My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Kamis, 25 Desember 2014

Asyiknya Keliling Kota Surabaya dengan Surabaya Heritage Track

Surabaya Heritage Track
Sudah lama saya ingin mengunjungi museum rokok Sampoerna atau yang lebih tenar disebut House of Sampoerna. Terlebih dengan adanya wisata keliling kota Surabaya dengan menggunakan bus Surabaya Heritage Track. Bis dengan warna merah menyala dilengkapi dengan guide yang profesional siap mengantar pengunjung keliling kota secara gratis!

Seperti biasa, sebelum mengunjungi suatu tempat, saya selalu menyiapkan diri dengan bekal sebanyak-banyaknya. Dari hasil browsing di internet, ternyata tiket untuk naik bus Surabaya Heritage Track dapat dipesan melalui email. Tanpa membuang kesempatan, saya segera mengirimkan email permohonan reservasi untuk 9 orang. Staf marketing House of Sampoerna dengan ramah melayani pemesanan saya meskipun waktunya masih 3 bulan kedepan! hahaha keliatan sekali ya kalau saya udah ngincer banget pengen naik bus ini. Informasi dari mbak staf marketing yang ramah itu, pemesanan melalui email hanya berlaku untuk 10 orang saja. Diluar itu, calon penumpang harus datang dan daftar on the spot. Beruntungnya saya, karena waktu kami datang ke House of Sampoerna banyak pengunjung yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket bus Surabaya Heritage Track. Pfiuuh untung saja saya sudah buat reservasi jauh-jauh hari sebelumnya.

Bus Surabaya Heritage Track yang berkapasitas duduk 22 orang tersebut siap mengantar para tracker sebutan untuk penumpang bus dengan rute yang telah disediakan. Dalam 1 hari SHT melakukan 3 kali keberangkatan dan menempuh 1,5 hingga 2 jam per rute. Sedangkan dalam 1 minggu terdapat 2 rute, yaitu Rute A short trip pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis, dan Rute B long trip pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Sedangkan pada hari senin SHT tidak ada rute alias libur. Ada 3 kali jadwal keberangakatan bus yaitu jam 10.00 s/d 11.30, 13.00 s/d 14.30 dan yang terakhir 15.00 s/d 16.30. Saya mengambil jadwal jam 13.00, saat matahari di langit Surabaya sedang galak-galaknya.

Bus mengambil rute kota lama, melintasi jalan-jalan protokol dimana gedung-gedung tua yang apik dan masih berfungsi sebagai perkantoran. Saya sempat mengabadikan beberapa gambar gedung dari dalam bus dan cukup terpana dengan hasilnya. Gambar gedung tua dengan langit biru bersih diatasnya, cantik sekali! Bus berhenti di Tugu Pahlawan Surabaya. Penumpang dipersilahkan turun dan mendengarkan narasi dari tour guide yang dengan fasih menceritakan asal usul nama Surabaya, sejarah kota Surabaya dan masih banyak lagi. Guide juga mempersilahkan para penumpang berfoto dengan latar patung proklamator Indonesia, Soekarno dan Hatta. Sekitar 10 menit kemudian, bus melanjutkan perjalanan kembali.
PTPN XI
Setelah melewati beberapa gedung tua, bus kembali berhenti. Kali ini disebuah gedung PTPN termegah sepulau Jawa. Di tangan Belanda, perusahaan ini awalnya bernama Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), yang arti harfiahnya Asosiasi Pedagang Amsterdam. Sesuai namanya gedung ini memang ditempati oleh HVA, sebuah perusahaan asal Belanda yang didirkan sejak tahun 1879 di Amsterdam dan bergerak di bidang impor hasil pertanian dan budidaya tebu, kopi dan singkong. Perusahaan tersebut juga memiliki puluhan perusahaan di Hindia Belanda dan gedung di Surabaya ini berfungsi sebagai pusat kontrol untuk produksi gula di wilayah Jawa Timur. Gedung HVA terletak di jalan Merak no 1. Surabaya dan dibangun pada tahun 1920-1925 diatas lahan seluas 1.6 hektar oleh arsitek terkenal di Batavia, Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers.

Konon gedung ini memiliki bagian-bagian ornamen yang yang diimpor dari Belanda dan Italia. Uniknya gedung ini didesain fleksibel terhadap gempa. Gedung dibagi menjadi dua pondasi dan tulang dimana keduanya tidak melekat satu sama lain. Hebat deh, pemikiran arsiteknya sudah jauh kedepan pada masanya. Secara keseluruhan gedung terlihat kokoh dan anggun, tentu saja kesan angker tidak bisa dihilangkan dari gedung-gedung tua yang pada umumnya menyimpan kisah-kisah misteri hantu Belanda.

Sekitar 1,5 jam perjalanan berkeliling kota, akhirnya bus kembali memasuki halaman House of Sampoerna. Selanjutnya mengeksplore isi museum Sampoerna sembari mendinginkan kulit yang memerah terpanggang matahari. 

Museum Sampoerna
Saat membuka pintu museum, nyeesss udara sejuk menyapa kulit dibarengi dengan harum tembakau yang anehnya tidak membuat kepala pusing. Padahal biasanya kalau ada yang merokok dekat-dekat saya, sebelum rokok dinyalakan kepala sudah berdenyut-denyut duluan karena pusing mencium aroma rokok. Entah kenapa harum tembakau di dalam ruangan museum ini justru membuat kesegaran tersendiri. Ditambah penataan interior museum yang apik dan lighting yang pas membuat keseluruhan museum terlihat ciamik. Lantai pertama dipenuhi oleh foto-foto keluarga Sampoerna. Ada juga gerobak warung yang ditata sedemikian rupa sehingga mirip gerobak warung sungguhan. Isi museum dilantai 1 ini bisa menjadi edukasi untuk pengunjung, tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Ruang melinting rokok
Beralih ke lantai 2, disni terdapat aneka merchandise dari House of Sampoerna. Aneka magnetic fridge, polo shirt, gantungan kunci, pin, aneka batik tulis dan masih banyak lagi ragam merchandise yang dijual dengan kualitas prima. Dari lantai 2 ini pengunjung juga bisa melihat ruang melinting rokok yang hingga saat ini masih difungsikan. Ya, meskipun Sampoerna sudah membuat pabrik yang modern dilokasi yang lain, tetapi untuk menghargai sejarah berdirinya perusahaan Sampoerna, ruangan melinting rokok tetap dipertahankan di gedung ini.

Rasanya tidak ada yang bisa saya ungkapkan selain rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada founder perusahaan Sampoerna yang telah berjasa memberikan edukasi melalui museumnya secara gratis dan menyediakan fasilitas bus Surabaya Heritage Track keliling kota lengkap dengan naratif tour guidenya secara gratis juga. Tidak banyak pengusaha yang punya perhatian terhadap perkembangan sejarah dan pendidikan bangsa. Bangga rasanya keluarga Sampoerna memiliki keperdulian yang tinggi terhadap Indonesia, meskipun saat ini perusahaan Sampoerna bukan lagi menjadi perusahaan nasional semenjak diakuisisi oleh perusahaan Philip Morris. Hiikss, semoga dimasa mendatang, pengusaha Indonesia lainnya atau keluarga Sampoerna bisa membeli kembali perusahaan yang pernah menjadi salah satu perusahaan nasional terbesar di Indonesia. 

Legenda Ikan Massapi di Tilanga, Tana Toraja

Kolam Tilanga
Tempat ini terletak diantara Makale dan Rantepao. Tilanga yang berada di kecamatan Makale Utara adalah tempat pemandian dengan air alam yang terasa dingin namun memberikan kesejukan luar biasa. Air kolam Tilangan yang berwarna kehijauan memiliki kejernihan yang luar biasa. Pada beberapa bagian kolam yang tidak terlalu dalam, kita bahkan bisa melihat hingga ke dasar kolam. Pengunjung dikenakan tiket masuk sehargar Rp10,000,- untuk menikmati keindahan kolam Tilanga.

