My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Senin, 19 Maret 2012

Keindahan Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu
Pembangunan museum Ullen Sentalu dirintis tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997 oleh KGPAA Pakualam VIII. Museum Ullen Sentalu terletak dikawasan wisata Kaliurang tepatnya didalam Taman Kaswargan, Jl. Boyong Kaliurang, Sleman Yogyakarta. Museum ini merupakan salah satu museum terbaik yang ada di kota Yogyakarta. Berada didalam museum Ullen Sentalu rasanya seperti terlempar puluhan tahun bahkan ratusan tahun kebelakang. Suasana didalam museum yang temaram dan hening menciptakan aura magis tersendiri saat berada disana.

Museum ini terbagi menjadi beberapa bagian. Setiap pengunjung akan diantarkan khusus oleh seorang petugas yang akan membawa tamu menjelajah dan memberikan penjelasan tentang isi museum. Sayangnya pihak pengelola museum melarang tamu untuk berfoto didalam museum kecuali bagian luar dan taman. Sayang banget yaaa.. jadi saya gak punya foto-foto yang memadai untuk memperlihatkan keindahan museum ini.

Ruang pertama museum Ullen Sentalu adalah ruang selamat datang sebagai tempat menyambut tamu. Dibagian ruangan ini terdapat banner yang berisikan latar belakang pendirian museum dan arca Dewi Sri yang melambangkan kesuburan.

Ruang kedua adalah ruang seni tari dan gamelan. Disini terdapat beberapa alat musik tradisional yang digunakan untuk berbagai acara di keraton. Pada salah satu dinding terdapat lukisan putri keraton yang menggunakan busana tarian tradisional Jawa Tengah. Konon sang putri pernah membawakan tarian ini sebagai hadiah ulang tahun untuk Ratu Inggris. Sang putri menari di istana Inggris, sementara musiknya ditabuhkan di Indonesia dan dikirimkan melalui sistem telefon. Mungkin jaman sekarang ini yang disebut streaming ya? waaah hebat bangeett deh jaman dulu udah maju juga ternyata teknologinya. 

Ruang ketiga adalah Guwa Sela Giri yang merupakan gallery lukisan para tokoh dari empat keraton dinasti Mataram. Selain lukisan, juga terdapat foto-foto hitam putih para anggota keluarga keraton. Ada yang unik diruangan ini. Salah satu lukisan dibuat dalam bentuk tiga dimensi pada bagian mata dan ujung sepatu. Jadi kemanapun kita melangkah, mata sang tokoh yang dilukis dan ujung sepatunya seakan mengarah kepada kita. Lumayan bikin merinding deh hehehee...

Ruangan keempat adalah Kampung Kambang. Bangunan unik diatas air yang memuat lima buah ruang pamer.
1. Ruang syair untuk Tineke. Ini ruangan yang paling saya suka diantara ruangan lainnya. Berisikan syair-syair dan surat-surat yang dituliskan oleh kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam atau yang akrab dipanggil Tineke. Dari syair-syair yang dituliskan tercermin tingginya kepekaan puteri-puteri keraton terhadap seni sastra
2. Royal Room Ratu Mas. Ruangan ini khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri dari Sunan Pakubuwana X. Ruangan ini berisikan lukisan sang Ratu, foto-foto sang Ratu bersama keluarga dan pernak-pernik lainnya.
3. Ruang batik Vorstendlanden. Menampilkan koleksi batik Sultan Hamengkubuwono VII hingga Sultan Hamengkubuwono VIII dan Sunan Pakubuwana X hingga Sunan Pakubuwana XII dari Surakarta. Disini saya baru mengerti perbedaan corak dan warna batik gaya Yogyakarta dan Surakarta. Batik Yogyakarta umumnya berwarna lebih terang dan bercorak besar, sementara batik Surakarta berwarna kalem dan memiliki corak lebih kecil. Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapatkan saat jalan-jalan, seneng!!
4. Ruang batik Pesisiran. Menampilkan keindahan motif bordiran tangan kebaya-kebaya yang dikenakan oleh kaum peranakan mulai jaman Hamengkubuwono VII beserta kain-kain batik dengan corak yang lebih berwarna.
5. Ruang putri dambaan. Ruangan ini bisa dikatakan sebagai gallery perjalanan hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Ruangan ini diresmikan sendiri oleh beliau pada ulang tahunnya yang ke 81 tahun 2002 silam. Satu hal yang membuat saya kagum, selain wajahnya yang cantik beliau terkenal sangat cerdas dan mempunyai pendirian yang teguh soal anti poligami. Putri Nurul juga dikenal pandai berkuda. Cantik, cerdas, sporty...hmmmm siapa juga yaa pangeran yang gak kepincut sama puteri seperti itu.

