My Favorite Travel Quotes

"The world is a book and those who do not travel read only one page - St. Augustine", "I have found out that there ain't no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them - Mark Twain", "If the traveler can not find master or friend to go with him, let him travel alone rather than with a fool for company - Budha", "Traveling is about the journey not the destination - Anonymous", "Traveling brings love and power back to your life - Rumi".

Senin, 27 Juni 2011

Garut, Wisata Alam dan Budaya Penuh Pesona



Pemandangan cantik menuju Garut
Sudah lama banget pengen ke Garut, baru kemarin (sabtu, 25 Juni 2011) kesampaian. Hampir 2 bulan saya survey lokasi wisata dan rute kearah Garut. Seperti biasa, sebelum berwisata, saya selalu hunting dulu lokasi-lokasi yang akan dituju supaya gak buang-buang waktu di kota yang dituju. Perjalanan ke Garut melalui tol Cipularang memakan waktu kurang lebih 3jam dengan kecepatan sedang, santai aja karena gak buru-buru juga. Tiba di kota Garut, saya menyempatkan makan di Restaurant Pujasega. Dari luar sekilas restaurant ini kelihatan kecil dan biasa-biasa saja tetapi ternyata didalamnya ada areal yang luas. Pengunjung bisa memilih makan ala lesehan atau duduk dikursi. Rasanya setelah berjam-jam duduk di kendaraan, lesehan adalah pilihan yang pas buat saya. Restauran Pujasega recommended banget buat yang ingin makan dengan suasana pedesaan. Menunya pun bervariasi dan rasanya dijamin enak! terutama menu andalannya paket Nasi Liwet untuk berdua dan jangan lupa pesan tutut kuah kuning juga ya.

Candi Cangkuang
Situs Candi Cangkuang menjadi tujuan pertama wisata yang saya sambangi sore itu. Situs ini terletak di Desa Cangkuang sebelah utara kabupaten Garut masuk Kecamatan Leles. Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur. Berdasarkan sejarah, Candi Cangkuang merupakan bangunan suci berkonsep Hindu pada abad ke-7 dan 8 Masehi. Dibangun, tepat di tengah Situ Cangkuang, Garut, Jawa Barat. Candi Cangkuang ditemukan kembali oleh Team Sejarah Leles dan sekitarnya pada tanggal 9 Desember 1966. Persis di sisi selatan Candi Cangkuang, berdiri tegak nisan makan Arif Muhamad, tokoh Islam pertama Kampung Pulo. Lebih unik lagi disamping Candi cangkuang terdapat sebuah pemukiman yang dinamakan dengan Kampung Pulo. Sebuah kampung kecil yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan ini harus ditepati, dan sudah merupakan ketentuan adat kalau jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam. Jadi, kalau ada anggota keluarga yang menikah harus keluar dari lingkungan Kampung Pulo. Sayangnya karena tiba disana terlalu sore, gambar situs Candi Cangkuang yang saya ambil kurang maksimal, selain tentunya karena faktor kamera pocket amatiran juga siiihh hehehee.... tapi keuntungannya adalah saya dapat menikmati senja yang romantis di Situ Cangkuang (Danau Cangkuang). Sambil berakit pulang, menyaksikan semburat senja yang indahnya tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.

Malam itu, sepulang dari situs Candi Cangkuang saya sempatkan mampir ke pasar malam yang ada di alun-alun kota Garut. Penasaran aja, seperti apa sih pasar malam yang ada di kota Garut. Ternyata yaaa gak beda-beda jauhlah dengan pasar malam-pasar malam yang biasa ada di kota-kota lain. Ada jualan pakaian, makanan dan ini nih yang seru...berbagai permainan ala Dufan! Sebelum beristirahat, saya sempatkan makan malam di Jemanii Cafe. Tempat makan yang berkonsep terbuka, diatas air. Sekilas mirip dengan Segarra Resto di kawasan Ancol.