Disini pengunjung dipersilahkan untuk menceburkan diri kedalam kolam dan mandi. Tetapi harap perhatikan peraturan ditempat ini yang tidak memperbolehkan pengunjung mandi menggunakan shampoo, sabun atau segala sesuatu yang brsifat detergen. Hal ini untuk menjaga kelestarian ekosistem yang ada didalam kolam Tilanga.

Bagian kolam yang terdalam
Keunikan dari kolam ini adalah adanya beberapa belut berkuping (moa) yang memiliki nama latin Anguilla Sp, sementara oarng Toraja menyebutnya Massapi. Massapi kerap keluar dari celah-celah bebatuan yang ada disekitar kolam. Anehnya tidak ada satupun yang tahu secara tepat dibagian bebatuan mana Massapi bersarang. Tidak sembarang orang dapat memanggil Massapi hingga keluar dari sarangnya. Konon ada anak kecil yang mampu memangil Massapi hanya dengan menjentik-jentikan jarinya kedalam air dengan berbekal telur bebek rebus. Saat saya berkunjung, beberapa cangkang telur terlihat dipinggir kolam.

Konon Massapi membawa keberuntungan bagi siapapun yang bisa melihatnya di kolam Tilanga, apalagi jika dapat melihat Massapi Bonga yang memiliki warna kulit belang hitam dan putih. Seperti halnya Tedong Bonga sebutan untuk kerbau dengan warna belang hitam putih yang harganya selangit karena kelangkaannya, Massapi Bonga memiliki keberuntungan yang lebih dibandingkan Massapi biasa bagi yang dapat melihatnya. Wallahualam.

Masih menurut kepercayaan yang beredar di masyarakat sektiar, Massapi pantang untuk dipancing. Kabarnya pernah ada orang yang nekat memancing Massapi. Beberapa hari kemudian tersiar berita bahwa si pemancing meninggal dunia tanpa diketahu sebabnya. Masyarakat juga percaya bahwa didalam kolam hidup raja Massapi yang kerap muncul tengah malam untuk membersihkan kolam dari dedaunan yang berguguran dari pohon-pohon disekeliling kolam sehingga pada pagi hari kolam terlihat bersih kembali.

Kesejukan yang sulit ditolak
Diluar berbagai legenda yang menyebar di masyarakat tentang Massapi, pemandian Tilangan memiliki kesejukan air yang sulit untuk ditolak. Dengan rimbunnya pepohonan disekitar kolam dan suara daun bambu yang bergesekan ditiup angin membuat kita betah berlama-lama duduk dipinggir kolam. Coba celupkan kaki anda saat berada ditepi kolam, rasakan sensasi kesejukannya yang menjalar perlahan dari ujung kaki ke tubuh bagian atas. Bagi pengunjung yang ingin mandi disini harap  berhati-hati karena ada bagian kolam yang sangat dalam dan sulit untuk disentuh dasar kolamnya. Bagi anda yang berjiwa pemberani, beberapa dahan pohon yang melintang didekat kolam derap kali dijadikan papan untuk berayun dan meloncat kedalam kolam. Anda berani mencobanya?

Kamis, 18 Desember 2014

Island Hopping. Sekali dayung tiga pulau terlampaui (Lae-lae, Samalona, Kodingareng Keke)

Cuaca cerah, waktunya ke pulau!
Setiap kali menuliskan kata kunci “Makassar” di mesin pencari, berkali-kali nama pulau Samalona muncul. Pulau yang digambarkan sebagai kepingan surga yang jatuh di tanah Sulawesi Selatan membuat rasa penasaran berkecamuk didalam pikiran.

Kesempatan mendaratkan kaki di Sulawesi Selatan untuk berlibur akhirnya terwujud. Akhir November lalu saya solo traveling ke Makassar. Tujuan utamanya pulau Samalona yang sudah lama diimpi-impikan. Cara menuju Pulau Samalona sangat mudah sekali. Tepat diseberang benteng/Fort Rotterdam anda akan menemukan dermaga kecil tempat perahu sewaan menuju pulau-pulau. Sebelum  menyeberang saya sempatkan menikmati semangkuk Pallu Basa, kuliner khas Makassar yang terdiri dari potongan daging sapi dengan kuah berbumbu pekat bercampur serundeng kelapa. Jangan lupa membeli bekal untuk makan siang di pulau dan buroncong, kue khas Makassar untuk camilan.

pulau Lae-lae, ramai pengunjung
Hari itu cuaca sedang berpihak pada saya, cuaca cerah ceria. Pulau pertama yang akan menjadi persinggahan kami adalah Pulau Lae-lae yang jaraknya hanya sekitar 15 menit saja dari Makassar. Bahkan dari ujung dermaga kita bisa melihat pulau Lae-lae. Disini kami hanya singgah untuk menjemput jaket pelampung. Meskipun merasa bisa berenang, tidak ada salahnya untuk tetap memperhatikan keselamatan dengan membawa jaket pelampung, untuk antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perjalanan kami lanjutkan menuju pulau Samalona. Pulau yang sudah lama sekali saya dengar keindahan bawah lautnya, gradasi biru jernih air laut yang berpadu dengan pasir putih terlihat begitu menawan. Tidak salah memang jika pulau ini begitu terkenal dikalangan para pejalan. Anda yang tidak membawa pakaian renang atau wet suit untuk diving/snorkling tidak usah bingung, di pulau ini menyediakan sewa wet suit, celana renang hingga alat snorkling dengan harga yang tidak mahal. Alih-alih menggunakan baju yang sudah disiapkan dari hotel, saya malah menyewa wet suit supaya tidak usah membawa pulang pakaian basah. Spot snorkling di pulau Samalona cukup bagus, dengan kejernihan airnya  aneka biota laut seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias berwarna warni dapat diobservasi dengan mudah tanpa harus menyelam terlalu dalam. Kami berpindah-pindah ke beberapa titik snorkling untuk mengeksplorasi keindahan bawah laut Samalona.

Pulau Kodingareng Keke
Puas menikmati pemandangan bawah laut Samalona, kami berpindah ke pulau Kodingareng Keke yang berjarak sekitar 25 menit dari Samalona. Kawan, harus saya akui, diantara ketiga pulau; Lae-lae, Samalona dan Kodingareng Keke hati saya tertambat di pulau yang terakhir . Pulau tak berpenghuni ini hanya terdiri dari dataran yang terbentuk dari gundukan pasir putih dengan beberapa batang pohon yang berhasil bertahan hidup dari teriknya matahari ditengah laut. Disini sejauh mata memandang hanya jernihnya laut biru bersanding dengan putihnya pasir membentuk harmoni yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Pulau ini benar-benar mencuri hati saya. Teriknya matahari terkalahkan oleh pemandangan yang terhampar didepan mata. Sempatkan untuk berkeliling, anda bisa menemukan bintang laut berwarna biru dipinggir pantai. Kebetulan hari itu pengunjung pulau Kodingareng Keke tidak terlalu banyak, jadi serasa ada di pulau pribadi. Meskipun pulau ini tidak berpenghuni, tetapi ada satu dua nelayan yang kerap singgah di pulau Kodingareng Keke. Menurut mereka, pulau ini dulu pernah berpenghuni tetapi kemudian, sang penghuni pergi meninggalkan pulau setelah rumah mereka roboh terkena abrasi pantai. Sisa-sisa pondasi rumah masih terlihat dipinggiran pantai.

