tidak sengaja menemukan kafe baru bergaya kolonial ini. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan tempat ini.

Indische Koffie, resto yang hadir dengan citarasa warisan budaya. Resto yang terletak didalam Benteng Fort Vredeburg, Yogyakarta mengusung konsep klasik elegan yang terinspirasi gaya tempo dulu.

Kafe yang terletak didalam benteng Vredeburg ini baru beroperasi dua bulan terakhir. Berada didalam kafe ini serasa terbawa ke masa lalu. Bagian dalam kafe ini beragaya tempo dulu dengan banyak menggunakan furniture kayu. Pada bagian dinding terdapat beberapa foto-foto lama berwarna hitam putih. Piano hitam yang terletak didekat meja bar membuat makan malam terasa lebih romantis.

Menurut Asisten Chef, Apri, Indische Mixed Rice adalah menu utama andalan dari Indische Koffie. Menu ini terdiri atas tiga jenis nasi (nasi kuning, merah dan putih) dilengkapi dengan potongan daging empal, ayam goreng dan tiga jenis sate (sate ayam, sapi dan kambing). Sebagai hidangan penutup, Chef merekomendasikan Ontbijkoek Pudding. Kue Ontbijkoek yang berbalut agar-agar susu disiram dengan vla dan taburan gula palem. Irisan buah strawberry, kiwi dan daun mint menambah cantik penampilan puding ini. 

Untuk minuman tepat rasanya untuk merekomendasikan Gypsi Temple dan Kiwi Frizz. Malam itu saya mencoba Ontbijkoek Pudding, Calamary dan secangkir Indische Chocolate yang terbuat dari campuran cokalt Swiss dan coklat putih yang rasa coklatnya lembut membelai lidah. Harga yang dibandrol untuk makanan disini berkisar dari Rp16,000 - Rp110,000. Untuk minuman mulai dari Rp5,000 - Rp26,000. 

Dibagian outdoor, pengunjung kafe juga dapat bersantai dihalaman ataupun selasar. kafe ini juga dilengkapi dengan koneksi Wifi, pas banget kan untuk bersantai-santai sambil mengakses internet. Informasi yang saya dapat, rencananya kafe ini baru akan melakukan Grand Opening di bulan April. Indische Koffie buka setiap hari dari Senin hingga Jumat pukul 08.00wib - 22.00wib. 

Semoga seiring bertambahnya jumlah pengunjung, kafe ini buka lebih lama lagi di akhir pekan. Kalau Anda berkunjung ke Yogyakarta, mampir ke kafe Indische Koffie tidak akan merugikan.

Tulisan ini dimuat di detikTravel tanggal 23 Februari 2012

Hebohnya Cabaret Show di Jogja

ini siapa yaaa..?
Diam-diam kota Yogya yang penuh dengan seni dan sejarah budaya ini mempunyai potensi lain, seperti pertunjukan Kabaret. Tidak banyak orang yang tahu bahwa di Yogya juga ada show yang unik ini. Orang lebih banyak mengenal Thailand sebagai negara dengan pertunjukan Kabaretnya yang terkenal. Ternyata, bukan hanya Thailand sekarang Yogyakarta juga memiliki pertunjukan Kabaret yang dikemas dengan apik.

Kabaret show di Yogyakarta baru ada setahun terakhir ini, tidak heran bila banyak yang belum mengetahui pertunjukan ini bahkan yang tinggal di Yogya sekalipun. Pertunjukan yang berdurasi satu setengah jam ini mampu membius penontonnya dan membuat suasana meriah dengan aksi-aksi panggung yang heboh.

Pengisi acara berhasil membawakan lebih dari dua puluh lagu secara lip sync dengan sangat apik. Penampilan mereka makin sempurna dengan tata busana, riasan wajah dan rambut seperti artis aslinya. Dan, suasana semakin meriah saat para pemain kabaret beraksi diatas panggung bergaya bak sang artis dan menggoda para penonton. Malam itu pertunjukan dibuka oleh pemain yang menirukan gaya Ayu Ting-ting lengkap dengan para sexy dancer-nya. Setelah itu berturut-turut berbagai artis mancanegara tiruan turun ke panggung. Mulai dari Rihana, Shania Twain, Lady Gaga, Whitney Houston, Shakira, J-Lo, Jessica Simpson, dan masih banyak lagi. Suasana menjadi heboh saat maroon5 dan Chirstina Aquilera imitasi membawakan lagu Moves Like Jagger. Sang cowok yang bertelanjang dada memamerkan dada bidang dan perut six pack-nya membuat penonton berteriak histeris. Sebagian besar penonton (termasuk saya) ikut menggoyangkan tubuh dan bernyanyi. Senang sekali menemukan sesuatu yang baru dan berbeda di kota Yogya.

Ini bukan sekedar pertunjukan biasa, melainkan suatu karya seni dari anak-anak muda Yogyakarta yang memiliki bakat seni luar biasa. Untuk yang berencana berlibur ke kota Yogyakarta, menonton pertunjukan Kabaret bisa menjadi agenda yang wajib untuk anda saksikan. Pertunjukan diadakan setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 19.00wib sampai dengan 20.30wib di toko batik Mirota lantai 3, Jl. Marlioboro, Yogyakarta. Usai pertunjukan anda juga dapat berfoto bersama para pemain kabaretnya lho. Jadi, tunggu apa lagi, segera rencanakan berlibur ke Yogya dan jangan lewatkan serunya pertunjukan kabaret!

Tulisan ini dimuat di detikTravel tanggal 22 Februari 2012.