Ruang kelima adalah Sasana Sekar Bawana yang berisikan lukisan Raja Mataram, lukisan dan patung dengan tata rias pengantin gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Di akhir perjalanan saya mendapat suguhan istimewa minuman spesial yang resepnya didapat dari Gusti Kanjeng Ratoe Mas. Konon katanya minuman ini berkhasiat untuk kesehatan dan awet muda! oya museum ini juga menjadi tempat sarana anak-anak untuk berlatih tarian tradisional. Saya beruntung, sore itu sempat menyaksikan beberapa gadis belia sedang mengajarkan tarian tradisional kepada anak-anak kecil. Hmmmm...senaang deh melihat bahwa generasi muda masih mengapresiasi dan melestarikan seni budaya bangsa sendiri. Two thumbs up!

Kalau ada kesempatan ke Yogyakarta, sudah pasti museum Ullen Sentalu akan masuk dalam agenda kegiatan saya. Museum ini buka setiap hari kecuali Senin dari pukul 09.00wib sampai dengan 16.00wib. harga tiket masuk Rp25,000 untuk wisatawan lokal dan USD5,00 untuk wisatawan asing. Yuuk kunjungi museum Ullen Sentalu untuk menambah pengetahuan kalian tentang sejarah dan budaya bangsa Indonesia, khususnya Yogyakarta.


Rabu, 14 Maret 2012

Air Terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang Kencana

Air terjun Sri Gethuk/ Slempret
 Sejak dari Bogor saya merencanakan untuk mengunjungi air terjun Sri Gethuk atau disebut juga air terjun Slempret yang terletak di daerah Playen, Kab. Gunung Kidul sekitar 40km dari pusat kota Yogyakarta. Ternyata didekat lokasi air terjun Sri Gethuk ada obyek wisata gua Rancang Kencana. Tiket masuknya sudah menjadi satu paket. Waah....ini bonus kejutan buat saya.

Dinamai Air Terjun Sri Gethuk atau Sri Ketuk karena menurut kepercayaan masyarakat setempat pada masa lalu, sering terdengar suara gamelan, yang diyakini milik raja jin Slempret yang bernama Angga Mendura. Konon, keberadaan air terjun ini merupakan lokasi pasar jin. Di malam-malam tertentu, masyarakat sering mendengar bunyi-bunyian seperti slompret dari arah air terjun itu. Tapi jika suara itu didekati, suara tersebut akan menghilang. Makanya masyarakat menyebutnya Air Terjun Slempret. 

Lokasi menuju air terjun Sri Gethuk cukup unik. Pengunjung harus menyusuri sungai dengan perahu motor. Perjalanan menyusuri sungai serasa berpetualang di alam bebas. Saya jadi teringat film Anaconda menyusuri sungai lebar dengan perahu. Diam-diam saya juga berdoa dalam hati semoga tidak bertemu buaya atau ular ditengah jalan nanti. Perahu sesekali merapat ke salah satu dinding tebing agar pengunjung bisa menikmati keindahan alam sekitarnya. Sejauh mata memandang hanya hijaunya pepohonan. Kombinasi yang asri dengan air sungai yang tenang. Saya sangat menikmati perjalanan menyusuri sungai menuju air terjun Sri Gethuk.

Air terjun Sri Gethuk sendiri terdiri dari tiga buah air terjun meluncur berjejeran dengan batu-batuan besar dibawahnya. Untuk mencapai lokasi persis dibawah air terjun, kita harus menaiki tebing terjal dan licin. Saran saya kalau kesana sebaiknya pakai sepatu yang kets atau sepatu yang tidak licin agar tidak tergelincir. 

