My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Tampilkan postingan dengan label Hongkong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hongkong. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

A TRIP TO REMEMBER; MACAU-HONGKONG-TAIPA

Kami tiba di Macau pukul 8 malam waktu setempat. Bulan November cuaca di Macau berangin kencang dengan suhu lumayan dingin. Jaket tebal dan syal yang membelit leher sangat membantu menghangatkan tubuh. Perjalanan awal kami dimulai dengan kehebohan sesaat di airport Macau. Dikarenakan kondisi yang sudah kelelahan terbang selama 6 jam, otomatis penampilan sudah tidak lagi menjadi prioritas utama. Sialnya, rekan perjalanan saya mendapat pemeriksaan dari polisi bandara di Macau. Tidak puas memeriksa passport, mereka meminta rekan saya untuk memperlihatkan bukti booking online tiket pesawat. Rupanya mereka curiga rekan perjalanan saya ini TKI ilegal yang masuk ke Macau. Alamaakk…! Bikin kaget dan malu aja. Jadilah sepanjang perjalanan saya cerewet mengingatkan dia untuk sekedar memoles lipstick biar gak pucet-pucet amat dan meminta dia untuk segera mempensiunkan handbag "bali"-nya yang dengan cuek dia gendong dipunggungnya.

Selepas dari pemeriksaan mendadak yang katanya "random check" itu kami menumpang free shuttle bus ke Wynn hotel. Perjalanan dari bandara menuju Macau terasa menyenangkan dengan bus yang bagus dan relatif kosong, karena cuma kami berdua saja penumpangnya. Di airport Macau biasanya hotel-hotel besar menyediakan fasilitas free shuttle, dan meskipun kita bukan tamu hotel tersebut boleh saja kok naik bus gratisan itu. Tenang saja, supir tidak akan menanyakan apakah anda tamu di hotel tersebut atau bukan.

Dancing fountain didepan hotel Wynn
Tiba di Wynn hotel, tepat bersamaan dengan jadwal pertunjukan dancing fountain. Pertunjukan selama kurang lebih 15 menit itu menampilkan air mancur yang menari-nari dengan sinar laser yang memunculkan efek air mancur menjadi berwarna. Tidak hanya itu, gedung-gedung pun ikut memainkan lampu berwarna-warni. Beberapa kali letupan bola api keluar dari kolam. Keren banget deh.

Selesai pertunjukan air mancur kami memesan taksi menuju hotel. Pelajaran nomor satu bepergian ke negara yang tidak banyak menggunakan bahasa inggris dalam percakapan mereka adalah mencetak alamat hotel dengan tulisan negara setempat. Gara-gara hal ini, supir taksi gagal paham mencari alamat dan membawa kami ke pelosok Macau. Bisa dibayangkan, sudah tegang diperiksa polisi, sekarang mengalami ketakutan dan ketegangan dibawa ngebut oleh supir taksi yang gak ngerti bahasa inggris dan sepanjang perjalanan terima telfon sambil teriak-teriak gak jelas. Pikiran kami sudah buruk banget waktu itu, diculik dan dirampok!

Akhirnya taksi berhenti didepan sebuah hotel dan kami diminta turun! Beruntung resepsionis hotel mau membantu menjelaskan kepada supir taksi dan melihat muka kami yang pucat pasi campur ketakutan, si supir merasa gak enak hati dan mau mengantar kami kembali ke hotel yang dimaksud.

Setiba di hotel  yang dimaksud tanpa banyak basa-basi, setelah menyimpan barang-barang kami langsung menuju Senado Square yang berjarak hanya beberapa meter dari lokasi hotel kami menginap. Malam itu Senado Square terlihat  sangat romantis dengan cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan. Setiap sudut di Senado Square membuat saya kembali jatuh hati akan keromantisannya.

Ruin of St. Paul.
Ruin Saint Paul
Malam itu kami makan malam di tangga Ruin of St. Paul. Di malam hari reruntuhan St. Paul terlihat cantik sekali. Fasad bangunan yang berwarna putih berdiri dengan anggun dan kokoh. Dahulunya bangunan ini merupakan gereja yang didesign oleh arsitek dari serikat agama katolik Italia dan dengan bantuan tukang batu dari Jepang. Gereja ini dibangun pada awal abad 17. Pada tahun 1835 sebuah kebakaran telah menghancurkan seluruh bangunan gereja kecuali bagian depan/fasadnya yang hingga kini masih kokoh berdiri. Ruin St. Paul merupakan tempat yang wajib anda kunjungi saat berada di Macau.