Melepas si Mungil ke Laut

Penyu hijau/ Chelonia Mydas
Siapa yang gak kenal penyu hijau yang punya nama keren Chelonia Mydas? anak-anak penyu/ Tukik kecil nan lucu itu sekarang ini banyak dijual untuk jadi binatang peliharaan. Padahal tahukah kalian bahwa dari 100 ekor anak penyu/ Tukik yang dilepas ke laut bebas, hanya 1 ekor saja yang berhasil bertahan hingga menjadi penyu hijau dewasa. Wooow berat yaa perjuangan hidupnya. Fakta ini yang membuat saya penasaran ingin banget ke Ujung Genteng untuk mengikuti prosesi melepas anak-anak penyu hijau/ Tukik ke laut bebas.

Bermodalkan hasil tanya-tanya sama mbah google, terkumpulah informasi mengenai rute, hotel, obyek-obyek wisata dan info-info lainnya. Berdasarkan informasi, rute yang tercepat ditempuh dari Bogor - Ciawi - Cicurug - Cibadak - Sukabumi - Jampang Tengah - Jampang Kulon - Surade - Ujung Genteng. Perkiraan waktu tempuh 7 jam. Rute ini menghemat waktu sampai 1,5 jam jika dibandingkan dengan rute melewati Pelabuhan Ratu. Namun apa yang terjadi sodarah-sodarah, ternyata perkiraan waktu meleset hingga mencapai 10 jam!! benar-benar memerlukan kesiapan fisik dan mental yang prima.

Berangkat dari Bogor jam 10 malam dengan maksud tiba di Ujung Genteng diwaktu sunrise. Waaahh udah kebayang aja nih indahnya pemandangan pantai Pangumbahan diwaktu sunrise. Tetapi ternyata perjalanan harus distop pukul 3 pagi sebelum memasuki daerah Sagaranten. Penduduk setempat meminta kami untuk tidak melanjutkan perjalanan karena akan melewati hutan yang sepi dan jarang rumah penduduknya. Selain itu penerangan jalanpun tidak ada sementara disalah satu sisi jalan terdapat jurang. Ya sudahlah daripada kenapa-kenapa dijalan lebih baik istirahat dulu, lagi pula pinggang udah pegel juga duduk kelamaan di mobil. Alhasil saya sempat bobo cantik selama 2 jam didalam kendaraan. Gak ada penginapan disekitar situ karena kita bener-bener berhenti di pintu masuk menuju hutan Sagaranten.

Jam 5 pagi perjalanan kami teruskan kembali. Duuhh bersyukur juga kami semalam memutuskan untuk berhenti dan istirahat. Hutannya asli gelap banget, rumah penduduknya jauh-jauh jaraknya dan disisi kiri jalan jurang yang cukup dalam. Kondisi jalannya pun luar biasa susah. Banyak kelokan tajam, menurun dan menanjak curam. Buat yang baru bisa nyetir mobil, jangan coba-coba bawa mobil sendiri ya. Bahaya!
Memasuki Surade pemandangan cantik mulai terlihat. Hamparan sawah menguning siap panen bergoyang-goyang lembut ditiup angin. Indah bangeett seperti gambar-gambar di kartu pos (eh ada gak yah?). Meskipun belum sempat mandi pagi itu, tapi pede ajah jeprat jepret disawah yang menguning.

Jam 09.00 pagi akhirnya kami tiba di pantai Pangumbahan. Finally...yeay!! ok, langkah pertama adalah istirahat dulu lempengin punggung yang sudah 10 jam merana. Sehabis sarapan pagi yang sudah sangat-sangat terlambat, kami sepakat tidur sambil menunggu waktu sore. Kebangun dari tidur jam 3 sore. Ya ampuuun pulesnyaaa hihihi abis gimana yaa cuacanya hujan deras mendukung banget buat pules.

Untuk menuju tempat penangkaran penyu hijau harus ditempuh dengan menggunakan kendaraan motor karena jalannya kecil, melewati hutan bakau dan melintasi pinggiran pantai. Bener-bener petualangan banget deh. Tempatnya sendiri berada dilokasi yang terpencil, jauh dari kebisingan. Mungkin supaya penyu-penyu dewasa bisa bertelur dan mengerami telurnya dengan damai sentosa kali ya. Sambil menunggu waktu pelepasan Tukik, kami melihat-lihat sarang penyu yang dibuat oleh pengelola konservasi. Dari satu lubang sarang penyu, biasanya terisi oleh 3 sampai dengan 5 butir telur dan 90% dari telur-telur tersebut berhasil menetas menjadi anak penyu. Setelah bertelur, penyu dewasa akan bermigrasi hingga ribuan kilometer untuk kembali bertelur di pantai yang sama. Hebat yaaa ternyata ilmu navigasi penyu lebih canggih dari GPS! Dari lokasi sarang penyu, kami beralih ke ruang tukik dimana anak-anak tukik yang berumur beberapa hari siap untuk dilepas ke laut bebas, menjadi petualang sejati. Saya sempat memegang anak penyu hijau/ Tukik. Kulit/ batok punggung mereka masih lembuuutt banget. 