Selesai menikmati indahnya air terjun Sri Gethuk, saya bergegas menuju gua Rancang Kencana yang memiliki keindahan tebing dengan ketinggian sampai dengan 50 meter. Gerbang masuk menuju gua ditandai dengan 2 buah batu besar dikanan dan kiri. Sekitar 30 meter dari tumpukan batu itu tampak menjulang tinggi sebuah pohon Klumpit (Terminalia Edulis) yang cukup besar dan rindang. Melihat dari bentuk dan besarnya ukuran pohon klumpit dengan bentuk akarnya yang sangat kokoh itu tentu usianya sudah mencapai ratusan tahun. Tepat dibawah pohon barulah tampak lubang yang sangat besar dengan tangga yang sudah disemen untuk masuk dan turun kedalam gua. Rimbunnya tanaman menjadikan lokasi gua Rancang Kencana tampak asri dan sejuk, namum temaramnya sinar matahari yang masuk kedalam gua membuat suasana didalam dan sekitar gua terasa nuansa mistis.

Gua Rancang Kencana
Didepan gua tampak beberapa anak kecil menyewakan senter untuk masuk kedalam lubang gua. Suasana gua yang auranya bikin bulu kuduk berdiri, membuat saya menolak manis tawaran untuk masuk kedalam lorong gua. Lagipula lorongnya sempit sekali. Saya agak phobia dengan tempat gelap dan sempit (a.k.a takut). Sempat ngobrol-ngobrol dengan bocah-bocah penjaja senter. Duuh mereka masih lugu-lugu bener... gak kenal apa itu facebook! hihihi beda bener sama anak-anak kota yang sudah sampai taraf diculik gara-gara facebookan (lhaa jadi nglantur). Anyway, buat pecinta fotografi, gua ini bagus banget untuk dijadikan lokasi pemotretan. Hasil foto-foto di gua ini terlihat artistik dan natural. 

Romantisnya Indische Koffie, Yogyakarta

Suasana romantis
Sewaktu saya ke Yogya secara tidak sengaja menemukan kafe baru bergaya kolonial ini. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan tempat ini.

Indische Koffie, resto yang hadir dengan citarasa warisan budaya. Resto yang terletak didalam Benteng Fort Vredeburg, Yogyakarta mengusung konsep klasik elegan yang terinspirasi gaya tempo dulu.

Kafe yang terletak didalam benteng Vredeburg ini baru beroperasi dua bulan terakhir. Berada didalam kafe ini serasa terbawa ke masa lalu. Bagian dalam kafe ini beragaya tempo dulu dengan banyak menggunakan furniture kayu. Pada bagian dinding terdapat beberapa foto-foto lama berwarna hitam putih. Piano hitam yang terletak didekat meja bar membuat makan malam terasa lebih romantis.

Menurut Asisten Chef, Apri, Indische Mixed Rice adalah menu utama andalan dari Indische Koffie. Menu ini terdiri atas tiga jenis nasi (nasi kuning, merah dan putih) dilengkapi dengan potongan daging empal, ayam goreng dan tiga jenis sate (sate ayam, sapi dan kambing). Sebagai hidangan penutup, Chef merekomendasikan Ontbijkoek Pudding. Kue Ontbijkoek yang berbalut agar-agar susu disiram dengan vla dan taburan gula palem. Irisan buah strawberry, kiwi dan daun mint menambah cantik penampilan puding ini. 

Untuk minuman tepat rasanya untuk merekomendasikan Gypsi Temple dan Kiwi Frizz. Malam itu saya mencoba Ontbijkoek Pudding, Calamary dan secangkir Indische Chocolate yang terbuat dari campuran cokalt Swiss dan coklat putih yang rasa coklatnya lembut membelai lidah. Harga yang dibandrol untuk makanan disini berkisar dari Rp16,000 - Rp110,000. Untuk minuman mulai dari Rp5,000 - Rp26,000. 

Dibagian outdoor, pengunjung kafe juga dapat bersantai dihalaman ataupun selasar. kafe ini juga dilengkapi dengan koneksi Wifi, pas banget kan untuk bersantai-santai sambil mengakses internet. Informasi yang saya dapat, rencananya kafe ini baru akan melakukan Grand Opening di bulan April. Indische Koffie buka setiap hari dari Senin hingga Jumat pukul 08.00wib - 22.00wib. 

Semoga seiring bertambahnya jumlah pengunjung, kafe ini buka lebih lama lagi di akhir pekan. Kalau Anda berkunjung ke Yogyakarta, mampir ke kafe Indische Koffie tidak akan merugikan.

Tulisan ini dimuat di detikTravel tanggal 23 Februari 2012

Hebohnya Cabaret Show di Jogja

ini siapa yaaa..?
Diam-diam kota Yogya yang penuh dengan seni dan sejarah budaya ini mempunyai potensi lain, seperti pertunjukan Kabaret. Tidak banyak orang yang tahu bahwa di Yogya juga ada show yang unik ini. Orang lebih banyak mengenal Thailand sebagai negara dengan pertunjukan Kabaretnya yang terkenal. Ternyata, bukan hanya Thailand sekarang Yogyakarta juga memiliki pertunjukan Kabaret yang dikemas dengan apik.