Sam Kai Vui Kun Temple.
Keesokan pagi, kami memulai perjalanan menjelajah obyek wisata yang ada di Senado Square. Mulai dari Sam Kai Vui Kun Temple atau dikenal dengan Kuan Tai temple. Aslinya bangunan ini merupakan tempat pertemuan para pedagang dan sangat penting bagi komunitas cina. Sebelum pembentukan kamar dagang cina di Macau pada tahun 1912, area disekitar kuil adalah pusat perdagangan cina di Macau. Setelah penurunan toko-toko, kuil mulai bangkit di kawasan ini. Kuil ini terletak di Rua Sul Do Mercado de Sao Domingos. Jam buka mulai dari 08.00 – 18.00, dan tidak memerlukan biaya masuk untuk berkunjung ke kuil ini.

Lou Kau Mansion.
Bangunan ini diyakini dibangun pada tahun 1889. Gedung ini dulunya merupakan kediaman keluarga Lou Kau, seorang pengusaha cina yang terkenal. Interior bangunan ini merupakan perpaduan timur dan barat dan didesign sesuai dengan feng-shui. Lou Kau mansion terletak di No. 7 Travessa da Se, jam buka 09.00 – 19.00, setiap hari kecuali hari Senin. Masuk ke Lou Kau mansion tidak dipungut biaya tiket masuk. Biasanya selesai berkunjung, para pengunjung akan distamp/ dicap yang bergambar Lou kau mansion. Sediakan selembar kertas putih untuk petugas memberi cap sebagai kenang-kenangan.


St. Dominic’s Church.
St. Dominic Church
Gereja ini dibangun pada tahun 1587 oleh pendeta dari Dominika. Ini merupakan gereja pertama yang dibangun di cina dan awalnya dibangun dari kayu. Konon di gereja ini sebuah peristiwa tragis pernah terjadi. Pada tahun 1644 seorang petugas militer yang mendukung Spanyol melawan Portugis dibunuh di altar pada saat misa. Bangunan berwarna kuning lembut ini terlihat sama cantiknya pada siang maupun malam hari.

The Cathedral Church
Merupakan gereja katolik yang didedikasikan untuk Maria Perawan Suci. Gereja ini dibangun pada tahun 1622 dan merupakan salah satu gereja katolik terpenting di Macau. Sebelum penyerahan Macau ke Cina, setiap Gubernur yang baru terpilih secara tradisi akan datang ke gereja katedral dan menempatkan tongkat kekuasaannya disamping patung Maria Perawan suci. Gereja ini beralamat di No 1 Cathedral Square. Dibuka setiap hari pukul 07.30 – 18.30

Leal Senado Building
Gedung ini dibangun pada tahun 1784. Aslinya merupakan kantor dewan kota Macau yang pertama. Hingga saat ini Leal Senado masih difungsikan sesuai aslinya. Nama Leal Senado (Loyal Senate) berasal dari judul “City of Our Name of God Macau, There is None More Loyal” yang dianugerahkan oleh Raja Portugis John IV pada tahun 1654. Bangunan Leal senado merupakan bangunan neo klasik yang hingga kini masih terjaga keutuhan aslinya hingga ke taman dibagian belakang gedung. Pada lantai pertama gedung ini terdapat ruang pertemuan upacara yang terbuka. Dari dalam ruang pertemuan ini, tepatnya dikaca jendela tengah pemandangan Senado Square terlihat jelas dan indah dengan lantai mozaiknya yang membentuk gelombang, khas Portugis. Saat saya berkunjung ke Macau bulan November, kota Macau sedang berhias menyambut datangnya natal. Gedung Leal Senado tidak ketinggalan ikut berhias diri. Mulai dari ralling tangga, jendela, langit-langit ruang hingga ke taman belakang terlihat cantik dengan sentuhan hiasan natal.
Menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk mengunjungi beberapa obyek wisata di sekitar Senado Square kami tak lupa mencicipi Macau Egg Tart yang terkenal sebagai makanan khas Macau. Rasanya yang manis, gurih dan hangat terasa nikmat ditengah gerimis pagi itu. Pukul 11 kami tiba di hotel dan check out untuk menuju Hongkong.

Fat Siu Lau Restaurant
African Chicken
Sebelum menuju Macau Ferry Terminal, kami sempatkan untuk makan siang di restaurant Fat Siu Lau 2. Sebuah rumah makan yang sudah berdiri selama 3 generasi dan terkenal dengan menu African Chicken. Setengah ekor ayam yang diberi bumbu ala afrika dan dipanggang dengan buah zaitun, nanas dan peach. Rasa rempahnya kuat sekali. Di Macau rumah makan Fat Siu Lau memiliki 3 cabang. Kalau anda mempunyai kesempatan berkunjung ke Macau jangan lewatkan untuk mampir ke rumah makan ini ya.