Kawasan kawah Kamojang menjadi tujuan wisata dihari kedua. Perjalanan menuju kawasan wisata Kawah Kamojang benar-benar menjadi obat mujarab buat mata saya yang lelah sehari-harinya menatap monitor komputer 15inch. Kawah Kamojang adalah sumber panas bumi di Jawa Barat. Dalam sejarahnya, dikenal sebagai gunung berapi yang bernama Gunung Guntur, tapi kawah ini dikelompokkan dalam gunung berapi aktif karena aktivitas panas bumi. Kawasan Kawah Kamojang berbeda dengan Kawah Putih yang berada di Bandung Selatan karena memiliki beberapa titik kawah yang memiliki ciri khas. Karena kekhasannya itulah beberapa titik kawah dinamai berdasarkan suara yang terdengar dari kawah. Seperti Kawah Manuk, dinamai demikian karena dalam satu areal kawah yang terdiri atas beberapa lubang mengeluarkan suara seperti manuk atau burung (bahasa sunda). Kawah Kereta Api dinamai demikian karena mengeluarkan bunyi seperti kereta api disertai sesekali suara peluit. Ada juga Kawah Sakarat karena kawah tersebut berbunyi seperi orang yang sedang sekarat (mau mati).

Sebenarnya masih banyak obyek wisata yang belum sempat saya sambangi karena keterbatasan waktu. Masih ada Pantai Santolo, Situ Bagendit dan lainnya. Tak apa, minimal saya sudah mengunjungi dua obyek wisata paling hapenning di Garut. Next time bisa disusun rencana lagi. Perjalanan pulang Garut menuju Bogor saya tempuh melalui Paseh yang memiliki pemandangan alam cantik tetapi jalannya berkelok dan menurun curam. Rasanya kelokan dan tanjakan Nagrek yang fenomenal itu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan tanjakan dan kelokan jalan di Paseh ini. Lepas dari Paseh, masuk ke wilayah Majalaya dan berakhir di pintu tol Mohammad Toha. Mudah banget rutenya, cukup ikuti jalan utama saja sambil sesekali memperhatikan petunjuk arah jalan untuk memastikan tidak salah arah.

Sayang sekali saat saya berkunjung kota Garut sedang tidak ada event adu domba Garut yang terkenal. Sebagai gantinya, saya mencicipi Cokodol, Coklat isi Dodol! hihihii...ada-ada aja ya, saya yang gak begitu suka dodol jadi tertarik juga mencicipi. Seperti biasa foto-foto amatir hasil perjalanan ini bisa dilihat di album jepretan iseng-iseng disini http://www.flickr.com/photos/aprilianti/sets/72157627056248724/





Senin, 06 Juni 2011

Bangkok, The City of Angels

Sawadikap! begitulah sapaan khas Thailand dengan disertai menangkupkan kedua belah tangan didada. Sapaan ini mencakup selamat datang, selamat pagi, selamat siang dan selamat malam. Ini menurut informasi dari Lydia, tourist guide lokal yang menemani kami. Kali ini perjalanan saya adalah ke Bangkok yang berasal dari kata Bang (artinya bagian tengah dari kota/desa yang berada ditepian sungai) dan Makok (artinya tanaman yang menghasilkan buah). Kota Bangkok juga dikenal dengan sebutan Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit (pfiuuhhhh cukup bikin nafas ngos-ngosan bacanya :D) nama tersebut diberikan oleh Raja Buddha Yodfa Chulaloke dan nama ini terdaftar didalam Guiness Book of Records sebagai nama tempat terpanjang didunia. Sekarang ini Bangkok terkenal dengan sebutan City of Angels. Tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Bangkok cukup melelahkan apalagi beberapa kali pesawat yang saya tumpangi mengalami guncangan karena faktor cuaca yang kurang bagus.

Belajar dari kesalahan trip terdahulu, kali ini kamera digital sudah saya isi penuh baterainya dan tidak lupa membawa pula chargernya.....hehehe amaaan deh, bisa foto setiap obyek menarik sepuas hati karena kota ini juga terkenal dengan julukan seribu pagoda.

The Royal Grand Palace
Obyek wisata pertama yang wajib dikunjungi adalah The Royal Grand Palace yang dibangun pada tahun 1782 oleh Raja Rama I. Tempat ini merupakan kompleks tempat tinggal kerajaan, pusat pemerintahan dan kuil Emerald Budha. Daya tarik yang dimiliki oleh Royal Grand Palace adalah kekayaan arsitektur khas Thailand, lukisan-lukisan kuno yang menggambarkan kisah Ramayana, Royal Thai Decoration dan tempat penyimpanan medali kerajaan dan koin sejak abad 11. Kelebihan lainnya adalah di istana ini saya juga dapat melihat secara langsung patung Emerald Budha yang terkenal. Patung Budha yang terbuat dari batu permata hijau (green jade)  ditempatkan didalam temple dengan arsitektur yang tinggi nilai seninya. Patung ini sempat berada di Laos selama 226 tahun. Tetapi pada tahun 1778, Raja Rama I membawanya kembali ke Thailand.  Bangunan lainnya yang ada didalam kompleks The Royal Grand Palace adalah Grand Palace Hall yang merupakan tempat pemberian penghargaan dari Raja Thailand digelar.