Tepat pukul 17.30 semua pengunjung yang sudah menanti-nanti ritual istimewa ini bergegas menuju tepi pantai. Petugas konservasi memanggul seember penuh anak-anak Tukik untuk dilepas ke laut bebas. Seperti anak kecil yang mengikuti penjual mainan, kami semua mengikuti bapak itu dengan patuh. Sampai dipingggir pantai, masing-masing mengambil beberapa Tukik untuk dilepas ke laut. Sungguh ini detik-detik paling mengharukan. Rasanya seperti melepas seorang anak kecil bepergian jauuuuuhh sekali :( ada sedih dan gembiranya. Gembira karena mereka kembali ke habitatnya, sekaligus sedih karena dari 100 ekor tukik yang dilepas hanya 1 yang akan survive hingga dewasa 99 lainnya tereliminasi oleh alam. Ada 1 ekor tukik yang kelelahan mencapai bibir pantai dan tidak bisa dilepas ke laut. Terpaksa dia harus kembali ke ruang tukik untuk dipulihkan lagi tenaganya. Sore itu sunset di Pantai Pangumbahan luar biasa cantiknya. Aaaah betaaah deh duduk berlama-lama di pantai ini. 

Perjalanan pulang dari tempat penangkaran penyu memacu adrenalin lebih deras dibandingkan perginya. Kondisi jalan yang gelap, licin, berlumpur dan gerimis membuat kombinasi sempurna antara ngeri dan lelah. Kondisi air laut yang sudah mulai pasang membuat kami tidak bisa melintasi tepi pantai dan harus melewati jembatan yang terdiri dari batang pohon yang dipasang melintang. Terpeleset sedikit, motor bisa kecebur ke laut. Sebelum kembali ke penginapan kami sempatkan makan malam  di salah satu restaurant seafood di tepi pantai. 

Hari kedua ternyata cuaca tidak mendukung sama sekali. Sejak subuh hujan turun dengan derasnya. Hikkss...rencana ke Curug Cigangsana, Curug Cikaso dan Tanah Lot terpaksa kami batalkan. Pelajaran moral super penting, jangan bepergian ke pantai diwaktu hujan. oh ralat deh, ke alam terbuka. Tidak hanya pantai saja. Akhirnya kami sepakat untuk pulang agar tidak terlalu kemalaman tiba di Bogor.

Perjalanan pulang mengambil rute lewat Pelabuhan Ratu. Alhamdulillaaaahh..., sampai di Pelabuhan Ratu cuacanya sudah tidak hujan deras, meskipun gak terlalu bersinar banget mataharinya. Di Pelabuhan Ratu ini terkenal dengan lokasi wisata Karang Hawu. Konon karang tersebut merupakan bekas tempat memasak Nyi Ratu Roro Kidul, penguasa pantai Selatan. Hawu artinya Tungku (untuk memasak). Tidak jauh dari Karang Hawu ada Sumur 7. Menurut penduduk setempat, Sumur 7 merupakan bekas tempat pemandian Nyi Ratu Roro Kidul. Ada sebuah batu yang dinamakan batu duduk, merupakan batu tempat sang Ratu duduk disaat mandi. Sssttt...info dari salah seorang tukang foto setempat, artis Jupe sempat mandi juga lho disini (gak penting banget ya? hihihihi). Masyarakat setempat percaya bahwa Nyi Ratu Roro Kidul sampai saat ini masih hidup namun menghilang. Puas main-main dipantai, kami sempatkan makan siang sebelum kembali ke Bogor.

Perjalanan pulang menuju Bogor melewati jalan pintas Cikidang. Wooohh jalanannya cocok banget buat track rally. Berkelok-kelok, menikung tajam, menurun dan menanjak curam. Tapi pemandangannya luuaarr biasa indaaahh banget. Dibandingkan lewat jalan Raya Sukabumi yang super macet, saya lebih memilih jalur Cikidang. 

Dari Cikidang kami masuk lagi ke arah Cihideung untuk menghindari jalan Raya Sukabumi. Naaahh..., sambil menyelam minum air. Sambil melewati Cihideung, mampir dulu ke Warso Farm. Tau dong buah durian? disini rajanya kebun durian milik Bapak Warso. Perkebunan Warso selain menyediakan buah durian utuh, juga menyediakan durian dalam bentuk es krim. Jangan ditanya rasanya, teman saya aja sampai habis 2 gelas, plus sisa es krim saya ikut dihabiskan juga! Oya, selain buah durian, pak Warso mulai mengembangkan buah Naga juga sekarang ini. Waah laris manis tanjung kimpul ya pak Warso.

Sebenarnya saya masih kurang puas siihh perjalanan kali ini. Karena dari sekian banyak tempat wisata yang saya inginkan hanya 2 saja yang terlaksana. Untuk balik lagi kesana jujur, mikir panjang banget secara jarak tempuhnya benar-benar menguras fisik dan mental. Paling tidak perlu waktu libur 4 hari untuk bisa menikmati perjalanan dan wisata. Gak apa-apa, namanya juga pengalaman. Next time bisa lebih baik lagi. Yang pasti berkat perjalanan ke Ujung Genteng saya jadi punya pengetahuan tentang kura-kura hijau (Chelonia Mydas) dan yang pastinya, saya gak akan pernah mau membeli kura-kura hijau untuk dipelihara. Mereka perlu dilepaskan ke alam bebas untuk dapat mencapai dewasa dan berkembang biak supaya tidak punah. 