Tree of Prospherity

Sambil menuju Macau Ferry Terminal, kami sempatkan mampir ke Wynn Hotel untuk melihat atraksi Tree of Prospherity. Pertunjukan gratis yang diadakan oleh hotel Wynn ini selalu menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu oleh tamu maupun pengunjung hotel. Pertunjukan selama 10 menit ini menyajikan permainan langit-langit hotel yang berukir lambang horoskop cina bergerak terbuka dan menurunkan sebuah lampu Kristal yang indah. Setelah lampu Kristal diturunkan, lantai tepat dibawah lampu akan terbuka dan memunculkan sebuah pohon dari dasar lantai yang disebut tree of prospherity. Pengunjung dipersilahkan untuk melempar uang koin kearah pohon kemakmuran agar mendapatkan keberuntungan.

Symphony of Lights

Symphony of Lights
Konon katanya, ke Hongkong tidak lengkap jika tidak menyaksikan Symphony of Lights. Pertunjukan yang diadakan setiap malam pukul 8 waktu setempat di pinggir laut ini dapat disaksikan dari sisi Tsim Sa Tsui atau dari Hongkong island (melihat ke arah Kowloon). Saya sendiri memilih menyaksikan dari Tsim Sa Tsui agar dapat mengunjungi Avenue of Stars di malam hari. Di Avenue of Stars terdapat tempat khusus untuk menyaksikan Symphony of Lights. Biasanya pukul 7 malam waktu setempat, pengunjung sudah memadati stage untuk mendapatkan posisi strategis menyaksikan Symphony of Lights.

Ladies Market
Surga belanja bagi shopaholic yang terletak di kawasan Mong-kok Kowloon. Aneka barang yang dijajakan mulai dari baju, sepatu, tas, asesoris hingga barang elektronik tumpah ruah hingga ke jalan yang sengaja ditutup uuntuk kegiatan pedangan. Suasananya yang mirip pasar Blok M semakin ramai ditambah dengan musik yang hingar bingar. Agaknya penduduk Hongkong semakin malam semakin aktif.

Avenue of stars

Handprint Maggie Cheung
Suasana Avenue of Stars di pagi hari lebih nyaman dibandingkan malam hari. Melihat kapal lalu lalang di pelabuhan Victoria dengan latar belakang gedung-gedung perkantoran terlihat kontras dengan birunya air laut dan putihnya awan. Menghabiskan waktu sekitar satu jam disini untuk melihat-lihat cap tangan dan tandatangan para bintang film Cina. Setidaknya saya berhasil menemukan handprint dan tanda tangan beberapa artis cina seperti Bruce Lee, Andy Lau, Chow Yun Fat, Jet Li dan teman-temannya.



Taipa

Puas mengabadikan beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan menuju Taipa! Ah kota yang sangat romantis sekali di bagian lain dari Macau. Perjalanan dari Hongkong menuju Taipa ditempuh dengan menggunakan Ferry. Disini kesalahan terjadi, seharusnya kami mengambil ferry menuju Taipa terminal, tetapi karena kurang informasi kami mengambil Ferry menuju Macau terminal. Tetapi disetiap kesalahan selalu ada hikmah yang didapat. Hikmahnya adalah karena salah ambil jenis Ferry, ternyata kami membayar untuk kelas executive yang mendapat fasilitas makan siang diatas Ferry dan mendapatkan layanan prioritas untuk exit dari kapal. Sesekali jadi VIP enak juga! Hahahhaa. Berkat salah jurusan pula, kami jadi “terdampar” di The Venetian Resort. Hotel yang besarnya luar biasa. The Venetian Resort merupakan hotel dan kasino terbesar didunia, dibangun dengan meniru desain kota Venesia di Italia lengkap dengan gondola dan troubadournya. Melihat kasino yang sebegitu luasnya, rasa ingin tahu mengundang kami untuk masuk kedalam Kasino terbersit keinginan untuk mencoba. Well, paling tidak hanya untuk memenuhi rasa keingintahuan saja. Setelah melihat-lihat aneka mesin didalam kasino, kami sepakat membatalkan keinginan mencoba, karena gak ngerti cara mainnya. Sudah berusaha nanya dan memperhatikan pengunjung lain tapi tetep aja gak ngerti.