Cuaca di Bangkok saat itu sangat panas sekitar 36C, lumayan membuat dehidrasi. Untung sebelumnya pemandu wisata sudah mengingatkan untuk membawa air mineral dalam botol. Selesai berkeliling di komplek The Royal Grand Palace yang ternyata cukup luas saatnya mengisi energi kembali. Apalagi kalau bukan wisata kuliner makanan khas Thailand yang terkenal enak-enak. Kebetulan saya penggila makanan Thailand, utamanya sup Tom Yam. Jadi pas bener deh, manjain perut dan lidah selama disini hehehee.. Lokasi tempat makan terletak di Ramkham Haeng, Sophia Restaurant. Tempat ini sepertinya memang menjadi tempat wajib para turis yang mencari makanan halal. Agak sulit menemukan restaurant halal karena mayoritas penduduk Thailand beragama Budha. Hampir semua masakan yang dihidangkan saya cicipi. Rugi rasanya kalau gak berani mencoba masakan khas Thailand selagi saya disana. Yang agak mengejutkan adalah nanas Thailand. Umumnya nanas di Indonesia rasanya asam manis dan banyak mengandung air, tetapi nanas Thailand rasanya super manis dan tidak berair. So selama 3 hari di Bangkok, nanas selalu masuk dalam daftar menu saya :)

Kegiatan berikutnya setelah early dinner adalah Shopping!! Lydia, pemandu wisata lokal membawa kami ke Siam Paradise Night Bazaar. Ohmigod....barang-barangnya lucu-lucu dan harganya pun gak mahal. Contohnya tempat tissu yang terbuat dari bahan satin dengan sulaman gajah hanya dihargai 100bath atau kurang lebih Rp30,000. Puas keliling dan membeli beberapa cinderamata, saatnya beristirahat ke hotel Twin Towers yang berada di Rong Muang, Patumwan. Lokasi hotel ini tidak terlalu jauh dari Siam Paradise Night Bazaar. Beberapa teman melanjutkan untuk menonton pertunjukan tiger show dengan harga tiket sekitar 700bath. Kalau saya sih pengennya jalan-jalan di sekitar hotel saja tapi karena orang Thailand umumnya tidak mengerti bahasa Inggris sementara saya sendiri gagap bahasa Thailand, terpaksa niat itu disimpan saja. Jangankan untuk keluyuran sekitar hotel, menanyakan lokasi Toilet saja harus dengan bahasa Thailand. Untungnya turis guide kami memberikan bahasa praktis untuk keperluan darurat seperti terimakasih atau Khab Khun, Toilet atau Nong Nam. Yang lucu saya sempat mengucapkan Nong Nam selesai berbelanja, padahal maksudnya mau bilang thank you alias Khab Khun hahahahaa....

Sungai Chao Phraya
Hari kedua adalah mengunjungi sungai Chao Phraya. Chao Phraya artinya sungai raja (River of Kings). Sesuai dengan namanya, Sungai Chao Phraya merupakan sungai terpanjang dan terpenting di Thailand, dengan panjang sekitar 372 kilometer. Sungai ini melintasi 20 provinsi di Thailand dan bermuara di Teluk Thailand. Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan dari lima sungai kecil : Sungai Pa Sak, Sakae Krang, Nan, Ping, dan Tha Chin di daerah Nakhon Sawan yang berada di wilayah utara Thailand. Di sepanjang sungai yang membelah Kota Bangkok ini banyak terdapat Kuil Budha (dalam Bahasa Thai disebut Wat) yang cantik dan megah. Menyusuri Sungai Chao Phraya merupakan agenda wajib bagi para turis yang berkunjung ke Bangkok. Dengan naik perahu (kapal kayu) menyusuri Sungai Chao Phraya, dan menyempatkan memberi makan ikan dewa (sejenis ikan patin) dengan roti yang dijual dalam kemasan plastik seharga 20bath. Menyusuri sungai Chao Phraya menuju Wat Arun (Temple of Dawn) merupakan pengalaman yang menyenangkan. Sungai ini membelah kota Bangkok menjadi dua. Sisi kanan adalah provinsi lama dan sisi kiri adalah provinsi baru. Perahu yang kami tumpangi juga melewati jembatan yang dibangun oleh Raja Rama VIII.