Selasa, 24 Januari 2012

Keindahan Curug Nangka dan Curug Luhur



Curug Nangka
Sudah lama banget gak berwisata ke air terjun Curug Nangka dan Curug Luhur yang lokasinya berada di Ciapus Bogor. Curug dalam bahasa sunda artinya adalah air terjun. Terakhir berwisata kesana sewaktu masih berseragam putih abu-abu hehehehe….
Hari Minggu (22 Jan 2012) dan hari Senin (23 Jan 2012) kemarin saya habiskan untuk menjelajah wilayah Ciapus, Kabupaten Bogor. Setelah terlebih dahulu mengunjungi Kebun Raya Bogor dan Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak, saya melanjutkan eksplorasi wisata ke Curug Nangka.
Rupanya karena long weekend, banyak orang yang berwisata ke Curug Nangka. Jalan menuju gerbang RPH Gunung Bunder yang sempit semakin menjadi susah buat parkir kendaraan. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp5,000/orang dan Rp6,000/kendaraan saya mencari tempat yang nyaman untuk parkir kendaraan.
Dari pintu gerbang menuju Curug Nangka sampai menuju lokasi air terjun, diperlukan perjalanan kaki selama kurang lebih 45 menit dengan kondisi jalan setapak dan menanjak terjal. Lumayan melelahkan bangettt… sehingga saya harus beberapa kali berhenti untuk menarik nafas. Saya berusaha menanamkan pikiran positif dengan mengingatkan diri bahwa jalan menuju pulang tidak lagi menanjak, tapi menurun! Well…lumayan berhasil usaha cuci otak yang saya lakukan. Setidaknya semangat untuk berjalan gak habis ditengah jalan.
Akhirnya setelah 45 menit berjalan menanjak, pemandangan yang dicari terlihat didepan mata. Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 20meter terdengar bergemuruh. Horeeee…sampai juga akhirnyaaa! Terbayar sudah lelah berjalan kaki menanjak terjal. Air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 20meter tampak beniiinngg sekali. Rasanya ingin mencuci muka yang sudah berpeluh keringat, tapi niat itu saya urungkan gara-gara melihat sampah disekitar lokasi air terjun. Sangat disayangkan sumber daya alam yang kita miliki tidak dijaga dengan baik. Rasanya sebeeel banget melihat sampah berceceran dimana-mana. Andai saja semua orang tertib membuang sampah pada tempatnya, lokasi Curug Nangka pasti semakin cantik. Apalagi disepanjang perjalanan menuju air terjun, masih terdapat monyet-monyet yang berkeliaran. Benar-benar masih alami sekali.
Curug Luhur
Lokasi air terjun kedua yang berada di Ciapus adalah Curug Luhur. Curug dalam bahasa Sunda artinya air terjun dan Luhur dalam bahasa Sunda artinya Tinggi. Jadi arti kata Curug Luhur dalam bahasa Sunda kurang lebih adalah Air terjun yang tinggi.
Jarak dari Curug Nangka ke Curug Luhur masih lumayan jauh. Kurang lebih sekitar 20 menit berkendaraan pribadi. Sepanjang perjalanan menuju Curug Luhur pemandangannya luar biasa sekali. Hamparan sawah hijau, pepohonan hijau yang rindang menyejukkan mata. Cocok buat terapi mata yang setiap harinya menatap layar monitor computer.
Lokasi air terjun Curug Luhur tepat berada disisi jalan raya. Tidak seperti Curug Nangka yang memerlukan perjuangan berat untuk menikmati keindahannya, Curug Nangka cukup parkir dan berjalan menuruni tangga tidak sampai 5 menit sudah bisa menyaksikan keindahannya. Padahal dulunya Curug Luhur ini paling sulit medan dan kondisi untuk mencapainya. Sebelum mengalami pembangunan menjadi water park, untuk mencapai Curug Luhur, orang harus menyusuri sungai, masuk kedalam air setinggi pinggang orang dewasa dan masuk kedalam terowongan pula. Itu sebabnya Curug Luhur sering memakan korban jiwa, disaat orang sedang berada didalam terowongan, banjir bandang dari atas air terjun meluap menutupi terowongan membuat orang terjebak didalamnya. Mengerikan. Tapi sekarang ini suasananya sudah berbeda banget. Saya sendiri cukup kaget melihat perubahan Curug Luhur yang sudah berjalan sekitar 2 tahun terakhir ini. Terowongan yang dulu sering memakan korban dibongkar. Sebagai gantinya dibuat beberapa kolam renang lengkap dengan permainan anak-anak seperti spiral, ember tumpah dan lain sebagainya. Lokasi air terjun Curug Luhur tetap dipertahankan dan airnya dialirkan ke kolam-kolam renang disekitarnya. Tidak heran, air kolam renangnya bersih, jernih dan tentu saja dingin!
Untuk berwisata di Curug Luhur, harga tiket masuk untuk satu orang adalah Rp30,000/orang dan Rp20,000/kendaraan. Agak-agak gak masuk akal ya boow harga tiket parkirnya mengingat tempat parkirnya bukan dijaga oleh provider parkir seperti Secure parking atau Eazy parking dan tempatnya pun hanya lapangan biasa aja.
Secara umum Curug Nangka lebih menarik buat saya karena masih alami. Air terjun ditengah hutan dengan pemandangan hijau disekeliling air terjun plus monyet-monyet liar dan perlu perjuangan untuk menikmatinya. Ketimbang Curug Luhur yang sudah mengalami sentuhan modernisasi menjadi water park dengan aneka permainan airnya. Hanya saja kekurangan dari Curug Nangka adalah sampah yang terlihat berceceran dimana-mana. Mungkin hal ini disebabkan karena areal Curug Nangka  juga digunakan sebagai camping ground dan para penikmat alam tersebut kurang memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Tamansari Gunung Salak