Taipa Village
duduk disini terasa romantisbanget
Tiba di Taipa sore hari, setelah menyimpan barang-barang kami menuju Taipa village. Menurut saya disinilah pusat keromantisan dari seluruh penjuru Macau berada. Di desa yang kecil dan tenang, Taipa village menyimpan beberapa tempat bersejarah. Tin Hau Temple, Museum of Taipa and Coloane History dan House of Taipa. Di desa Taipa ini setiap sudut terlihat bersih, indah dan romantis. Taman-taman kota dilengkapi dengan kursi kayu yang nyaman dan lampu penerangan membuat kota ini terlihat cantik dan romantis. Di depan Tin Hau Temple terdapat penyewaan sepeda dengan harga yang murah banget, kalau dikurs ke rupiah hanya sekitar 20ribu saja. Dengan bersepeda saya mengelilingi desa ini, keluar masuk gang dan selalu terkesima dengan kebersihan dan keromantisannya. Seharusnya malam itu kami mencoba naik gondola, tetapi rencana itu kami batalkan. Masing-masing gak ada yang mau melalui hal paling romantis di Taipa bukan dengan pasangannya! Hahahaa. Nyebelin memang, saran saya kalau ke Macau bawa pasangan ya biar gak gigit jari menghabiskan waktu ditempat-tempat yang romantis.

Cafe Taipa
Portuguese Chicken yang lembut dan rich
Sebagai ganti naik gondola, kami memutuskan makan di Café Taipa. Tempat makan ini gak pernah sepi pengunjung. Setiap pengunjung keluar, selalu ada lagi yang masuk. Berbekal teori, makanan enak kalau banyak pengunjung kami memutuskan makan malam disana. Menu yang dipesan malam itu Chicken Portuguese, nasi dan lime squash. Ayam yang direndam dengan bumbu portugis, dibakar bersama potongan kentang dan buah zaitun terasa lembut dan rich baik ayam maupun kuahnya. Tempat makan ini sangat saya direkomendasikan untuk anda datangi jika berunjung ke Taipa. Kalau saya bandingkan harga dan rasa makanan di Macau jauh lebih bersahabat dan menggugah selera dibandingkan makanan di Hongkong. Ini menurut pendapat saya lho ya.
Pagi hari sebelum meninggalkan Taipa, kami sempatkan mengunjungi Taipa Village sekali lagi. Melihat desa ini di malam dan pagi hari menampilkan pemandangan yang berbeda. Hanya satu persamaannya, sama-sama terlihat cantik!

Akhirnya setelah beberapa hari berpetualang dari Macau, Hongkong dan Taipa kami harus pulang. Disaat kami sudah mulai beradaptasi dengan rute-rute bus dan MTR, waktu sudah habis. Selamat tinggal Macau, Hongkong dan Taipa. Saya masih ingin kesini lagi suatu hari nanti (dengan pasangan tentunya, ehmmm) dan kali ini saya ingin menjelajah wilayah lain dari Macau. Saya ingin menjelajah wilayah Coloane!









Sabtu, 03 Desember 2011

Hongkong - Macau

Hongkong

Victoria Peak
Liburan yang agak nekat kali ini. Dibilang nekat karena ini pertama kalinya saya mengambil cuti panjang untuk berlibur. Boleh dong ya sesekali memanjakan diri sendiri. Meskipun pada prakteknya hampir setiap malam saya mengecek email untuk memantau kerjaan. Iiiih tetep ya sob, gak bisa tenang juga liburannya. Ya sudahlah daripada gak dikasih cuti.

Hari pertama tiba di Hongkong sudah hampir tengah malam. Dari Hongkong International Airport di Lantau Island, saya pergi menuju Hongkong Island dengan menggunakan MTR (sejenis MRT di Singapura). Guest House yang saya tempati berada di area komersil yang happening banget, namanya Causeway Bay. Guest House ini diapit oleh jejeran butik-butik ternama. Berhubung teman saya mau menjemput rekannya di airport, saya dipercaya untuk keliling sekitar Guest House sendirian dengan catatan: jangan sampai hilang arah ya. Jam 11 malam di Hongkong rupanya tidak mematikan semangat hang out warga Hongkong. Semakin malam malah semakin ramai. Sepertinya abege-abege di Hongkong sudah terbiasa gaul sampai larut malam. Banyak anak-anak remaja yang dandanannya modis-modis seliweran dijalan-jalan. Seneng banget, seperti masih sore aja rasanya. Saking keasikan jalan kesana kemari, akhirnya saya tersesat! luar biasaaa.... hari pertama tiba di Hongkong langsung nyasar. Saya mencoba menyusuri jalan, mengingat-ingat lokasi Guest House tetapi gak ketemu juga. Mungkin karena sudah lelah akibat perjalanan panjang dari Bogor menuju Hongkong (alasan aja ya) dan faktor panik (ini lebih tepat) saya melintasi jalan yang sama berkali-kali. Akhirnya Tuhan mengirim seorang warga Hongkong yang baik hati untuk menolong saya mengantarkan sampai ke tempat Guest House. Gak hanya itu, Jay (semoga spellingnya betul) juga menemani saya menunggu sampai teman kembali dari airport. Alhamdulillah... makin percaya kalau kita berbuat baik pasti ada yang akan menolong disaat kita susah. Oya, selagi nyasar sempet-sempetnya lho saya mampir ke Victoria Park yang terkenal itu. Konon katanya di Taman Victoria ini setiap hari Sabtu/ Minggu penuh oleh pekerja-pekerja dari Indonesia. Suasananya seperti di Indonesia banget deh, banyak yang berbicara dalam bahasa Jawa.