Welcome to my paradise ;-)
Di pulau ini, untuk pertama kalinya dalam hidup saya mencicipi lauk yang biasa dimakan nelayan. Mereka menyebutnya kerbau laut atau tedong laut. Tedong laut adalah sejenis kerang hias besar yang diolah hanya dengan dibakar saja tanpa bumbu apapun. Pak Saeful, salah seorang nelayan yang kebetulan singgah di pulau membakar beberapa tedong dan mengupas cangkang tedong sebagai hadiah buat saya. Duh jadi terharu banget diberi hadiah oleh nelayan. Tanpa sungkan, saya ambil tedong yang sudah dibakar dari tangan pak Saeful dan langsung melahapnya. Awalnya saya sempat membatin, seperti apa ya rasanya. Ternyata setelah satu tedong meluncur kedalam mulut, saya malah ketagihan! Rasanya gurih sekali...., seperti escargot. Hmmmm pantas saja ya nelayan punya stamina yang tinggi, makanan mereka berprotein tinggi dari alam. Selesai makan siang, saatnya merebahkan badan diatas hammock yang sudah tertata manis. Aahh…indah sekali dunia saya saat itu rasanya, berayun-ayun diatas hammock dengan pemandangan pasir putih dan laut biru didepan mata serta semilir angin pantai. Samar-samar lagu welcome to my paradise terdengar ditelinga, OK itu halusinasi saya yang terlampau menikmati suasana yang luar biasa relaksnya. Bak di pulau pribadi! No work…no phone call….no email….benar-benar menikmati alam. Oya, di pulau ini sinyal provider apapun nyaris tidak bisa tembus. Ada bagusnya juga, jadi waktu untuk menikmati pulau tidak terganggu oleh komunikasi apapun bentuknya.

Tedong laut. Berani coba?
Sebelum pulang kami sempatkan untuk kembali snorkling di beberapa spot. Untuk para pengunjung, sebaiknya baca aturan yang ada di pulau Kodingareng Keke agar tidak belajar snorkling di area yang padat karang karena dalam setahun karang hanya mampu tumbuh sebesar 1cm saja. Selain itu pengunjung juga dihimbau untuk menjaga kebersihan pulau. Kesal rasanya melihat ada sampah botol plastik, puntung rokok maupun botol beling dibeberapa sudut pulau. Apa sih susahnya mengutip sampah sebelum meninggalkan pulau.

Tepat pukul 3 sore, saya bertolak kembali menuju kota Makassar. Petualangan 3 pulau sudah usai, tetapi semua kenangan masih terekam kuat dan terus berputar-putar dalam ingatan. Rasa lelah yang muncul langsung lenyap saat mengingat betapa indah maha karya sang Pencipta yang sudah menurunkan tetesan-tetesan surga di bumi Sulawesi Selatan.

Terimakasih tak terhingga untuk kawan-kawan baru saya di Makassar, Firman, Arief dan Ipang yang telah memandu menjelajah alam bawah laut pulau Samalona dan Kodingareng Keke yang mempesona. Buat hammocknya yang sudah membuai saya ke alam khayal, buat minuman coklat milonya yang dibuat dengan menggunakan kompor Trangianya yang lebih mahal dari harga kompor saya dirumah. Tanpa kalian liburan saya tidak berarti apa-apa. Kalian sudah membuktikan keramahan sejati orang Makassar dan kepiawaian kalian melakukan free dive sudah tidak diragukan lagi. Tunggu saya kembali ke kota ini ya!

Jappa-jappa (Jalan-jalan) di kota Makassar Dalam 6 Jam

Memiliki waktu hanya 6 jam di kota Makassar yang dikenal sebagai kota “Anging Mamiri” bukan berarti cuma bisa berdiam diri di hotel tempat menginap. Dalam 6 jam saja ternyata banyak tempat yang bisa disambangi. Gak percaya? Cek tulisan berikut ini.

Fort Rotterdam di pagi hari, cantik!
Jam 8 pagi jalan-jalan dimulai. Tujuan pertama adalah benteng Rotterdam. Benteng yang awalnya bernama benteng Ujung Pandang ini berdiri sejak tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-10 terletak dijalan Ujung Pandang no 2. Sebetulnya tidak ada tiket masuk ke benteng ini, tetapi pengunjung diminta untuk memberi sumbangan serelanya. Benteng dengan dinding bercat kuning langsat terlihat kontras berpadu dengan beberapa daun jendela dan pintu yang berwarna merah. Di benteng ini terdapat ruang tahanan Pangeran Diponegoro. Fort Rotterdam memiliki museum dengan nama yang unik “La Galigo” yang diambil dari nama karya sastra klasik dunia yang besar dan terkenal. Pertimbangan lainnya, nama La Galigo sangat terkenal di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. La Galigo adalah seorang tokoh legendaris putra Sawerigading Opunna Ware dari pernikahannya dengan We Cudai Daeng Ri Sompa. Setelah dewasa La Galigo dinobatkan menjadi Payung Lolo (Raja Muda) di kerajaan Luwu yang merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Saya terkesan melihat Museum La Galigo cukup terawat, terlihat betapa masyarakat Makassar begitu mengapresiasi sejarah mereka ditempatnya sendiri. Isi museum seperti pada umumnya memuat koleksi benda-benda bersejarah yang tersimpan apik didalam lemari kaca. Ada juga baju tradisional dan kain songket Makassar yang terkenal kehalusannya.  Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi benteng Rotterdam yang saat terekam kamera tampak begitu dramatis antara bentuk bangunan kolonial berpadu dengan birunya langit. Cantik, bak lukisan!

Pinisi, kapal nenek moyang
Konon asal usul nenek moyang kita yang seorang pelaut berasal dari Makassar. Pelaut Makassar terkenal kehebatannya mengarungi luasnya samudera dengan Kapal kayu tradisional yang disebut Kapal Pinisi. Maka pelabuhan Paotere menjadi tempat kedua yang dikunjungi. Pagi hari hiruk pikuk di pelabuhan Paotere sudah terlihat. Beberapa kapal Pinisi sedang melakukan bongkar muat dan perbaikan. Beberapa kapal lainnya tampak sedang istirahat bersandar saja di pelabuhan. Sementara itu di sisi lain dari pelabuhan Paotere tampak sekumpulan anak-anak kecil sedang berenang riang gembira bersama di laut. Tidaklah heran kalau label pelaut ulung dilekatkan pada orang Makassar. Laut menjadi taman mereka bermain semenjak kecil rupanya.  Puas mengamati aneka kapal Pinisi yang sedang berlabuh, kaki kembali melangkah menuju tempat berikutnya.

Mesjid Raya Makassar, bak istana.
Mesjid Raya Makassar yang didominasi warna putih terlihat seperti istana yang berdiri anggun dibawah langit biru berawan putih. Sejenak saya terpana…., dimata saya mesjid ini tampak bak istana yang ada di dongeng-dongeng negeri timur tengah. Satu persatu saya menapaki tangga mesjid yang megah ini. Pada salah satu dinding terdapat daftar nama panitia pemugaran Mesjid Raya Makassar yang dilakukan pada tanggal 16 Juni 1976. Nama H. Kalla dan H. Drs. Yusuf Kalla ada didalam daftar. Mesjid ini sendiri kemudian diresmikan oleh H. Yusuf Kalla dibulan Mei 2005 saat beliau menjadi Wakil Presiden RI. Mengintip ke bagian dalam mesjid, saya mendapati sebuah Al-Quran besar dengan ukuran 1m x1,5m dan berat 544kg. Al-quran ini dikerjakan selama 12 bulan lamanya dan ditempatkan dalam kotak kayu jati yang sudah dikeringkan selama 1 bulan agar tahan hingga ratusan tahun. Subhanallah…

Mesjid Apung Amirul Mikminin
Selain Mesjid Raya Makassar, ada dua mesjid lagi yang wajib untuk dikunjungi. Mesjid apung Amirul Mukminin yang terletak dipinggir pantai Losari. Mesjid mungil dengan kubah biru yang menjorok ke laut ini disangga oleh tiang-tiang kokoh menjadikannya terlihat cantik dan menjadi icon baru di pantai Losari. Mesjid selanjutnya adalah Al Markaz yang merupakan mesjid terbesar se Asia Tenggara. Konon tinggi tiang menara mesjid Al Markaz menyamai tinggi menara Masjidil Haram. Luar biasa….

Mayoritas penduduk di Makassar adalah muslim, tetapi jangan heran jika disini tempat-tempat ibadah agama lainnya dengan mudah bisa ditemui. Agaknya kerukunan hidup beragama sudah tertanam dengan baik disini. Saat saya mengambil gambar-gambar tempat ibadah seperti gereja dan klenteng pun mereka tidak melarang, malah mempersilahkan. Tentu saja saya paham aturan mengambil gambar ditempat ibadah, tidak boleh memotret dari depan saat umat sedang menjalankan ibadah dan tidak mengganggu umat yang sedang beribadah.