Candi Bentar
Banyak yang tidak mengetahui adanya Pura terbesar diluar Bali setelah Pura Besakih berada di kota hujan, Bogor. Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak adalah komplek Pura yang dibangun sejak 1995 dengan luas 2,5Ha. Lokasi Pura ini terletak di Kampung Warung Loak, Desa Taman Sari Kelurahan Ciapus, kurang lebih 13 KM dari pusat kota Bogor. Konon dilokasi tersebut dipercaya sebagai pusat kerajaan Pajajaran dan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi.
Dari Kota Bogor menuju arah Ciapus, jalanannya mulus seperti jalan tol. Saya tiba di wilayah Taman Sari tanpa kesulitan karena papan penanda Pura cukup jelas berada di sisi kiri jalan. Sepanjang jalan menuju Pura mata terasa segar disuguhi pemandangan alam yang hijau nan asri didukung dengan cuaca yang berhawa sejuk, hmmmm lengkaplah sudah….
Setibanya dilokasi Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Tamansari Gunung Salak, saya speechless dengan suguhan pemandangan Candi Bentar berwarna hitam dengan lilitan kain panjang berwarna kuning terang terlihat kontras dengan hijaunya alam disekitarnya. Benar-benar gak menyangka adanya candi cantik di pedalaman wilayah Bogor. Ada perasaan tenang, nyaman dan damai yang saya rasakan saat menatap Pura. Ternyata bukan hanya saya seorang yang merasakan itu, orang-orang yang saya tanyakan merasakan hal yang sama. Luar biasa….
Saya sendiri mendengar adanya Pura ini dari salah seorang rekan yang berada di Bali. Rupanya Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak ini merupakan salah satu tempat wajib untuk melaksanakan Tirta Yatra. Tirta Yatra adalah sebuah perjalanan suci  untuk bersujud dihadapan-Nya untuk memohon petunjuk dan ampunan-Nya.
Pada saat saya berkunjung kesana hari Sabtu, 22 Januari 2012, banyak masyarakat Hindu yang sedang menjalankan upacara Siwa Ratri. Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Rupanya malam sebelumnya banyak yang bermalam di Pura.

Candi Bentar
 Saya sangat terkesan dengan kebersihan Pura yang terjaga dengan rapih. Setiap pengunjung baik umum maupun pemeluk agama Hindu yang akan beribadah wajib menanggalkan alas kaki sebelum menapaki tangga menuju Pura. Khusus bagi wanita diwajibkan menggunakan selembar kain dan selendang yang diikatkan dipinggang. Kain dan selendang disediakan oleh pengelola Pura tanpa dipungut bayaran. 
Sebagai warga Bogor saya merasa bangga sekali dengan adanya Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Tamansari Gunung Salak di kota tercinta. Tidak hanya itu, saya juga bangga sekali dengan toleransi tinggi dari masyarakat sekitar Pura yang bukan beragama Hindu. Contoh nyata dari kerukunan hidup antar agama.

Sabtu, 03 Desember 2011

Hongkong - Macau

Hongkong

Victoria Peak
Liburan yang agak nekat kali ini. Dibilang nekat karena ini pertama kalinya saya mengambil cuti panjang untuk berlibur. Boleh dong ya sesekali memanjakan diri sendiri. Meskipun pada prakteknya hampir setiap malam saya mengecek email untuk memantau kerjaan. Iiiih tetep ya sob, gak bisa tenang juga liburannya. Ya sudahlah daripada gak dikasih cuti.

Hari pertama tiba di Hongkong sudah hampir tengah malam. Dari Hongkong International Airport di Lantau Island, saya pergi menuju Hongkong Island dengan menggunakan MTR (sejenis MRT di Singapura). Guest House yang saya tempati berada di area komersil yang happening banget, namanya Causeway Bay. Guest House ini diapit oleh jejeran butik-butik ternama. Berhubung teman saya mau menjemput rekannya di airport, saya dipercaya untuk keliling sekitar Guest House sendirian dengan catatan: jangan sampai hilang arah ya. Jam 11 malam di Hongkong rupanya tidak mematikan semangat hang out warga Hongkong. Semakin malam malah semakin ramai. Sepertinya abege-abege di Hongkong sudah terbiasa gaul sampai larut malam. Banyak anak-anak remaja yang dandanannya modis-modis seliweran dijalan-jalan. Seneng banget, seperti masih sore aja rasanya. Saking keasikan jalan kesana kemari, akhirnya saya tersesat! luar biasaaa.... hari pertama tiba di Hongkong langsung nyasar. Saya mencoba menyusuri jalan, mengingat-ingat lokasi Guest House tetapi gak ketemu juga. Mungkin karena sudah lelah akibat perjalanan panjang dari Bogor menuju Hongkong (alasan aja ya) dan faktor panik (ini lebih tepat) saya melintasi jalan yang sama berkali-kali. Akhirnya Tuhan mengirim seorang warga Hongkong yang baik hati untuk menolong saya mengantarkan sampai ke tempat Guest House. Gak hanya itu, Jay (semoga spellingnya betul) juga menemani saya menunggu sampai teman kembali dari airport. Alhamdulillah... makin percaya kalau kita berbuat baik pasti ada yang akan menolong disaat kita susah. Oya, selagi nyasar sempet-sempetnya lho saya mampir ke Victoria Park yang terkenal itu. Konon katanya di Taman Victoria ini setiap hari Sabtu/ Minggu penuh oleh pekerja-pekerja dari Indonesia. Suasananya seperti di Indonesia banget deh, banyak yang berbicara dalam bahasa Jawa.