Salah satu dari 50 hal yang wajib dilakukan oleh seorang traveller adalah Harbour Cruise di Pelabuhan Victoria  dari Central menuju Tsim Tsa Tsui dengan menggunakan double decker Shinning Star Fery. Sepanjang perjalanan sekitar kurang lebih 15 menit, penumpang disuguhi pemandangan gedung-gedung perkantoran di Hongkong yang menjulang tinggi. Suasananya lebih indah lagi dimalam hari karena lampu-lampu disetiap gedung menyala berwarna warni. Setiap pukul delapan malam, ada pertunjukan "Symphony of Light" dimana setiap gedung memainkan lampu-lampu gedung dan sinar laser secara bergantian. Pertunjukkan ini dinanti-nanti oleh banyak orang yang menyemut disekitar Avenue of Stars. Buat single traveller gak usah khawatir kesulitan mengabadikan keindahan pemandangan gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampunya yang cantik. Dengan membayar HK$6 sudah bisa mendapatkan 1 buah foto ukuran 7R dengan background gedung-gedung indah. Jasa tukang foto ini tersedia disepanjang Star Avenue. Mereka sudah paham banget spot-spot yang bagus untuk diabadikan sebagai latar foto.

Hongkong kota yang luar biasa padat dan dinamis sekali. Setiap orang lalu lalang dengan gerakan yang cepat. Buat orang yang bertubuh mungil seperti saya, cukup kerepotan juga mengimbangi gerakan jalan mereka yang menurut ukuran saya, bukan "berjalan" tetapi "terbang!" Meskipun begitu, orang-orang Hongkong taat banget dengan aturan, utamanya ditempat umum. Menyeberang jalan dilakukan hanya jika lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau dan tidak ada sampah dijalanan.

Selama di Hongkong untuk mempermudah transportasi, sebaiknya membeli kartu Octopus. Kartu Octopus adalah sejenis kartu yang bisa digunakan untuk naik MTR, fery, bis, kereta trem, menelefon atau bahkan membeli minuman. Kartu dengan nilai paling minimum harganya sekitar HK$150 atau setara dengan Rp180,000. Dengan kartu Octopus senilai HK$150, saya sudah bisa berkali-kali naik MTR, 3x naik fery (mumpung disini), naik bis (lupa berapa kali), naik kereta trem (2x) dan rasanya masih ada sisa saldonya tuh. Asik kan, daripada berkali-kali beli single journey ticket, merepotkan.

Selama di Hongkong, gak begitu banyak sih yang saya kunjungi. Lebih banyak mencoba berbagai macam alat transportasi disana. Mulai dari MTR, bis, feri, kereta trem dan taksi tentunya. Beberapa tempat yang sempat saya kunjungi selama di Hongkong adalah: Victoria Park (secara tidak sengaja akibat tersesat), Avenue of Stars, tempat artis-artis Hongkong diabadikan cap tangan dan nama mereka. Disini juga terdapat patung Master Kungfu legendaris, Bruce Lee. Victoria Peak yaitu tempat memandang kota Hongkong dari atas bukit. Cantik sekali pemandangannya. Lan Kwai Fong, kawasan yang happening banget untuk hangout dan cari makan. Di Lan Kwai Fong ini saya menemukan restaurant Thailand yang apik banget rasanya. Memang susah yaa kalau sudah hobi sama masakan Thailand. jauh-jauh ke Hongkong yang dicicipi malah masakan Thailand hehehee...