Klenteng Xian Ma
Klenteng pertama yang disambangi adalah Yayasan Marga Thoeng, sejak tahun 1898. Sayangnya hari itu klenteng sedang tidak dibuka, jadi saya hanya bisa mengambil gambar pintu klenteng yang berwarna merah dengan hiasan beberapa lampion diatasnya. Beberapa meter dari Yayasan Marga Thoeng, ada Klenteng Kwan Kong. Kali ini cukup beruntung. Klenteng sedang dibuka dan beberapa umat tampak sedang sembahyang didalamnya. Klenteng ini tampak kental nuansa orientalnya dengan ornamen patung singa yang sedang duduk sambil menggenggam bola dikaki kanannya. Di bagian dalam klenteng terdapat lonceng besar berwarna emas dengan tulisan china berwarna merah pada badan lonceng. Sementara pada altar untuk sembahyang yang berwarna merah, tampak beberapa lilin dan sesaji seperti minuman dan buah-buahan diatasnya.

Keseruan belum berakhir, hanya berjarak beberapa belas meter saja tiba di Istana Naga Sakti Klenteng Xian Ma. Uniknya klenteng Xian Ma diresmikan oleh H. Syahrul Yasin Limpo yang menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 2009. Nah, sekali lagi bukti kerukunan antar umat beraga terlihat disini. Berseberangan dengan Klenteng Xian Ma, tampak Vihara Ibu Agung Bahari. Bagian depan vihara tampak dihiasi dengan lampion berwarna merah dengan beberapa pilar berukir menopang canopy teras vihara.

Gereja Katedral
Tempat terakhir yang dikunjungi adalah gereja Katedral. Sengaja saya memilih gereja sebagai tempat terakhir untuk dikunjungi agar tidak mengganggu umat kristiani yang sedang melakukan ibadah minggu. Pagi itu gereja Katedral tampaknya sedang mempersiapkan pohon natal yang besar. Di depan gereja terlihat rangka besi yang menyerupai pohon cemara. Bangunan gereja Katedral ini cukup mungil ukurannya. Dindingnya berwarna coklat muda beraksen atap dengan warna coklat yang lebih tua, terlihat klasik dan tidak berlebihan. Sederhana namun tidak mengurangi keanggunannya.

Waah ternyata jappa-jappa atau jalan-jalan dalam Bahasa Makassar selama 6 jam cukup banyak juga tempat yang bisa disambangi ya. Meskipun matahari terik tetapi angin sepoi-sepoi membelai seakan meredakan teriknya sengatan matahari. Tidak salah kalau kota Makassar dijuluki sebagai kota “Anging Mamiri”. Sampai bertemu lagi kota Makassar, semoga tahun depan saya bisa kembali lagi!

Kamis, 24 Juli 2014

Washington, A Sweet Trip to Remember


Penampakan Embassy of Indonesia
Tempat penting yang seringkali terlupakan untuk dikunjungi saat anda melancong keluar negeri adalah Kedutaan Besar yang mewakili negara anda. Padahal jika anda tertimpa musibah saat di negara orang, maka pihak Kedutaan Besarlah yang akan menjadi penolong anda.

Nah, selagi saya berada di Amerika maka kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia yang terletak di 2020Massachusetts Avenue N.W. Washington DC masuk kedalam agenda wajib kunjungan saya. Apalagi Brigjen Arief yang menjabat sebagai Atase Polri disana sudah membantu menyiapkan acara ramah tamah dengan Duta Besar Indonesia, Ambassador Budi Bowoleksono dilanjutkan dengan foto bersama dan ditutup makan siang dengan menu Asia. Rupanya beliau paham betul dengan kondisi para tamu-tamu Indonesianya yang akan berkunjung sudah rindu masakan tanah air terutama nasi :D

tangga dimana Evalyn sering
menampakan diri
Bicara tentang Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amerika Serikat, kita patut berbangga hati sebab gedung yang dibeli pada tahun 1952 memiliki nilai historis yang tinggi dan termasuk gedung Kedutaan paling cantik. Interior gedung dengan langit-langit yang dilukis bak awan dan ukiran-ukiran kayu berdetail rumit dilengkapi tangga dengan patung 2 orang perempuan melengkapi kecantikan gedung ini. Gedung KBRI dikenal dengan sebutan Walsh Mansion. Gedung ini dibangun oleh Thomas J. Walsh seorang imigran dari Irlandia yang pindah ke Washington DC pada tahun 1898 dimana ia membangun Walsh mansion. Thomas Walsh wafat pada April 1910, rumah tersebut ditempati oleh anak perempuannya, Evalyn Walsh yang menikah dengan Edward Beale "Ned" McLean. Di tahun yang sama, McLean membelikan sang istri sebuah berlian yang diduga memiliki kutukan. Setelah membeli kalung berlian biru yang kemudian dikenal dengan The Hope Diamond, tragedi demi tragedi terjadi pada keluarga tersebut. Evalyn dan suaminya kehilangan anak laki-lakinya yang berusia 9 tahun dalam sebuah kecelakaan mobil, McLean meninggal akibat serangan jantung dan anak perempuan mereka meninggal akibat over dosis obat tidur. Sejak kematian Evalyn 26 April 1947, Walsh mansion dijual kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia pada tahun 1952 senilai US$355.000 jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pembuatannya yang mencapai US$850.000 di tahun 1903. Saat ini The Hope Diamond disimpan di George Washington monument.

Konon roh Evalyn sering terlihat di gedung yang pernah menjadi kediamannya. Banyak cerita-cerita mistis diseputar ruangan-ruangan yang ada di gedung KBRI ini. Tangga yang berada diruangan tengah kabarnya menjadi salah satu tempat dimana roh-roh halus sering menampakan diri. Waktu saya permisi untuk menggunakan toilet dilantai bawah, mereka meminta saya untuk cepat-cepat naik ke lantai satu. Meskipun tidak menjelaskan ada apa, tetapi dari raut wajahnya bisa saya simpulkan bahwa sesuatu yang kasat mata dan tidak menyenangkan terlihat diruangan paling bawah dari KBRI.

Ini dia ruang kerja Ambassador
Barangkali saya termasuk yang beruntung karena diperkenankan mengintip ruang kerja Ambassador yang siang itu tidak bisa menemani makan siang bersama karena akan menjemput Bapak B.J. Habibie yang rupanya sedang bertandang ke Washington DC. Ruangan kerja yang luas dilengkapi dengan satu buah meja kerja kayu berukuran besar dan kursi kerja yang berbahan kulit warna merah marun dengan karpet warna senada menghiasi lantai tepat dibawah meja kerja. Satu perangkat sofa diletakan diseberang meja kerja untuk berbincang-bincang. Penataan yang apik dan pemilihan furniture yang tepat menjadikan ruangan ini enak untuk dilihat.

Ruangan kerja ini memiliki beberapa jendela yang tinggi-tinggi sehingga cahaya dapat menerobos masuk kedalam ruangan menjadikan ruangan terang dan terasa lebih hangat.

Mumpung Ambassador sedang keluar KBRI, saya manfaatkan untuk mengambil beberapa gambar diruangan istimewa ini. Kapan lagi, mumpung bisaa...hehehe

Selesai berkeliling gedung KBRI meskipun hanya dilantai satu saja, saya dan rombongan bersiap-siap makan siang dengan menu istimewa, asian cuisine! selesai makan, kami berpamitan dengan Brigjen Arief dan beberapa staf KBRI yang hari itu hadir untuk menyambut kami untuk melanjutkan acara jalan-jalan di seputar Washington DC. Terimakasih pak Arief atas undangannya!