Salah satu dari 50 hal yang wajib dilakukan oleh seorang traveller adalah Harbour Cruise di Pelabuhan Victoria  dari Central menuju Tsim Tsa Tsui dengan menggunakan double decker Shinning Star Fery. Sepanjang perjalanan sekitar kurang lebih 15 menit, penumpang disuguhi pemandangan gedung-gedung perkantoran di Hongkong yang menjulang tinggi. Suasananya lebih indah lagi dimalam hari karena lampu-lampu disetiap gedung menyala berwarna warni. Setiap pukul delapan malam, ada pertunjukan "Symphony of Light" dimana setiap gedung memainkan lampu-lampu gedung dan sinar laser secara bergantian. Pertunjukkan ini dinanti-nanti oleh banyak orang yang menyemut disekitar Avenue of Stars. Buat single traveller gak usah khawatir kesulitan mengabadikan keindahan pemandangan gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampunya yang cantik. Dengan membayar HK$6 sudah bisa mendapatkan 1 buah foto ukuran 7R dengan background gedung-gedung indah. Jasa tukang foto ini tersedia disepanjang Star Avenue. Mereka sudah paham banget spot-spot yang bagus untuk diabadikan sebagai latar foto.

Hongkong kota yang luar biasa padat dan dinamis sekali. Setiap orang lalu lalang dengan gerakan yang cepat. Buat orang yang bertubuh mungil seperti saya, cukup kerepotan juga mengimbangi gerakan jalan mereka yang menurut ukuran saya, bukan "berjalan" tetapi "terbang!" Meskipun begitu, orang-orang Hongkong taat banget dengan aturan, utamanya ditempat umum. Menyeberang jalan dilakukan hanya jika lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau dan tidak ada sampah dijalanan.

Selama di Hongkong untuk mempermudah transportasi, sebaiknya membeli kartu Octopus. Kartu Octopus adalah sejenis kartu yang bisa digunakan untuk naik MTR, fery, bis, kereta trem, menelefon atau bahkan membeli minuman. Kartu dengan nilai paling minimum harganya sekitar HK$150 atau setara dengan Rp180,000. Dengan kartu Octopus senilai HK$150, saya sudah bisa berkali-kali naik MTR, 3x naik fery (mumpung disini), naik bis (lupa berapa kali), naik kereta trem (2x) dan rasanya masih ada sisa saldonya tuh. Asik kan, daripada berkali-kali beli single journey ticket, merepotkan.

Selama di Hongkong, gak begitu banyak sih yang saya kunjungi. Lebih banyak mencoba berbagai macam alat transportasi disana. Mulai dari MTR, bis, feri, kereta trem dan taksi tentunya. Beberapa tempat yang sempat saya kunjungi selama di Hongkong adalah: Victoria Park (secara tidak sengaja akibat tersesat), Avenue of Stars, tempat artis-artis Hongkong diabadikan cap tangan dan nama mereka. Disini juga terdapat patung Master Kungfu legendaris, Bruce Lee. Victoria Peak yaitu tempat memandang kota Hongkong dari atas bukit. Cantik sekali pemandangannya. Lan Kwai Fong, kawasan yang happening banget untuk hangout dan cari makan. Di Lan Kwai Fong ini saya menemukan restaurant Thailand yang apik banget rasanya. Memang susah yaa kalau sudah hobi sama masakan Thailand. jauh-jauh ke Hongkong yang dicicipi malah masakan Thailand hehehee...

Dua hari berkeliling di Hongkong rasanya sudah cukup meskipun gak begitu banyak tempat-tempat wisata yang saya kunjungi. Paling tidak, saya sudah melakukan hal-hal yang wajib dilakukan seorang traveller jika berkunjung ke Hongkong. Apa saja itu? yang pertama: melakukan Harbour Cruise kemudian menyaksikan Symphony of Light, berkunjung ke Victoria Peak dan mengunjungi kawasan Star Avenue. Sisanya kapan-kapan lagi deh. Hari ketiga, saya berpindah tempat menuju Macau.

Macau, City of God

Roman Amphitheater, Macau
Tanggal 15 Juli 2005, UNESCO menjadikan Pusat sejarah Macau sebagai situs warisan dunia ke-31 di China. Pusat Sejarah Macau adalah sebuah lokasi di dalam kota kuno Macau yang meliputi 8 Square: Barra Square, Lilau Square, St. Augustine’s Square, Senado Square, Cathedral Square, St. Dominic’s Square, Company of Jesus Square dan Comões Square, dan 22 gedung bersejarah: Kuil A-Ma, Barak Moor, Mandarin’s House, Gereja St. Lawrence, Gereja dan Seminari St. Joseph, Teater Dom Pedro V, Perpustakaan Sir Robert Ho Tung, Gereja St. Augustine, Gedung ‘Leal Senado’, Kuil Sam Kai Vui Kun , Holy House of Mercy, Katedral, Mansion Lou Kau, Gereja St. Dominic, Ruins of St. Paul’s, Kuil Na Tcha, sebagian dari Tembok Kota Lama, Benteng Gunung, Gereja St. Anthony, Casa Garden, Pemakaman Protestant, dan Benteng Guia (termasuk Kapel Guia dan Mercu Suar). Daftar ini termasuk peninggalan arkeologi universitas bergaya barat pertama di Timur Jauh yaitu Universitas St. Paul, gedung-gedung yang masih berfungsi sesuai tujuan awal didirikannya seperti teater gaya barat pertama dan mercu suar modern pertama di China, dan contoh-contoh dari rumah-rumah milik mendiang pedagang-pedagang Qing. (sumber: http://id.macautourism.gov.mo/index.php?option=com_content&view=category&id=47&layout=blog&Itemid=76). Karena banyaknya situs religi bersejarah yang ada disini, Macau juga dikenal dengan sebutan City of God.

Perjalanan menuju Macau ditempuh selama 1 jam dengan menggunakan kapal Ferry. Harga tiket dari Central Ferry Terminal menuju Macau Ferry Terminal adalah HK$150 untuk 1 orang. Saya tiba malam hari di Macau dan agak terlantar karena gak booking hotel sebelumnya. Hotel yang direkomendasikan dalam buku perjalanan ternyata sudah fully booked. Untungnya tidak jauh dari lokasi tersebut, ada Guest House yang masih memiliki sisa kamar untuk ukuran keluarga. Daripada gak ada sama sekali ya sudah diambil saja.