Dua hari berkeliling di Hongkong rasanya sudah cukup meskipun gak begitu banyak tempat-tempat wisata yang saya kunjungi. Paling tidak, saya sudah melakukan hal-hal yang wajib dilakukan seorang traveller jika berkunjung ke Hongkong. Apa saja itu? yang pertama: melakukan Harbour Cruise kemudian menyaksikan Symphony of Light, berkunjung ke Victoria Peak dan mengunjungi kawasan Star Avenue. Sisanya kapan-kapan lagi deh. Hari ketiga, saya berpindah tempat menuju Macau.

Macau, City of God

Roman Amphitheater, Macau
Tanggal 15 Juli 2005, UNESCO menjadikan Pusat sejarah Macau sebagai situs warisan dunia ke-31 di China. Pusat Sejarah Macau adalah sebuah lokasi di dalam kota kuno Macau yang meliputi 8 Square: Barra Square, Lilau Square, St. Augustine’s Square, Senado Square, Cathedral Square, St. Dominic’s Square, Company of Jesus Square dan Comões Square, dan 22 gedung bersejarah: Kuil A-Ma, Barak Moor, Mandarin’s House, Gereja St. Lawrence, Gereja dan Seminari St. Joseph, Teater Dom Pedro V, Perpustakaan Sir Robert Ho Tung, Gereja St. Augustine, Gedung ‘Leal Senado’, Kuil Sam Kai Vui Kun , Holy House of Mercy, Katedral, Mansion Lou Kau, Gereja St. Dominic, Ruins of St. Paul’s, Kuil Na Tcha, sebagian dari Tembok Kota Lama, Benteng Gunung, Gereja St. Anthony, Casa Garden, Pemakaman Protestant, dan Benteng Guia (termasuk Kapel Guia dan Mercu Suar). Daftar ini termasuk peninggalan arkeologi universitas bergaya barat pertama di Timur Jauh yaitu Universitas St. Paul, gedung-gedung yang masih berfungsi sesuai tujuan awal didirikannya seperti teater gaya barat pertama dan mercu suar modern pertama di China, dan contoh-contoh dari rumah-rumah milik mendiang pedagang-pedagang Qing. (sumber: http://id.macautourism.gov.mo/index.php?option=com_content&view=category&id=47&layout=blog&Itemid=76). Karena banyaknya situs religi bersejarah yang ada disini, Macau juga dikenal dengan sebutan City of God.

Perjalanan menuju Macau ditempuh selama 1 jam dengan menggunakan kapal Ferry. Harga tiket dari Central Ferry Terminal menuju Macau Ferry Terminal adalah HK$150 untuk 1 orang. Saya tiba malam hari di Macau dan agak terlantar karena gak booking hotel sebelumnya. Hotel yang direkomendasikan dalam buku perjalanan ternyata sudah fully booked. Untungnya tidak jauh dari lokasi tersebut, ada Guest House yang masih memiliki sisa kamar untuk ukuran keluarga. Daripada gak ada sama sekali ya sudah diambil saja.

Setelah meletakkan barang-barang, saya mencari makan malam di sekitar jalan menuju Senado Square. Entah gimana prosesnya, tiba-tiba saja saya menemukan restaurant Fat Siu Lau. Wah saya merasa beruntung sekali menemukan restaurant ini. Bukan hanya cita rasa masakan ala Portugisnya yang membelai lidah, tetapi sejarah restaurant ini luar biasa sekali. Ini menambah nilai restaurant Fat Siu Lau dimata saya.

Restaurant Fat Siu Lau adalah restaurant yang menyajikan menu barat ala Portugis. Restaurant ini pertama kali didirikan tahun 1903 di Trav. Do Matadouro, Macau yang kemudian di relokasi ke Rua da Felicidade tempat yang saya kunjungi malam itu. Tahun 2006, Restaurant Fat Siu Lau 2 didirikan di Lan Kwai Fong dan tahun 2009 Cafe Fat Siu Lau 3 didirikan di Rua do Regedor 181-185 R/C, Taipa, Macau. Menu spesial dari restaurant ini yang terkenal adalah Burung dara panggang (dengan ramuan bumbu rahasia yang sudah berusia 100 tahun), kari kepiting dan ayam Afrika. Saat ini restaurant Fat Siu Lau yang sudah berusia lebih dari 100 tahun dijalankan oleh generasi ke 3 dan ke 4 dari keluarga Mr. Wong Man Sing.

Berkunjung ke suatu negara/daerah rasanya gak lengkap kalau tidak mencicipi makanan khas setempat. Malam itu saya mencoba menu Ayam Afrika dan Portuguesse Vegetables Soup. Ayam Afrika merupakan ayam panggang yang diberi bumbu khas Afrika, disajikan dengan irisan buah peach, zaitun dan nenas. Sedangkan Portuguesse Vegetables Soup adalah sejenis sayuran yang terdiri dari kentang, kubis dan sayuran hijau dengan bumbu kari yang lebih ringan. Pokoknya sangat recomended untuk dicoba. Benar-benar beruntung menemukan restaurant bersejarah ini.