Kabaret show di Yogyakarta baru ada setahun terakhir ini, tidak heran bila banyak yang belum mengetahui pertunjukan ini bahkan yang tinggal di Yogya sekalipun. Pertunjukan yang berdurasi satu setengah jam ini mampu membius penontonnya dan membuat suasana meriah dengan aksi-aksi panggung yang heboh.

Pengisi acara berhasil membawakan lebih dari dua puluh lagu secara lip sync dengan sangat apik. Penampilan mereka makin sempurna dengan tata busana, riasan wajah dan rambut seperti artis aslinya. Dan, suasana semakin meriah saat para pemain kabaret beraksi diatas panggung bergaya bak sang artis dan menggoda para penonton. Malam itu pertunjukan dibuka oleh pemain yang menirukan gaya Ayu Ting-ting lengkap dengan para sexy dancer-nya. Setelah itu berturut-turut berbagai artis mancanegara tiruan turun ke panggung. Mulai dari Rihana, Shania Twain, Lady Gaga, Whitney Houston, Shakira, J-Lo, Jessica Simpson, dan masih banyak lagi. Suasana menjadi heboh saat maroon5 dan Chirstina Aquilera imitasi membawakan lagu Moves Like Jagger. Sang cowok yang bertelanjang dada memamerkan dada bidang dan perut six pack-nya membuat penonton berteriak histeris. Sebagian besar penonton (termasuk saya) ikut menggoyangkan tubuh dan bernyanyi. Senang sekali menemukan sesuatu yang baru dan berbeda di kota Yogya.

Ini bukan sekedar pertunjukan biasa, melainkan suatu karya seni dari anak-anak muda Yogyakarta yang memiliki bakat seni luar biasa. Untuk yang berencana berlibur ke kota Yogyakarta, menonton pertunjukan Kabaret bisa menjadi agenda yang wajib untuk anda saksikan. Pertunjukan diadakan setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 19.00wib sampai dengan 20.30wib di toko batik Mirota lantai 3, Jl. Marlioboro, Yogyakarta. Usai pertunjukan anda juga dapat berfoto bersama para pemain kabaretnya lho. Jadi, tunggu apa lagi, segera rencanakan berlibur ke Yogya dan jangan lewatkan serunya pertunjukan kabaret!

Tulisan ini dimuat di detikTravel tanggal 22 Februari 2012.

Melepas si Mungil ke Laut

Penyu hijau/ Chelonia Mydas
Siapa yang gak kenal penyu hijau yang punya nama keren Chelonia Mydas? anak-anak penyu/ Tukik kecil nan lucu itu sekarang ini banyak dijual untuk jadi binatang peliharaan. Padahal tahukah kalian bahwa dari 100 ekor anak penyu/ Tukik yang dilepas ke laut bebas, hanya 1 ekor saja yang berhasil bertahan hingga menjadi penyu hijau dewasa. Wooow berat yaa perjuangan hidupnya. Fakta ini yang membuat saya penasaran ingin banget ke Ujung Genteng untuk mengikuti prosesi melepas anak-anak penyu hijau/ Tukik ke laut bebas.

Bermodalkan hasil tanya-tanya sama mbah google, terkumpulah informasi mengenai rute, hotel, obyek-obyek wisata dan info-info lainnya. Berdasarkan informasi, rute yang tercepat ditempuh dari Bogor - Ciawi - Cicurug - Cibadak - Sukabumi - Jampang Tengah - Jampang Kulon - Surade - Ujung Genteng. Perkiraan waktu tempuh 7 jam. Rute ini menghemat waktu sampai 1,5 jam jika dibandingkan dengan rute melewati Pelabuhan Ratu. Namun apa yang terjadi sodarah-sodarah, ternyata perkiraan waktu meleset hingga mencapai 10 jam!! benar-benar memerlukan kesiapan fisik dan mental yang prima.