Setelah meletakkan barang-barang, saya mencari makan malam di sekitar jalan menuju Senado Square. Entah gimana prosesnya, tiba-tiba saja saya menemukan restaurant Fat Siu Lau. Wah saya merasa beruntung sekali menemukan restaurant ini. Bukan hanya cita rasa masakan ala Portugisnya yang membelai lidah, tetapi sejarah restaurant ini luar biasa sekali. Ini menambah nilai restaurant Fat Siu Lau dimata saya.

Restaurant Fat Siu Lau adalah restaurant yang menyajikan menu barat ala Portugis. Restaurant ini pertama kali didirikan tahun 1903 di Trav. Do Matadouro, Macau yang kemudian di relokasi ke Rua da Felicidade tempat yang saya kunjungi malam itu. Tahun 2006, Restaurant Fat Siu Lau 2 didirikan di Lan Kwai Fong dan tahun 2009 Cafe Fat Siu Lau 3 didirikan di Rua do Regedor 181-185 R/C, Taipa, Macau. Menu spesial dari restaurant ini yang terkenal adalah Burung dara panggang (dengan ramuan bumbu rahasia yang sudah berusia 100 tahun), kari kepiting dan ayam Afrika. Saat ini restaurant Fat Siu Lau yang sudah berusia lebih dari 100 tahun dijalankan oleh generasi ke 3 dan ke 4 dari keluarga Mr. Wong Man Sing.

Berkunjung ke suatu negara/daerah rasanya gak lengkap kalau tidak mencicipi makanan khas setempat. Malam itu saya mencoba menu Ayam Afrika dan Portuguesse Vegetables Soup. Ayam Afrika merupakan ayam panggang yang diberi bumbu khas Afrika, disajikan dengan irisan buah peach, zaitun dan nenas. Sedangkan Portuguesse Vegetables Soup adalah sejenis sayuran yang terdiri dari kentang, kubis dan sayuran hijau dengan bumbu kari yang lebih ringan. Pokoknya sangat recomended untuk dicoba. Benar-benar beruntung menemukan restaurant bersejarah ini.

Selesai makan malam, saya berjalan menuju Senado Square. Malam itu meskipun sudah larut Senado Square masih ramai dipenuhi pengunjung. Menyusuri Senado Square dimalam hari sangat menyenangkan. Gedung-gedung tua terlihat romantis disinari lampu-lampu. Saya berjalan menyusuri hingga Ruin St. Paul. Waahh indah bangeeettt, suasananya benar-benar damai. Fasad Ruin St. Paul terlihat kokoh berdiri meskipun bagian belakangnya sudah tidak ada sama sekali. Ah saya harus kembali lagi besok siang untuk melihat Ruin St. Paul dalam keadaan terang. Sambil berjalan pulang kearah penginapan, saya menyempatkan diri melihat Hotel dan Kasino Lisboa yang terkenal itu. Waah rupanya banyak juga wisatawan yang malam itu sengaja berkunjung ke Avenida De Lisboa untuk melihat gemerlapnya lampu-lampu dari Hotel dan kasino Lisboa yang membuat atraksi tata lampu gedungnya. Cuma ada satu kalimat, luar biasa....

Pagi hari di Macau ternyata tidak sedingin di Hongkong. Cuaca Macau rupanya lebih bersahabat dan tidak terlalu windy. Tujuan hari ini adalah berkeliling kota Macau. Roman Amphitheater yang terletak di area Fisherman Wharf Macau, Avenidas da Amizade & Dr. Sun Yat Sen menjadi tempat pertama yang kami singgahi. Roman Amphitheater adalah bangunan multifungsi yang seringkali digunakan untuk berbagai event di Macau dan masih digunakan hingga saat ini. Menyusuri komplek Fisherman Wharf Macau juga mengasikan. Bangunan-bangunan yang ada didalamnya memiliki gaya Eropa neo klasik, rasanya saya seperti tengah berada di Eropa saat itu. Salah satu Kasino yang ada di dalam komplek Fisherman Wharf ini adalah Babylonia Casino yang memiliki arsitektur gaya Mesir kuno. Hmmm... jadi kepengen tau, apakah para petugasnya menggunakan kostum ala Mesir juga gak yah?

Siang itu saya juga mencoba rute bis yang rupanya mengarah ke Taipa dan tanpa sengaja malah menemukan cabang dari Cafe Fat Siu Lau ke 3. Kota Taipa nyaman sekali, rumah-rumahnya tertata dengan rapih bahkan sampai kedalam gang kecil sekalipun. Rasanya saya akan betah tinggal di kota ini. Sejuk dan damai banget terasanya. Menyenangkan duduk-duduk dibangku taman kota sambil menikmati pemandangan orang lalu lalang dan melihat deretan toko kue-kue khas Macau. Siang itu saya makan disalah satu restaurant Jepang yang ada di jejeran toko-toko kue. Saya baru menyadari kalau porsi makanan di Macau itu ternyata cukup besar. Jadi, pesan 1 porsi makanan cukup untuk dinikmati buat dua orang. Belakangan saya baru tau juga kalau Restaurant Monster Curry yang saya lihat dideretan toko-toko Taipa ternyata merupakan salah satu recommended resto oleh Claudia Kaunang dalam bukunya Hongkong, Macau, Shenzen. Ughhh nyeseeeel gak sempat nyoba, padahal sudah melihat restaurantnya.