Selesai makan malam, saya berjalan menuju Senado Square. Malam itu meskipun sudah larut Senado Square masih ramai dipenuhi pengunjung. Menyusuri Senado Square dimalam hari sangat menyenangkan. Gedung-gedung tua terlihat romantis disinari lampu-lampu. Saya berjalan menyusuri hingga Ruin St. Paul. Waahh indah bangeeettt, suasananya benar-benar damai. Fasad Ruin St. Paul terlihat kokoh berdiri meskipun bagian belakangnya sudah tidak ada sama sekali. Ah saya harus kembali lagi besok siang untuk melihat Ruin St. Paul dalam keadaan terang. Sambil berjalan pulang kearah penginapan, saya menyempatkan diri melihat Hotel dan Kasino Lisboa yang terkenal itu. Waah rupanya banyak juga wisatawan yang malam itu sengaja berkunjung ke Avenida De Lisboa untuk melihat gemerlapnya lampu-lampu dari Hotel dan kasino Lisboa yang membuat atraksi tata lampu gedungnya. Cuma ada satu kalimat, luar biasa....

Pagi hari di Macau ternyata tidak sedingin di Hongkong. Cuaca Macau rupanya lebih bersahabat dan tidak terlalu windy. Tujuan hari ini adalah berkeliling kota Macau. Roman Amphitheater yang terletak di area Fisherman Wharf Macau, Avenidas da Amizade & Dr. Sun Yat Sen menjadi tempat pertama yang kami singgahi. Roman Amphitheater adalah bangunan multifungsi yang seringkali digunakan untuk berbagai event di Macau dan masih digunakan hingga saat ini. Menyusuri komplek Fisherman Wharf Macau juga mengasikan. Bangunan-bangunan yang ada didalamnya memiliki gaya Eropa neo klasik, rasanya saya seperti tengah berada di Eropa saat itu. Salah satu Kasino yang ada di dalam komplek Fisherman Wharf ini adalah Babylonia Casino yang memiliki arsitektur gaya Mesir kuno. Hmmm... jadi kepengen tau, apakah para petugasnya menggunakan kostum ala Mesir juga gak yah?

Siang itu saya juga mencoba rute bis yang rupanya mengarah ke Taipa dan tanpa sengaja malah menemukan cabang dari Cafe Fat Siu Lau ke 3. Kota Taipa nyaman sekali, rumah-rumahnya tertata dengan rapih bahkan sampai kedalam gang kecil sekalipun. Rasanya saya akan betah tinggal di kota ini. Sejuk dan damai banget terasanya. Menyenangkan duduk-duduk dibangku taman kota sambil menikmati pemandangan orang lalu lalang dan melihat deretan toko kue-kue khas Macau. Siang itu saya makan disalah satu restaurant Jepang yang ada di jejeran toko-toko kue. Saya baru menyadari kalau porsi makanan di Macau itu ternyata cukup besar. Jadi, pesan 1 porsi makanan cukup untuk dinikmati buat dua orang. Belakangan saya baru tau juga kalau Restaurant Monster Curry yang saya lihat dideretan toko-toko Taipa ternyata merupakan salah satu recommended resto oleh Claudia Kaunang dalam bukunya Hongkong, Macau, Shenzen. Ughhh nyeseeeel gak sempat nyoba, padahal sudah melihat restaurantnya.

Dari Taipa, saya kembali ke Macau untuk berkeliling bangunan bersejarah yang ada di Senado Square. Yang pertama saya kunjungi adalah Museum Philately Macau. Berkunjung ke museum ini mengingatkan masa kecil saya yang senang mengkoleksi perangko dan ikut bergabung dalam club philately. Koleksi perangko-perangko dan edisi sampul hari pertama yang dipajang bagus-bagus, menceritakan sejarah Macau pada jamannya. Dari museum saya beralih ke Gereja. Gereja St. Dominic adalah salah satu tempat pertunjukkan Macau International Music Festival (MIMF) yang diadakan tahunan. Walaupun memiliki masa lalu yang dramatis (konon katanya pernah terjadi pembunuhan yang dilakukan didepan altar gereja), Gereja St. Dominic kini berfungsi sebagai tempat hening dan berbagai pertunjukkan yang dihadiri oleh hampir setengah juta pecinta musik. Renovasi Gereja St. Dominic memakan biaya sebesar HK$1,000,000 dan biaya perawatan perbulannya sekitar 50,000 MOP (Macao Patacas).