Berangkat dari Bogor jam 10 malam dengan maksud tiba di Ujung Genteng diwaktu sunrise. Waaahh udah kebayang aja nih indahnya pemandangan pantai Pangumbahan diwaktu sunrise. Tetapi ternyata perjalanan harus distop pukul 3 pagi sebelum memasuki daerah Sagaranten. Penduduk setempat meminta kami untuk tidak melanjutkan perjalanan karena akan melewati hutan yang sepi dan jarang rumah penduduknya. Selain itu penerangan jalanpun tidak ada sementara disalah satu sisi jalan terdapat jurang. Ya sudahlah daripada kenapa-kenapa dijalan lebih baik istirahat dulu, lagi pula pinggang udah pegel juga duduk kelamaan di mobil. Alhasil saya sempat bobo cantik selama 2 jam didalam kendaraan. Gak ada penginapan disekitar situ karena kita bener-bener berhenti di pintu masuk menuju hutan Sagaranten.

Jam 5 pagi perjalanan kami teruskan kembali. Duuhh bersyukur juga kami semalam memutuskan untuk berhenti dan istirahat. Hutannya asli gelap banget, rumah penduduknya jauh-jauh jaraknya dan disisi kiri jalan jurang yang cukup dalam. Kondisi jalannya pun luar biasa susah. Banyak kelokan tajam, menurun dan menanjak curam. Buat yang baru bisa nyetir mobil, jangan coba-coba bawa mobil sendiri ya. Bahaya!
Memasuki Surade pemandangan cantik mulai terlihat. Hamparan sawah menguning siap panen bergoyang-goyang lembut ditiup angin. Indah bangeett seperti gambar-gambar di kartu pos (eh ada gak yah?). Meskipun belum sempat mandi pagi itu, tapi pede ajah jeprat jepret disawah yang menguning.

Jam 09.00 pagi akhirnya kami tiba di pantai Pangumbahan. Finally...yeay!! ok, langkah pertama adalah istirahat dulu lempengin punggung yang sudah 10 jam merana. Sehabis sarapan pagi yang sudah sangat-sangat terlambat, kami sepakat tidur sambil menunggu waktu sore. Kebangun dari tidur jam 3 sore. Ya ampuuun pulesnyaaa hihihi abis gimana yaa cuacanya hujan deras mendukung banget buat pules.

Untuk menuju tempat penangkaran penyu hijau harus ditempuh dengan menggunakan kendaraan motor karena jalannya kecil, melewati hutan bakau dan melintasi pinggiran pantai. Bener-bener petualangan banget deh. Tempatnya sendiri berada dilokasi yang terpencil, jauh dari kebisingan. Mungkin supaya penyu-penyu dewasa bisa bertelur dan mengerami telurnya dengan damai sentosa kali ya. Sambil menunggu waktu pelepasan Tukik, kami melihat-lihat sarang penyu yang dibuat oleh pengelola konservasi. Dari satu lubang sarang penyu, biasanya terisi oleh 3 sampai dengan 5 butir telur dan 90% dari telur-telur tersebut berhasil menetas menjadi anak penyu. Setelah bertelur, penyu dewasa akan bermigrasi hingga ribuan kilometer untuk kembali bertelur di pantai yang sama. Hebat yaaa ternyata ilmu navigasi penyu lebih canggih dari GPS! Dari lokasi sarang penyu, kami beralih ke ruang tukik dimana anak-anak tukik yang berumur beberapa hari siap untuk dilepas ke laut bebas, menjadi petualang sejati. Saya sempat memegang anak penyu hijau/ Tukik. Kulit/ batok punggung mereka masih lembuuutt banget. 

Tepat pukul 17.30 semua pengunjung yang sudah menanti-nanti ritual istimewa ini bergegas menuju tepi pantai. Petugas konservasi memanggul seember penuh anak-anak Tukik untuk dilepas ke laut bebas. Seperti anak kecil yang mengikuti penjual mainan, kami semua mengikuti bapak itu dengan patuh. Sampai dipingggir pantai, masing-masing mengambil beberapa Tukik untuk dilepas ke laut. Sungguh ini detik-detik paling mengharukan. Rasanya seperti melepas seorang anak kecil bepergian jauuuuuhh sekali :( ada sedih dan gembiranya. Gembira karena mereka kembali ke habitatnya, sekaligus sedih karena dari 100 ekor tukik yang dilepas hanya 1 yang akan survive hingga dewasa 99 lainnya tereliminasi oleh alam. Ada 1 ekor tukik yang kelelahan mencapai bibir pantai dan tidak bisa dilepas ke laut. Terpaksa dia harus kembali ke ruang tukik untuk dipulihkan lagi tenaganya. Sore itu sunset di Pantai Pangumbahan luar biasa cantiknya. Aaaah betaaah deh duduk berlama-lama di pantai ini. 

