My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Selasa, 24 Januari 2012

Keindahan Curug Nangka dan Curug Luhur



Curug Nangka
Sudah lama banget gak berwisata ke air terjun Curug Nangka dan Curug Luhur yang lokasinya berada di Ciapus Bogor. Curug dalam bahasa sunda artinya adalah air terjun. Terakhir berwisata kesana sewaktu masih berseragam putih abu-abu hehehehe….
Hari Minggu (22 Jan 2012) dan hari Senin (23 Jan 2012) kemarin saya habiskan untuk menjelajah wilayah Ciapus, Kabupaten Bogor. Setelah terlebih dahulu mengunjungi Kebun Raya Bogor dan Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak, saya melanjutkan eksplorasi wisata ke Curug Nangka.
Rupanya karena long weekend, banyak orang yang berwisata ke Curug Nangka. Jalan menuju gerbang RPH Gunung Bunder yang sempit semakin menjadi susah buat parkir kendaraan. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp5,000/orang dan Rp6,000/kendaraan saya mencari tempat yang nyaman untuk parkir kendaraan.
Dari pintu gerbang menuju Curug Nangka sampai menuju lokasi air terjun, diperlukan perjalanan kaki selama kurang lebih 45 menit dengan kondisi jalan setapak dan menanjak terjal. Lumayan melelahkan bangettt… sehingga saya harus beberapa kali berhenti untuk menarik nafas. Saya berusaha menanamkan pikiran positif dengan mengingatkan diri bahwa jalan menuju pulang tidak lagi menanjak, tapi menurun! Well…lumayan berhasil usaha cuci otak yang saya lakukan. Setidaknya semangat untuk berjalan gak habis ditengah jalan.
Akhirnya setelah 45 menit berjalan menanjak, pemandangan yang dicari terlihat didepan mata. Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 20meter terdengar bergemuruh. Horeeee…sampai juga akhirnyaaa! Terbayar sudah lelah berjalan kaki menanjak terjal. Air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 20meter tampak beniiinngg sekali. Rasanya ingin mencuci muka yang sudah berpeluh keringat, tapi niat itu saya urungkan gara-gara melihat sampah disekitar lokasi air terjun. Sangat disayangkan sumber daya alam yang kita miliki tidak dijaga dengan baik. Rasanya sebeeel banget melihat sampah berceceran dimana-mana. Andai saja semua orang tertib membuang sampah pada tempatnya, lokasi Curug Nangka pasti semakin cantik. Apalagi disepanjang perjalanan menuju air terjun, masih terdapat monyet-monyet yang berkeliaran. Benar-benar masih alami sekali.
Curug Luhur
Lokasi air terjun kedua yang berada di Ciapus adalah Curug Luhur. Curug dalam bahasa Sunda artinya air terjun dan Luhur dalam bahasa Sunda artinya Tinggi. Jadi arti kata Curug Luhur dalam bahasa Sunda kurang lebih adalah Air terjun yang tinggi.
Jarak dari Curug Nangka ke Curug Luhur masih lumayan jauh. Kurang lebih sekitar 20 menit berkendaraan pribadi. Sepanjang perjalanan menuju Curug Luhur pemandangannya luar biasa sekali. Hamparan sawah hijau, pepohonan hijau yang rindang menyejukkan mata. Cocok buat terapi mata yang setiap harinya menatap layar monitor computer.
Lokasi air terjun Curug Luhur tepat berada disisi jalan raya. Tidak seperti Curug Nangka yang memerlukan perjuangan berat untuk menikmati keindahannya, Curug Nangka cukup parkir dan berjalan menuruni tangga tidak sampai 5 menit sudah bisa menyaksikan keindahannya. Padahal dulunya Curug Luhur ini paling sulit medan dan kondisi untuk mencapainya. Sebelum mengalami pembangunan menjadi water park, untuk mencapai Curug Luhur, orang harus menyusuri sungai, masuk kedalam air setinggi pinggang orang dewasa dan masuk kedalam terowongan pula. Itu sebabnya Curug Luhur sering memakan korban jiwa, disaat orang sedang berada didalam terowongan, banjir bandang dari atas air terjun meluap menutupi terowongan membuat orang terjebak didalamnya. Mengerikan. Tapi sekarang ini suasananya sudah berbeda banget. Saya sendiri cukup kaget melihat perubahan Curug Luhur yang sudah berjalan sekitar 2 tahun terakhir ini. Terowongan yang dulu sering memakan korban dibongkar. Sebagai gantinya dibuat beberapa kolam renang lengkap dengan permainan anak-anak seperti spiral, ember tumpah dan lain sebagainya. Lokasi air terjun Curug Luhur tetap dipertahankan dan airnya dialirkan ke kolam-kolam renang disekitarnya. Tidak heran, air kolam renangnya bersih, jernih dan tentu saja dingin!
Untuk berwisata di Curug Luhur, harga tiket masuk untuk satu orang adalah Rp30,000/orang dan Rp20,000/kendaraan. Agak-agak gak masuk akal ya boow harga tiket parkirnya mengingat tempat parkirnya bukan dijaga oleh provider parkir seperti Secure parking atau Eazy parking dan tempatnya pun hanya lapangan biasa aja.
Secara umum Curug Nangka lebih menarik buat saya karena masih alami. Air terjun ditengah hutan dengan pemandangan hijau disekeliling air terjun plus monyet-monyet liar dan perlu perjuangan untuk menikmatinya. Ketimbang Curug Luhur yang sudah mengalami sentuhan modernisasi menjadi water park dengan aneka permainan airnya. Hanya saja kekurangan dari Curug Nangka adalah sampah yang terlihat berceceran dimana-mana. Mungkin hal ini disebabkan karena areal Curug Nangka  juga digunakan sebagai camping ground dan para penikmat alam tersebut kurang memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Tamansari Gunung Salak