Macau Egg Tarts
Sambil berjalan menuju Reruntuhan Gereja St. Paul atau yang lebih dikenal dengan Ruin St. Paul, saya tergoda untuk mencicipi Egg Tart Macau yang konon katanya terkenal rasanya. Satu potong Egg Tart dihargai 7MOP dan memang benar, rasanya luar biasa. Perpaduan udara dingin dengan pastry hangat yang manis renyah terasa paaaass banget! Egg Tarts ini kue khas Macau yang jadi menu wajib para wisatawan Macau. Pergi ke Macau tanpa mencicipi Egg Tarts sepertinya belum sah. Gereja St. Paul dibangun pada tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul's, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Konon gereja ini mengalami kebakaran sebanyak tiga kali dan hanya menyisakan dinding bangunan tampak depannya saja.Beberapa sisa-sisa puing bangunan ditempatkan dalam kotak kaca. Pengunjung juga dapat naik keatas Ruin St. Paul dan dari ketinggian gereja, saya dapat melihat gedung hotel Grand Lisboa. Sayangnya karena sudah terlalu sore, Museum Macau tidak dapat saya kunjungi karena jam operasinya tutup pada pukul enam sore. Hari itu saya tutup dengan makan malam di restaurant cepat saji McDonalds karena sudah terlalu malam dan tempat-tempat makanan lokal sudah tutup. Oya, belakangan saya baru tahu kalau didekat tempat penginapan yang saya tempati ada kafe namanya E-Nata. Konon Egg tart buatan kafe E-Nata terkenal paling enak di Macau. Sayangnya malam itu kafe E-Nata sudah tutup. Di Macau toko kue yang terkenal adalah Koi Kei Bakery. Sepanjang pengamatan saya, banyak banget orang menenteng tas plastik dari toko Koi Kei Bakery ini. Produk yang paling terkenal dari Koi Kei adalah Almond Cake (sebenarnya lebih tepat disebut cookies daripada cake). Koi Kei Bakery memiliki jaringan 13 outlet di Macau dan 3 outlet di Hongkong. Waah luar biasa yaa....

Aaah, hari terakhir di Macau. Rasanya saya gak ingin pulang dulu. Masih betah banget disini. Menghirup udara sejuknya yang bersih, berjalan-jalan dikotanya yang rapih atau sekedar duduk-duduk dibangku taman kota sambil melamun. Diam-diam saya menuliskan janji dalam hati kalau suatu saat saya akan kembali lagi ke tempat ini. Dan kali ini dengan persiapan yang lebih baik, sehingga tempat-tempat yang wajib saya kunjungi tidak terlewatkan. Buat teman-teman yang ingin berwisata ke Macau, beli deh bukunya Claudia Kaunang yang membahas soal perjalanannya ke 3 negara Hongkong, Macau dan China dengan budget dua juta rupiah (agak keterlaluan sih menurut saya, karena budgetnya mepet banget). Ulasan Claudia Kaunang untuk wisata di Macau cukup lengkap dan terperinci. Jangan lupa tambahkan informasi dari situs berikut: http://id.macautourism.gov.mo/index.php?option=com_content&view=category&id=47&layout=blog&Itemid=76 . Dengan perencanaan yang cermat, akan lebih menghemat waktu dan tenaga. Gak seperti saya yang bolak balik salah arah naik bis dan banyak tempat wajib yang terlewatkan. Gak apa-apa deh, ini artinya saya harus balik lagi kesana. Selamat tinggal Macau, saya senang berada disana. Someday saya akan kembali untuk menuntaskan tempat-tempat wajib yang terlewatkan dan mencoba naik becaknya. Macau diam-diam sudah memikat hati saya yang memang sejak dulu menyukai hal-hal berbau sejarah. Saya terkesan sekali dengan kota Macau yang banyak menyediakan fasilitas publik untuk warganya. Dimana-mana saya jumpai taman kota dilengkapi dengan bangku-bangku taman, bersih dan rapih. Ehya dengar-dengar saking makmurnya, pemerintah Macau setiap tahun memberikan angpao untuk warganya sebesar 7,000MOP! waaah baik sekali ya.

Saya kembali naik fery dari Macau fery Terminal menuju Kowloon Fery terminal (harga tiket HK$139), untuk kemudian terbang menuju Singapura (transit saja) dan lanjut ke Jakarta. Kok ribet banget siih? kenapa gak langsung aja Macau-Jakarta atau Macau-Hongkong-Jakarta? hehehe iya niih, salah beli tiket! hahahhaa.... what a trip!