Perjalanan pulang dari tempat penangkaran penyu memacu adrenalin lebih deras dibandingkan perginya. Kondisi jalan yang gelap, licin, berlumpur dan gerimis membuat kombinasi sempurna antara ngeri dan lelah. Kondisi air laut yang sudah mulai pasang membuat kami tidak bisa melintasi tepi pantai dan harus melewati jembatan yang terdiri dari batang pohon yang dipasang melintang. Terpeleset sedikit, motor bisa kecebur ke laut. Sebelum kembali ke penginapan kami sempatkan makan malam  di salah satu restaurant seafood di tepi pantai. 

Hari kedua ternyata cuaca tidak mendukung sama sekali. Sejak subuh hujan turun dengan derasnya. Hikkss...rencana ke Curug Cigangsana, Curug Cikaso dan Tanah Lot terpaksa kami batalkan. Pelajaran moral super penting, jangan bepergian ke pantai diwaktu hujan. oh ralat deh, ke alam terbuka. Tidak hanya pantai saja. Akhirnya kami sepakat untuk pulang agar tidak terlalu kemalaman tiba di Bogor.

Perjalanan pulang mengambil rute lewat Pelabuhan Ratu. Alhamdulillaaaahh..., sampai di Pelabuhan Ratu cuacanya sudah tidak hujan deras, meskipun gak terlalu bersinar banget mataharinya. Di Pelabuhan Ratu ini terkenal dengan lokasi wisata Karang Hawu. Konon karang tersebut merupakan bekas tempat memasak Nyi Ratu Roro Kidul, penguasa pantai Selatan. Hawu artinya Tungku (untuk memasak). Tidak jauh dari Karang Hawu ada Sumur 7. Menurut penduduk setempat, Sumur 7 merupakan bekas tempat pemandian Nyi Ratu Roro Kidul. Ada sebuah batu yang dinamakan batu duduk, merupakan batu tempat sang Ratu duduk disaat mandi. Sssttt...info dari salah seorang tukang foto setempat, artis Jupe sempat mandi juga lho disini (gak penting banget ya? hihihihi). Masyarakat setempat percaya bahwa Nyi Ratu Roro Kidul sampai saat ini masih hidup namun menghilang. Puas main-main dipantai, kami sempatkan makan siang sebelum kembali ke Bogor.

Perjalanan pulang menuju Bogor melewati jalan pintas Cikidang. Wooohh jalanannya cocok banget buat track rally. Berkelok-kelok, menikung tajam, menurun dan menanjak curam. Tapi pemandangannya luuaarr biasa indaaahh banget. Dibandingkan lewat jalan Raya Sukabumi yang super macet, saya lebih memilih jalur Cikidang. 

Dari Cikidang kami masuk lagi ke arah Cihideung untuk menghindari jalan Raya Sukabumi. Naaahh..., sambil menyelam minum air. Sambil melewati Cihideung, mampir dulu ke Warso Farm. Tau dong buah durian? disini rajanya kebun durian milik Bapak Warso. Perkebunan Warso selain menyediakan buah durian utuh, juga menyediakan durian dalam bentuk es krim. Jangan ditanya rasanya, teman saya aja sampai habis 2 gelas, plus sisa es krim saya ikut dihabiskan juga! Oya, selain buah durian, pak Warso mulai mengembangkan buah Naga juga sekarang ini. Waah laris manis tanjung kimpul ya pak Warso.

Sebenarnya saya masih kurang puas siihh perjalanan kali ini. Karena dari sekian banyak tempat wisata yang saya inginkan hanya 2 saja yang terlaksana. Untuk balik lagi kesana jujur, mikir panjang banget secara jarak tempuhnya benar-benar menguras fisik dan mental. Paling tidak perlu waktu libur 4 hari untuk bisa menikmati perjalanan dan wisata. Gak apa-apa, namanya juga pengalaman. Next time bisa lebih baik lagi. Yang pasti berkat perjalanan ke Ujung Genteng saya jadi punya pengetahuan tentang kura-kura hijau (Chelonia Mydas) dan yang pastinya, saya gak akan pernah mau membeli kura-kura hijau untuk dipelihara. Mereka perlu dilepaskan ke alam bebas untuk dapat mencapai dewasa dan berkembang biak supaya tidak punah.