Dari Taipa, saya kembali ke Macau untuk berkeliling bangunan bersejarah yang ada di Senado Square. Yang pertama saya kunjungi adalah Museum Philately Macau. Berkunjung ke museum ini mengingatkan masa kecil saya yang senang mengkoleksi perangko dan ikut bergabung dalam club philately. Koleksi perangko-perangko dan edisi sampul hari pertama yang dipajang bagus-bagus, menceritakan sejarah Macau pada jamannya. Dari museum saya beralih ke Gereja. Gereja St. Dominic adalah salah satu tempat pertunjukkan Macau International Music Festival (MIMF) yang diadakan tahunan. Walaupun memiliki masa lalu yang dramatis (konon katanya pernah terjadi pembunuhan yang dilakukan didepan altar gereja), Gereja St. Dominic kini berfungsi sebagai tempat hening dan berbagai pertunjukkan yang dihadiri oleh hampir setengah juta pecinta musik. Renovasi Gereja St. Dominic memakan biaya sebesar HK$1,000,000 dan biaya perawatan perbulannya sekitar 50,000 MOP (Macao Patacas).


Macau Egg Tarts
Sambil berjalan menuju Reruntuhan Gereja St. Paul atau yang lebih dikenal dengan Ruin St. Paul, saya tergoda untuk mencicipi Egg Tart Macau yang konon katanya terkenal rasanya. Satu potong Egg Tart dihargai 7MOP dan memang benar, rasanya luar biasa. Perpaduan udara dingin dengan pastry hangat yang manis renyah terasa paaaass banget! Egg Tarts ini kue khas Macau yang jadi menu wajib para wisatawan Macau. Pergi ke Macau tanpa mencicipi Egg Tarts sepertinya belum sah. Gereja St. Paul dibangun pada tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul's, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Konon gereja ini mengalami kebakaran sebanyak tiga kali dan hanya menyisakan dinding bangunan tampak depannya saja.Beberapa sisa-sisa puing bangunan ditempatkan dalam kotak kaca. Pengunjung juga dapat naik keatas Ruin St. Paul dan dari ketinggian gereja, saya dapat melihat gedung hotel Grand Lisboa. Sayangnya karena sudah terlalu sore, Museum Macau tidak dapat saya kunjungi karena jam operasinya tutup pada pukul enam sore. Hari itu saya tutup dengan makan malam di restaurant cepat saji McDonalds karena sudah terlalu malam dan tempat-tempat makanan lokal sudah tutup. Oya, belakangan saya baru tahu kalau didekat tempat penginapan yang saya tempati ada kafe namanya E-Nata. Konon Egg tart buatan kafe E-Nata terkenal paling enak di Macau. Sayangnya malam itu kafe E-Nata sudah tutup. Di Macau toko kue yang terkenal adalah Koi Kei Bakery. Sepanjang pengamatan saya, banyak banget orang menenteng tas plastik dari toko Koi Kei Bakery ini. Produk yang paling terkenal dari Koi Kei adalah Almond Cake (sebenarnya lebih tepat disebut cookies daripada cake). Koi Kei Bakery memiliki jaringan 13 outlet di Macau dan 3 outlet di Hongkong. Waah luar biasa yaa....

Aaah, hari terakhir di Macau. Rasanya saya gak ingin pulang dulu. Masih betah banget disini. Menghirup udara sejuknya yang bersih, berjalan-jalan dikotanya yang rapih atau sekedar duduk-duduk dibangku taman kota sambil melamun. Diam-diam saya menuliskan janji dalam hati kalau suatu saat saya akan kembali lagi ke tempat ini. Dan kali ini dengan persiapan yang lebih baik, sehingga tempat-tempat yang wajib saya kunjungi tidak terlewatkan. Buat teman-teman yang ingin berwisata ke Macau, beli deh bukunya Claudia Kaunang yang membahas soal perjalanannya ke 3 negara Hongkong, Macau dan China dengan budget dua juta rupiah (agak keterlaluan sih menurut saya, karena budgetnya mepet banget). Ulasan Claudia Kaunang untuk wisata di Macau cukup lengkap dan terperinci. Jangan lupa tambahkan informasi dari situs berikut: http://id.macautourism.gov.mo/index.php?option=com_content&view=category&id=47&layout=blog&Itemid=76 . Dengan perencanaan yang cermat, akan lebih menghemat waktu dan tenaga. Gak seperti saya yang bolak balik salah arah naik bis dan banyak tempat wajib yang terlewatkan. Gak apa-apa deh, ini artinya saya harus balik lagi kesana. Selamat tinggal Macau, saya senang berada disana. Someday saya akan kembali untuk menuntaskan tempat-tempat wajib yang terlewatkan dan mencoba naik becaknya. Macau diam-diam sudah memikat hati saya yang memang sejak dulu menyukai hal-hal berbau sejarah. Saya terkesan sekali dengan kota Macau yang banyak menyediakan fasilitas publik untuk warganya. Dimana-mana saya jumpai taman kota dilengkapi dengan bangku-bangku taman, bersih dan rapih. Ehya dengar-dengar saking makmurnya, pemerintah Macau setiap tahun memberikan angpao untuk warganya sebesar 7,000MOP! waaah baik sekali ya.

Saya kembali naik fery dari Macau fery Terminal menuju Kowloon Fery terminal (harga tiket HK$139), untuk kemudian terbang menuju Singapura (transit saja) dan lanjut ke Jakarta. Kok ribet banget siih? kenapa gak langsung aja Macau-Jakarta atau Macau-Hongkong-Jakarta? hehehe iya niih, salah beli tiket! hahahhaa.... what a trip!