Capitol Building
Disekitar Washington DC banyak tempat-tempat wisata yang gak akan bisa dijelajahi dalam waktu singkat. Sayang banget, mengingat kami harus kembali ke Moyock, North Carolina yang berjarak sekitar 4 jam dari Washington DC, gak begitu banyak tempat yang bisa dikunjungi. Hanya beberapa lokasi wajib saja seperti The United States Capitol. Gedung yang didirikan tahun 1800-an dengan arsitek William Thornton itu menjadi kantor bagi anggota parlemen AS. Bangunan ini punya kubah besar bergaris di bagian tengahLincoln Memorial Park

White House
Gedung lainnya yang kami sambangi adalah White House atau kediaman Presiden AS rumah bergaya Georgian yang menjadi tempat tinggal resmi para presiden AS sejak Presiden Kedua AS Johan Adams, tahun 1800. Jadi, selama 200-an tahun lebih, orang-orang nomor satu di negeri itu tinggal di sana, termasuk Barack Obama. Gedung ini dibangun pada masa presiden George Washington. Meskipun dibangun olehnya, tapi George Washington tidak pernah menempati gedung ini. Gedung ini juga pernah dibakar oleh tentara Inggris pada 1814. Pembakaran ini membuat Gedung Putih berwarna hitam. Setelah direnovasi, gedung ini kemudian dicat putih, sehingga orang menyebutnya Gedung Putih. Gedung Putih terletak di utara George Washington Monumen.

Bila Gedung Putih merupakan tempat bagi eksekutif beraktivitas, Capitol Building adalah tempat beraktivitasnya legislatif. Secara topografi, letak Capitol Building lebih tinggi daripada Gedung Putih. Ini melambangkan bahwa legislatif lebih tinggi dari pada eksekutif. Rakyat lebih tinggi dari pemerintah. Banyak tempat di Washington DC yang memiliki makna-makna simbolis seperti ini. Simbol-simbol ini umumnya menceritakan tentang sejarah Amerika. Unik ya ternyata penempatan gedung pun menjadi simbol-simbol yang memiliki arti tersendiri.


George Washington Monument

White House, Washington Monument, dan United States Capitol berdiri pada titik segitiga di jantung kota Washington DC. Pada jarak lurus antara Washington Monument dan United States Capitol, terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall. Dari jalur terbuka inilah, para wisatawan leluasa mengamati kota. Duduk-duduk disini sambil mendengarkan kicauan burung terasa amat menyenangkan. Satu hal yang agaknya sulit untuk didapatkan di Indonesia adalah banyaknya burung yang bebas berkeliaran di taman dan bahkan di jalan-jalan. Di Indonesia jangan harap burung bisa bebas bercengkrama di taman, pemburu-pemburu liar sudah barang tentu menyiapkan senapan angin atau jebakan buat menjeratnya.

George Washington Monument sendiri merupakan tugu yang paling dihormati oleh masyarakat Washington DC. Hal ini sebagai ungkapan terima kasih masyarakat Amerika terhadap mendiang presiden pertama Amerika, George Washington. Bentuk penghormatan ini, salah satunya adalah ketinggian gedung-gedung di Washington DC tidak boleh lebih tinggi dari George Washington Monument. Dan hal ini benar-benar ditaati oleh masyarakat Washington DC.


Gereja di pusat kota Washington DC
Kota Washington DC sendiri memiliki sejarah yang menarik untuk dicermati. Washington DC (singkatan dari District of Columbia) didirikan tahun 1790. Kota pinggir Sungai Potomac ini didesain arsitek Perancis, Pierre Charles L’Enfant, sebagai ibu kota negara. Rancangannya bergaya Eropa abad pertengahan. Maka tidak heran jika tata kotanya banyak mengadopsi gaya Eropa dengan taman dan bundaran ditengah-tengah untuk membagi jalan. Gedung-gedungnya pun banyak mengadopsi gaya eropa Renaissance.

Washington DC memang bukan hanya pusat pemerintahan Amerika Serikat. Lebih dari itu, kota ini memang dirancang dengan nilai filosofi yang tinggi. Sebuah nilai yang ikut membangun negara ini ratusan tahun silam
Sebelum kembali ke North Carolina hari itu,  satu yang tidak boleh dilewatkan adalah mampir ke "gudang" untuk berbelanja souvenir dengan harga super murah. Kawasan ini sebetulnya tempat penyimpanan barang/gudang tetapi pemilik gudang sekaligus membuka toko di gudangnya. Barang-barang yang dijual sama dengan yang dapat anda temui di seputaran Capitol Building dan kawasan wisata sekitar Washington DC tetapi tentu saja harganya jauh lebih miring. Malah kalau melakukan transaksi pembelian dalam jumlah lebih dari 3 buah mendapat diskon khusus. Sudah murah, dapat diskon pula! waaah bikin kalap orang Indonesia deh! hahhahaa...berita buruknya, konon kawasan gudang ini akan dipindahkan dari lokasi sekarang. Sekali lagi, keberuntungan masih menyertai kami. Well, sekalipun trip hari ini ke Washington begitu padat dan singkat tetapi tidak mengurangi makna mendalam yang didapatkan. Selalu menarik untuk mempelajari sejarah baik itu dari negara sendiri maupun negara lain. Sebagai penggemar wisata sejarah, bagi saya perjalanan ini sangat memuaskan.




Rabu, 23 Juli 2014

BULE AMERIKA RASA JOGJA!



Demi keinginan narsis teman-teman Indonesianya
Lael rela ber-dress code t-shirt US flag
Berbeda dengan postingan saya sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang seorang warga negara Amerika tulen yang bercita rasa Jawa. Kami bertemu saat tugas bersama di US Academi training center Moyock, Virginia. Saat pertama kali bertemu dengannya di bandara Dulles, saya membatin. Wah escortnya bule abis tampangnya pasti gak bisa bahasa Indonesia nih. Ternyata saya salah sodara-sodara! Pepatah never judge the book by its cover bener-bener mengena banget ke saya. Diluar dugaan Lael Giebel yang dikemudian hari akrab dipanggil bu Lela oleh para peserta pelatihan, sangat fasih berbahasa Indonesia yang baik dan benar bahkan mengenal beberapa bahasa pergaulan. Cukup surprise ada bule yang tahu bagaimana menempatkan kata "sialan" dalam sebuah kalimat dengan tepat. Selidik punya selidik bu Lela ini pernah tinggal selama 6 bulan bersama sebuah keluarga di Bali yang gak bisa ngomong bahasa Inggris sama sekali, dilanjutkan kuliah di UGM selama 2 tahun dan bekerja di Solo selama 1 tahun bahkan sempat bertunangan dengan orang Cilacap! Haahaha seru yaaaa pantes aja bahasa Indonesianya lancar jaya.
Tiga wanita yang ada di group

Bertugas selama 2,5 minggu di Amerika membuat hubungan antara saya, Lela dan teman-teman lainnya menjadi kuat. Berada disebuah area terpencil dengan keterbatasan transportasi membuat kami mau gak mau sering ngumpul bareng. Makan pagi bareng, pergi kelas bareng, makan siang bareng, mengerjakan tugas bareng sampai makan malam bareng. Pendek kata hampir semua aktifitas dilakukan bersama-sama deh. Kebetulan diantara gersangnya peserta training ada satu orang peserta wanita, Indri. Jadilah kemana-mana kami bak trio kwek-kwek yang kesana kemari selalu bersama. Berangkat dari perasaan senasib jauh dari keluarga kami berusaha saling menghibur satu sama lain dengan bercanda. Setiap hari ada saja bahan untuk tertawa bersama yang bisa bikin sejenak melupakan rasa capek dan rindu tanah air serta keluarga dirumah. Mie instan dan sambal terasi botolan jadi pengobat rindu makanan Indonesia. Ternyata bener ya kalau pergi jauh dalam waktu lama perlu juga bawa makanan2 seperti itu. Padahal dulu saya gak gitu percaya akan hal ini lho. Bicara tentang mie instan, bu Lela ini paling suka makan indomie rasa soto! Sampai terharu saya melihat bagaimana dia menikmati setiap sendok indomie rasa soto masuk kedalam mulutnya. Makanan lokal Indonesia lainnya yang menjadi favorit bu Lela adalah nasi liwet dan wedang ronde, see.... Jawa banget kan seleranya? :D

Lael ini sering jadi sasaran empuk godaan para peserta pelatihan yang 99% kaum pria. Ada salah satu peserta yang selalu meneriakan namanya setiap bertemu "Laaaaeeeellll". Suatu pagi kami bersiap-siap menghadiri acara kelulusan, si peserta yang hobi meneriakan namanya berpapasan dan berlalu begitu saja. Lael bilang sama saya kalau dia sedih banget hari ini belum di "Elel". Bingung kaaann?? sama!! saya juga bingung banget, otak berputar-putar mencari arti kata 'Elel' dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata yang dimaksud 'Elel" adalah teriakan khas "Laaaaeeelll", ya amppunnn jadi ketawa ngakak deh!