Candi Bentar
Banyak yang tidak mengetahui adanya Pura terbesar diluar Bali setelah Pura Besakih berada di kota hujan, Bogor. Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak adalah komplek Pura yang dibangun sejak 1995 dengan luas 2,5Ha. Lokasi Pura ini terletak di Kampung Warung Loak, Desa Taman Sari Kelurahan Ciapus, kurang lebih 13 KM dari pusat kota Bogor. Konon dilokasi tersebut dipercaya sebagai pusat kerajaan Pajajaran dan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi.
Dari Kota Bogor menuju arah Ciapus, jalanannya mulus seperti jalan tol. Saya tiba di wilayah Taman Sari tanpa kesulitan karena papan penanda Pura cukup jelas berada di sisi kiri jalan. Sepanjang jalan menuju Pura mata terasa segar disuguhi pemandangan alam yang hijau nan asri didukung dengan cuaca yang berhawa sejuk, hmmmm lengkaplah sudah….
Setibanya dilokasi Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Tamansari Gunung Salak, saya speechless dengan suguhan pemandangan Candi Bentar berwarna hitam dengan lilitan kain panjang berwarna kuning terang terlihat kontras dengan hijaunya alam disekitarnya. Benar-benar gak menyangka adanya candi cantik di pedalaman wilayah Bogor. Ada perasaan tenang, nyaman dan damai yang saya rasakan saat menatap Pura. Ternyata bukan hanya saya seorang yang merasakan itu, orang-orang yang saya tanyakan merasakan hal yang sama. Luar biasa….
Saya sendiri mendengar adanya Pura ini dari salah seorang rekan yang berada di Bali. Rupanya Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak ini merupakan salah satu tempat wajib untuk melaksanakan Tirta Yatra. Tirta Yatra adalah sebuah perjalanan suci  untuk bersujud dihadapan-Nya untuk memohon petunjuk dan ampunan-Nya.
Pada saat saya berkunjung kesana hari Sabtu, 22 Januari 2012, banyak masyarakat Hindu yang sedang menjalankan upacara Siwa Ratri. Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Rupanya malam sebelumnya banyak yang bermalam di Pura.

Candi Bentar
 Saya sangat terkesan dengan kebersihan Pura yang terjaga dengan rapih. Setiap pengunjung baik umum maupun pemeluk agama Hindu yang akan beribadah wajib menanggalkan alas kaki sebelum menapaki tangga menuju Pura. Khusus bagi wanita diwajibkan menggunakan selembar kain dan selendang yang diikatkan dipinggang. Kain dan selendang disediakan oleh pengelola Pura tanpa dipungut bayaran. 
Sebagai warga Bogor saya merasa bangga sekali dengan adanya Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Tamansari Gunung Salak di kota tercinta. Tidak hanya itu, saya juga bangga sekali dengan toleransi tinggi dari masyarakat sekitar Pura yang bukan beragama Hindu. Contoh nyata dari kerukunan hidup antar agama.