My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Rabu, 11 November 2015

KULINER OTENTIK KHAS JOGJA - MANGUT LELE MBAH MARTO

Bicara jalan-jalan gak puol rasanya kalau gak icip-icip makanan lokal khas setempat. Jogjakarta salah satu kota yang terkenal dengan makanan kampung yang otentik rasanya, unik tempatnya dan gak nyekik harganya. Berikut referensi beberapa tempat yang sudah dicek langsung ke TKP dan dicicipi rasanya.

MANGUT LELE MBAH MARTO di Bantul.
Meski terletak didalam gang kecil yang hanya muat untuk dua orang berjalan beriringan, gak membuat warung mangut lele Mbah Marto ini sepi dari pengunjung. Seperti pepatah, ada gula ada semut. Makanan enak meski tempatnya nyusahin banget dan gak mudah tetap aja dicari orang (termasuk saya). Tampak depan warung Mbah Marto kelihatan segar dengan tembok berwarna hjau. Yang unik, pada salah satu tembok tetangga berjejer poster-poster iklan mulai dari Bank BNI sampai iklan perumahan. Hebat ya justru bank nasional sekelas BNI dan perumahan lokal memasang iklan mereka di warung Mbah Marto ckk...ck..ck...

Melangkah masuk kedalam warung, tampak meja dan kursi  sederhana. Gak ada bell boy yang membukakan pintu dan menyambut pelanggan datang dan gak juga pelayan datang membawakan buku menu. Semua serba apa adanya dan bener-bener self service. Jangan berharap dengan duduk manis kemudian pelayan datang, di warung Mbah Marto, pelanggan langsung masuk ke dapur. Membaui harumnya nasi, sayur gudeg, krecek dan mangut lele yang dimasak dengan tungku dan kayu bakar. Di dapur seluas 4x5 meter aneka masakan terhampar diatas bale kayu beralaskan tikar. Pengunjung dipersilahkan mengambil sendiri nasi dan teman-temannya sesuai kebutuhan dan selera masing-masing. Terkadang Mbah Marto hadir di dapur tuanya, duduk-duduk sambil ngobrol dengan pegawainya yang sudah lama mengabdi. Jangan berharap bisa selfie bareng Mbah Marto karena beliau akan ngibrit sambil menggerutu kalau ada pengunjung yang mau memotret dirinya. Meskipun di warungnya banyak foto-foto Mbah Marto dengan para seleb hits yang mampir makan mangut lele ditempatnya, Mbah Marto sebetulnya enggan untuk difoto. Jadi, jangan mekso lho yooo....kita hormati keengganan beliau untuk di foto.

Anyway, rasa mangut lele Mbah Marto memang luar biasa...otentik, dan bumbunya meresap sampai kedalam daging. Sayur gudeg, sambal krecek dan arehnya benar-benar pas di lidah. Tidak terlalu manis. Keseluruhan menu terasa saling melengkapi keberadaannya. Nasi putih yang mengepul hangat dan menguarkan harum aroma kayu bakar seakan menjadi pengikat menu-menu yang ada. Semua terasa pas baik komposisi maupun rasanya. Kelezatan rasa mangut lele seakan menjadi pemaaf atas kursi makan butut yang reyot dan joknya somplak disana sini serta udara panas tanpa ampun yang menggemboskan keringat dari balik pakaian seperti sauna.

Mbah Marto dengan mangut lelenya telah mematahkan berbagai prinsip-prinsip pemasaran yang ada. Tanpa iklan, tanpa modernisasi, tanpa jaga image dengan perabot yang layak. Sing penting uenak!