Kejadian lucu lainnya saat kami pergi berbelanja ke wallmart. Setelah menemani peserta laki-laki berbelanja, Lael minta mereka lihat-lihat sementara dia mau ke rak lainnya.Karena malu dengan mengendap-ngendap Lael mengambil beberapa potong pakaian dalam, saat membalikan badan, taarraaaa!! peserta tadi sudah ada dibelakangnya! ternyata mereka mengekori Lael dari awal bwahahahaa....percuma aja diem-diem ke bagian pakaian dalam wanita.

Lela dan keluarga baru Indonesianya :-)
Sebagai bule, saya menilai Lela ini punya jiwa ke-Indonesia-an yang cukup tinggi. Empatinya dan sensitifitasnya terhadap sesuatu seperti orang Jawa yang berperasaan halus. Selera humornya yang tinggi membuat dia dengan cepat beradaptasi dengan rekan-rekan dari Indonesia. Lael/ Lela rupanya sangat terkesan dan jatuh hati dengan Indonesia sampai-sampai dia merasa kalau Indonesia adalah "rumah kedua"nya. Bahkan ke-empat anaknya pun menyangka kalau dia berasal dari Indonesia! rasa cintanya terhadap Indonesia rupanya menular kepada anak-anaknya. Suatu hari sang anak mengajukan ide untuk membuat "International Day" di sekolah. Setiap anak diwajibkan memakai pakaian dari negara tertentu dan membawa makanan khas negara tersebut. Anak Ibu Lela tentu saja menggusung konsep baju Indonesia dilengkapi dengan membawa pisang goreng buatan sang mami. Di sekolah dengan fasih dia bercerita tentang Indonesia yang belum pernah dikunjunginya sama sekali!! kok bisa sih? ya iya dong...kan sekarang jamannya canggih, bisa jalan-jalan ke Indonesia lewat internet. Cerdas yaaa idenya!

Satu hal yang sangat saya sesali, dan belakangan saya mendapati bahwa Lael juga sama menyesalnya dengan saya adalah, kami kurang banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol di malam hari. Karena kecapekan bertugas biasanya malam hari lebih banyak saya habiskan didalam kamar atau mengecek-ngecek tugas kantor lewat email. Baru di hari-hari terakhir menjelang kepulangan kami banyak menghabiskan waktu di malam hari bersama-sama juga dengan teman-teman lainnya bermain....poker!! Aahh andai waktu bisa diulang kembali....

buku kenangan
Pada malam perpisahan Lael memberikan cinderamata untuk semua teman-teman Indonesia barunya. Sesuatu yang memiliki nilai sentimental dan mampu membuat mata menjadi panas saat melihatnya kembali di Indonesia. Khusus untuk saya dia memberikan sebuah buku dengan catatan yang sangat menyentuh didalam lembaran pertamanya.

24 May, 2014
Kepada April yts,
Ini buat sahabatku yang baik, biar tidak lupa sama saya, dan
pengalaman kita di Academi.
Peluk cium,
Lael Giebel.

Sampai hari ini, buku berjudul Telling The Bees tersebut belum bisa saya baca, karena saya terlampau rapuh untuk melewati lembaran pertama dimana tulisan itu berada.

Gak terasa hari cepat sekali berganti. Tiba waktunya untuk semua orang kembali ke kampung halaman masing-masing. Lael memeluk erat saya saat kami berpisah di Dulles airport dan airmata saya tidak henti-hentinya mengalir dari kedua mata. Heeiii...bahkan saat menuliskan ini pun mata saya masih saja memanas dan berkaca-kaca!

Oya, Lela ini punya kemampuan Reiki yang hebat. Dia pernah mengirimkan saya energi dari Amerika dan saya bisa merasakannya di Indonesia! Lebih jauh lagi dia bercerita kalau pria beruntung yang menjadi suaminya adalah hasil Reiki!! wuiihh hebat banget yaaa..!

Hingga saat ini kami masih menjalin komunikasi intens lewat blackberry messenger yang sengaja dia pasang hanya untuk berkomunikasi dengan teman-teman Indonesianya! semoga suatu hari nanti dia berkesempatan mengunjungi Indonesia, rumah keduanya.

Tulisan ini saya buat khusus untuk sahabat tercinta nun jauh di Florida sana. Lael, kamu harus ingat ini ya bahwa "Puncak rindu yang paling dahsyat adalah ketika dua orang tak saling bertemu tetapi diam-diam saling mendoakan".

Peluk sayang dari Indonesia

 

Selasa, 22 Juli 2014

Serunya perayaan hari Pahlawan di kota tua Williamsburg



Gereja tua di Williamsburg
Hari Pahlawan/Memorial day di Amerika Serikat diperingati setiap tanggal 26 Mei. Hari Pahlawan termasuk salah satu hari nasional di Amerika Serikat yang dirayakan secara besar-besaran untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang berjasa pada negara. Salah satu kota yang mengadakan perayaan hari Pahlawan dengan atraksi adalah kota Williamsburg di Negara bagian Virginia. Saya beruntung berada disana saat Williamsburg merayakan hari Pahlawan. Williamsburg sendiri adalah kawasan kota tua yang sangat bersejarah seluas 301 hektar bak museum yang terbuka. Disini terdapat kawasan yang dikenal dengan nama Colonial Williamsburg, yang merupakan tempat wisata favorit para turis domestik maupun mancanegara. Setiap bangunan yang ada di Colonial Williamsburg termasuk bangunan yang dilindungi atau menjadi cagar budaya. Bangunan-bangunan tersebut bergaya colonial Inggris. Sejarahnya orang-orang Inggris mulai berdatangan ke Amerika Serikat dan menetap di Jamestown, Virginia pada tahun 1607. Tahun 1770-an tigabelas koloni Inggris mencapai jumlah dua setengah juta penduduk dan terus berkembang dengan pesat. Konflik panas antara Inggris dan Amerika dimulai pada bulan April 1775, dimana setelah melalui Revolusi Amerika, koloni-koloni membebaskan diri dari kerajaan Britania Raya pada tanggal 4 Juli 1776 dan mendirikan Amerika Serikat. Selama abad ke-18 Williamsburg menjadi pusat pemerintahan, pendidikan dan budaya dari koloni Virginia.

Tradisional Market
Konon katanya kawasan ini terkenal juga dengan penampakan hantu-hantu dari masa lalu. Seringkali turis yang berkunjung melihat penampakan orang-orang dengan pakaian ala colonial Inggris berada di taman atau didalam bangunan. Penampakan ini bukan sekedar mitos, meskipun tidak mengganggu namun para hantu tidak anti kamera sehingga turis kerap mendapatkan penampakan mereka meskipun tidak terlihat jelas.
Tidak ada biaya tiket untuk memasuki area kota colonial Williamsburg. Setiap wisatawan bebas berkunjung untuk melihat-lihat aneka bangunan tua cantik yang terawat apik atau anda juga bisa mampir ke toko-toko cinderamata dengan aneka barang bercirikan kota colonial atau bahkan sekedar duduk-duduk cantik sambil minum kopi dan menikmati lalu lalang pengunjung. Bagi anda yang menyukai wisata sejarah dan landscape, kota colonial Williamsburg wajib anda masukan kedalam agenda wisata. Anda juga bisa berbelanja di tradisional market yang hanya buka hingga jam 2 siang saja. Beberapa toko memberikan voucher untuk berbelanja di tradisional market apabila melakukan transaksi di toko mereka. Unik ya, keberadaan toko-toko tidak mematikan pasar tradisional.

Parade Marching Band
Saya cukup beruntung, hari itu dalam rangka memperingati hari Pahlawan kota colonial Williamsburg mempersembahkan marching band yang dibawakan oleh anak-anak remaja, uniknya mereka mengenakan kostum Inggris. Tidak hanya itu, disini anda bisa berfoto dengan kereta kuda bak kereta kencana kerajaan dengan kusir yang berpakaian ala prajurit Inggris lengkap dengan rambut palsu bergelombang yang dikuncir ke belakang. Anda juga bisa menyewa kereta kuda untuk berputar-putar dikawasan Williamsburg, tetapi berjalan kaki sambil menikmati berbagai bangunan tua bersejarah merupakan keasyikan yang berbeda. Bangunan-bangunan bersejarah di Williamsburg ada yang difungsikan sebagai toko maupun kafe tetapi banyak juga yang dibiarkan kosong meskipun demikian tetap terlihat apik. Jika anda berkunjung ke Williamsburg, jangan lupa mampir ke toko souvenir "Everything Williamsburg". Toko cantik yang kental dengan nuansa kolonial Inggris ini menjual aneka cinderamata dengan kualitas yang bagus.  Ohya asiknya lagi, Williamsburg menawarkan berbagai atraksi yang berbeda-beda setiap season. Jadi musim apapun anda berkunjung akan selalu ada atraksi menarik untuk anda nikmati disini.

Toko Favorit saya, Everything Williamsburg
Selain berbagai atraksi dalam rangka memperingati hari Pahlawan, warga Amerika Serikat dan wisatawan juga dimanjakan dengan adanya memorial big sale yang memberikan diskon besar-besaran sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan. Beberapa toko bahkan memberikan diskon khusus untuk veteran tentara ataupun keluarga tentara. Menarik ya bagaimana Amerika Serikat memberikan atensi dan apresiasi yang tinggi untuk orang-orang yang berjasa terhadap negara. Kawasan berbelanja favorit para turis dan bahkan warga Amerika sendiri di wilayah ini adalah Williamsburg Outlet Mall. Kawasan ini dikenal dengan barang-barang brandednya yang dijual dengan harga miring. Berada di kawasan Williamsburg Outlet Mall disaat Memorial big sale bak mendapat durian runtuh! merk-merk ternama seperti Guess, Nine West, Kate Spade, Nike, Reebok, Calvin Clain, Zara, Mango, Seiko dan masih banyak lagi berlomba-lomba memberikan diskon hingga 70% saat periode Memorial big sale yang biasanya digelar hanya 1 minggu saja. So, buat anda yang punya rencana berkunjung ke Amerika Serikat, upayakan tanggal kunjungan anda tepat mengenai periode Memorial Big Sale ya, selain itu bulan Mei cuacanya relatif adem jadi enak banget buat dipakai berjalan kaki menikmati kesegaran udara dan hangatnya sinar matahari yang tidak menyengat. Alternatif lainnya bisa juga di bulan November saat perayaan Thanks Giving dimana warga Amerika dan wisatawan kembali dimanjakan dengan big sale. Tuh baik kan saya kasih bocoran ini. Nah, tunggu apalagi, segera rencanakan perjalanan anda ke Amerika Serikat, have fun go mad!
















Minggu, 20 Juli 2014

Misteri Mermaid dan Rumah Hantu di Kota Norfolk

Menginjakkan kaki di kota Norfolk pagi hari. Cuaca sedikit hangat dengan udara yang super fresh dan hembusan angin sejuk membelai kulit. Tujuan utama sudah terpenuhi, river cruise berkeliling US Naval base.
 
Princess Azalea menunjuk
 "Battleship Wisconsin"

Di setiap penjuru kota Norfolk anda dapat menjumpai gambar putri duyung atau "Mermaid". Selidik punya selidik ternyata mermaid sudah menjadi maskot dari kota Norfolk sejak tahun 2000. Mermaid dipilih menjadi maskot kota ini untuk mempercantik kota dan menjadi alat bantu wisatawan yang berkunjung. Citra kota Norfolk yang semula adalah kota pelabuhan tua saat ini sudah berganti menjadi kota mermaid. Transisi mermaid ini tidak hanya sebagai logo kota tetapi juga sudah menjadi symbol kebanggaan warga Norfolk. Agaknya kampanye perubahan image kota Norfolk berhasil dengan baik, tidak seperti trend-trend yang bersifat sementara, trend me-mermaidkan kota Norfolk berjalan secara permanen.So, kalau anda solo traveling ke kota ini gak usah khawatir akan tersesat. Petunjuk arah mermaid banyak bertebaran dalam bentuk aneka rupa seperti patung, pohon penunjuk arah, dan lain sebagainya. Ini kunci yang paling penting untuk wisatawan. Perhatikan arah tangan mermaid. Kalo dia menunjuk kearah kanan/kiri artinya kearah yang ditunjuk ada tempat menarik untuk anda kunjungi. Idenya bagus sekali ya, mempermudah turis sekaligus menarik perhatian. Mermaid juga menjadi oleh-oleh khas dari Norfolk dalam bentuk boneka, pin ataupun cinderamata lainnya.
 
Mermaid yang dirantai

Masih tentang mermaid, saat saya menyusuri kawasan Freemason mata saya tertumbuk oleh patung-patung mermaid berukuran mini yang ditata dibawah sebatang pohon dalam kondisi dirantai. Selagi sibuk memperhatikan dan berfikir maksud patung-patung tersebut ada dibawah pohon dalam keadaan yang tidak lazim seorang old lady menghampiri dan bertanya apakah saya berasal dari kawasan ini. Kemudian dengan ramahnya wanita tua tersebut menjelaskan sejarah kenapa mermaid kecil tersebut ada dibawah pohon dan dalam keadaan dirantai. Jadi dulunya patung mermaid kecil berwarna putih itu sengaja diletakan oleh warga sebagai tanda kecintaan mereka terhadap mermaid. Konon ada orang yang iseng membuang patung-patung mermaid tersebut ke pantai yang terletak disisi pohon. Penduduk setempat rela menyelam demi mendapatkan kembali patung-patung tersebut. Semenjak itu patung mermaid diamankan dengan melilitkan rantai disekelilingnya dan warga menguncinya dengan gembok. Sampe segitu tingginya ya penghargaan mereka terhadap maskot kota. Satu hal yang perlu dicontoh. Bukan soal mermaidnya tapi respect warga terhadap ciri khas kota.
 
John C. Weston House
Saat anda berada di Norfolk, sempatkan mengunjungi kawasan Freemason yang berisikan rumah-rumah tua penuh sejarah. Berjalan-jalan mengelilingi perumahan tua di Freemason sangat menyenangkan. Rumah tua yang besar dan kebanyakan bergaya american country style, Victorian, italian dan lainnya menarik untuk dijadikan obyek foto. Salah satu rumah yang menarik perhatian saya adalah "haunted house" atau dikenal dengan nama John Cary Weston House, yang terletak di seberang bekas rumah walikota Norfolk yang pertama. Bangunan dua lantai bergaya Victorian Italian tersebut dibangun pada tahun 1870 dan memiliki 12 kamar dengan 10 tempat perapian. Rumah ini terlihat dingin dan memancarkan aura menakutkan meski di siang bolong. Didepan rumah terdapat papan keterangan yang menyebutkan bahwa rumah tersebut merupakan kediaman Kolonel angkatan darat J.C. Weston yang sempat tinggal dirumah tersebut bersama istri pertamanya Jane, yang meninggal dunia sesaat sebelum rumah dirampungkan pada tahun 1869. Tak lama kemudian anak laki-laki satu-satunya juga meninggal dunia. Istri kedua J.C. Weston yang bernama Nannie melahirkan 2 orang anak. Saat ini seluruh keluarga yang tercatat sudah meninggal dunia. Pemilik rumah saat ini berusaha mencari kerabat yang mungkin masih hidup. Rumah tersebut hingga kini dibiarkan kosong tak berpenghuni. Hmmm untungnya saya keliling Freemason di siang hari, kalau malam hari gak janji deh. Believe it or not disekitar Freemason khususnya yang berada 1 blok dari rumah hantu rata-rata terpasang papan "for rent/sale". Sayangnya beberapa rumah tua yang juga berfungsi sebagai museum seperti Hunter House Victorian Museum dan Moses Myers House saat itu tutup dalam rangka memperingati hari pahlawan/memorial day. 
 
Freemason First Baptist church

Area Freemason ini merupakan pusat kota tuanya Norfolk. Banyak banget bangunan-bangunan tua bersejarah yang menarik. Terdapat sebuah gereja katolik tua, Freemason First Baptist church yang dari luar arsitekturnya terlihat kental nuansa gothicnya. Kalau anda berada disana jangan lewatkan untuk makan di restauran paling terkenal yang merupakan tempat favorit warga kota Norfolk, Freemason Abbey yang terletak di 209 W (W singkatan dari west) Freemason street. Resto yang berada tepat diseberang gereja ini dahulunya adalah gereja tua yang kemudian dialihfungsikan menjadi fine dining resto. Karena resto ini asalnya adalah gereja tua, interior didalam resto terasa sekali seperti gereja. Berbagai jenis kaca patri kuno masih tetap dipertahankan keasliannya, menambah kesan gothic. Unik!! Menu istimewa yang saya pesan malam itu adalah Abbey Crab Cake, terdiri dari 2 buah crab cake yang dipanggang dan diberi perasan lemon segar, disajikan bersama side dish sayuran dan nasi putih. Rasanya gurih dan segar. Sayangnya saya gak sempat mengabadikan bentuk Abbey Crab Cake karena sudah keburu berpindah tempat hehehhe....
 
Pagoda restaurant & Tea house

Selain kawasan rumah-rumah tua, Freemason juga menawarkan hunian modern yang jauh dari kesan berhantu. Pastikan anda mengunjungi Pagoda and Oriental garden yang terletak tidak jauh dari Freemason area. Sebuah fine dining resto "Pagoda Restaurant & Tea House" yang bergaya oriental berbentuk pagoda dilengkapi dengan taman yang juga bergaya oriental. Makan malam disini sama romantisnya dengan makan di Freemason Abbey! Ditambah lagi eksterior oriental yang ditampilkan melalui pagoda dan landscape tamannya membuat kita lupa kalau sedang berada di Amerika! Pemandangan didepan halaman pagoda pun tidak kalah menggodanya. Duduk-duduk di anak tangga menghadap sungai Elizabeth sambil menanti sunset aktifitas yang bisa anda lakukan disini. Deretan rumah bergaya modern berjejer rapi di sisi kanan dan kiri garden. Tertata rapih, cantik, bersih tanpa sampah. Bikin betaaahh! Buat anda yang lebih menyukai makanan jenis fast food gak usah khawatir, disekitar Norfolk banyak resto-resto fast food seperti subway, Jimmy John, Todd Jurich's Bistro dan lain-lain. Tidak hanya American food tetapi juga terdapat resto-resto yang menyajikan makanan Asia, Italia, Mediterania, Seafood, Eropa Barat, Seafood dan lain sebagainya. Asyik kan, dijamin anda gak akan kelaparan karena susah cari makanan disini.
 
Bendera didepan rumah

Satu hal yang membuat saya terpana adalah setiap rumah yang saya jumpai memasang bendera Amerika Serikat didepan rumah mereka sebagai simbol kebanggaan mereka sebagai warga negara. Rasanya gak ada salahnya juga kita mencontoh yang ini, supaya rasa nasionalisme semakin terpupuk subur. Minimal kita bangga mengibarkan sang merah putih di rumah setiap hari bukan hanya saat upacara bendera saja. Bangga kan kalau setiap warga negara memasang bendera merah putih didepan rumah, setuju??

Jumat, 18 Juli 2014

Tersihir Pesona Pangkalan Angkatan Laut Amerika di Norfolk

River cruise mengelilingi kota sudah biasa, tetapi river cruise mengelilingi pangkalan Angkatan Laut terbesar di Amerika yang berada diatas Sungai Elizabeth itu luar biasa. Sungai Elizabeth tempat parkirnya kapal-kapal perang Amerika Serikat memiliki diameter dan panjang yang besar sekali. Orang awam seperti saya semula mengira itu laut bukan sungai.
penampakan battleship Wisconsin
Tiba di Norfolk pagi hari, saya memesan paket river cruise dengan narrative tour guide yang professional dengan jam keberangkatan pertama yaitu pukul 11.00 pagi. Paket river cruise selama 2 jam seharga USD22.00 untuk orang dewasa dan USD14.00 untuk anak-anak harga yang pantas mengingat narasi yang diberikan selama perjalanan penuh dengan informasi yang lengkap mulai dari sejarahnya sampai informasi terkini. Tiket dapat anda beli di gedung Nauticus yang bersebelahan dengan Battleship  Wisconsin, salah satu kapal perang terbesar yang dibuat oleh Amerika Serikat dan saat ini beralih fungsi menjadi museum. Anda yang berminat untuk ikut tour diatas kapal Wisconsin harus membayar tambahan sekitar USD14.00 per orang. Anda akan dibawa menuju tempat para US Navy bertugas, diputarkan film 3D dan berkeliling ke area-area yang ada diatas battleship. Kapal berbobot 45,000 ton ini memiliki panjang 887,3 feet dan lebar sebesar 108 feet.
salah satu surat yang menyentuh hati
Sambil menunggu jam keberangkatan, saya berjalan menyusuri sisi sungai Elizabeth. Tepat sebelum pintu masuk ketempat kapal pesiar bersandar ada sebuah tiang monument. Sepintas monument ini tidak menarik sama sekali. Hanya berupa tiang tinggi dengan beberapa lembaran besi berserakan disekitar tiang. Namun setelah kami perhatikan ternyata lembaran besi tersebut adalah surat-surat yang dikirimkan oleh para petugas Angkatan Laut Amerika yang menjalankan tugas dan gugur dalam pertempuran. Isi surat bermacam-macam, ada yang menulis untuk keluarganya, kekasihnya, istrinya, orangtua, anak dan bahkan sahabatnya. Selain menumpahkan kerinduan mereka juga menceritakan suasana pertempuran yang mencekam yang sedang dihadapi saat mereka menuliskan surat. Mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk negara (negara manapun) pantas mendapatkan penghormatan yang layak. Surat-surat yang bertebaran dibawah tiang monument menambah rasa hormat saya terhadap abdi Negara.
 
Victoria Rover 
Tepat jam 10.45 petugas mempersilahkan para penumpang masuk dan mengambil tempat duduk yang disukai. Saya memilih untuk duduk di deck atas. Ada beberapa kapal pesiar yang bertugas membawa wisatawan berkeliling sungai Victoria. Kapal pesiar yang saya tumpangi, Victory Rover dibuat pada tahun 1973 dan hingga kini masih setia beroperasi mengantar wisatawan berkeliling. Selama perjalanan pemandu wisata menjelaskan apa saja yang dilalui. Pengetahuannya tentang jenis-jenis dan sejarah kapal-kapal Angkatan Laut yang sedang bersandar di dock menjadi semacam dongeng buat saya. Bayangkan, anda berada di deck kapal pesiar dengan cuaca yang bersahabat, hembusan angin yang sejuk dan deretan kapal-kapal perang Angkatan Laut yang gagah. Siapa yang tidak tersihir oleh pesonanya? Salah satu kapal yang saya lewati tahun 2011 lalu baru saja berhasil dibebaskan dari perompak laut Somalia. Selain melintasi deretan kapal-kapal perang canggih saya juga melewati dock tempat perbaikan kapal. Saat itu dock terlihat ditutupi oleh terpal hitam yang menyelimuti hampir sebagian besar kapal. Ternyata, itu tanda kalau kapal sedang diperbaiki. Mengingat ini kapal perang, maka saat melakukan perbaikan badan kapal akan diselimuti dengan kain terpal yang menutupi hampir sebagian besar tubuhnya untuk menjaga keamanan kapal tersebut.
Tidak terasa dua jam sudah berlalu. Rasanya saya masih betah duduk diatas deck dan enggan beranjak pergi. Sayangnya penumpang gelombang berikutnya sudah menanti giliran untuk naik. Suatu pengalaman menarik yang sayang untuk dilewatkan jika anda sedang berada di kota Norfolk.