Temple of Dawn
Sekitar 30 menit berperahu, kami tiba di Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara atau disebut juga dengan Wat Arun (Temple of Dawn). Bangunan ini adalah kuil Budha yang terletak di distrik Bangkok Yai di Barat hulu sungai Chao Phraya. Pada awalnya kuil ini dikenal dengan nama Wat Makok (wihara zaitun). Wat Arun sempat menjadi tempat persinggahan patung Emerald Budha setelah direbut kembali dari Laos dan kemudian patung tersebut dipindahkan ke Wat Phra Kaew pada tahun 1784.  Kuil ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke kota Bangkok. Kuil ini terlihat indah karena memancarkan kerlap-kerlip ribuan cermin kecil yang menempel di dindingnya. Disini pengunjung juga dapat berbelanja aneka souvenir kerajinan khas Thailand, asesoris, kaos-kaos hingga hiasan dinding. Sepertinya turis Indonesia yang datang ke Wat Arun cukup banyak, beberapa toko memperbolehkan kami membayar dalam mata uang rupiah. 100bath mereka hargai Rp30,000. Saya juga menyempatkan diri untuk berfoto ala gadis Thailand dengan busana khasnya. Gak mahal kok hanya 200bath atau sekitar Rp60,000,- dibandingkan dengan pengalaman saya berfoto ala gadis Bali dengan biaya Rp150,000,-. Usai berkeliling di Wat Arun, kami kembali menyusuri sungai Chao Phraya untuk berkunjung ke Jewellry Manufacturing dan makan siang.

Jewelry Manufacturing yang kami kunjungi adalah milik pemerintah Thailand. Disini pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan perhiasan dengan batu permata yang indah-indah, sayangnya kamera dilarang masuk kedalam. Pengunjung juga bisa menyaksikan film dokumenter dan membeli perhiasan tersebut. Kali ini rombongan serempak hanya numpang lewat saja gak beli perhiasan hahahhaaa.... Selepas cuci mata di show room permata kami menuju Hotel SD Avenue yang terletak di  Borommarat Chacconanni Road untuk makan siang. Kali ini pilihannya adalah International buffet yang ada di Hotel. Tapi tetap saja saya sih mengambil menu khas Thailand yang juga dihidangkan, tak lupa lengkap dengan nanasnya. Selesai makan siang, Bangkok yang juga dikenal sebagai surganya belanja para turis membuktikan sekali lagi eksistensinya sebgai tempat belanja murah. Kali ini kami dibawa menuju Ma Boong Krong biasa disingkat dengan MBK (mal favorit turis Indonesia). Memang benar, Thailand tuh surga belanja. Koper lucu dengan motif polda dot berwarna ungu ukuran kecil dihargai hanya 1,600bath atau sekitar Rp450,000. Padahal dengan model dan ukuran yang sama di Indonesia mencapai Rp1,900,000 ironis banget.

The Royal Dragon Restaurant
Kuliner Thailand memang pantas diacungi jempol (menurut saya loh ya yang penggila kuliner Thailand). Makanya seneng banget waktu kami diajak makan malam di The Royal Dragon Restaurant atau disebut juga Mang Korn Lung Restaurant. Tempat ini tercatat sebagai restoran terbesar di dunia pada tahun 1992 dan tercatat dalam  Guiness Book of World's Record. Saking besarnya restoran ini, pelayannya pun menggunakan sepatu roda untuk membawakan makanan para pengunjung. Makanannya pun semuanya enak. Disini saya mencicipi dessert khas Thailand yaitu ketan mangga. Ketan yang dikukus kemudian disiram santan kental diatasnya dan disajikan dengan potongan mangga yang manis. Rasanya unik banget.... gurih, manis dan segar. Bener-bener puaaass. Selama saya di Bangkok, Tom Yam dan nanas gak pernah lepas dari incaran saya. Sepertinya berat badan nambah beberapa kilo nih akibat lupa diri menyantap kuliner khas Thailand.

Malam itu seusai makan malam di The Royal Dragon, kami kembali ke hotel. Beberapa orang melanjutkan menonton Cabaret Show alias pertunjukan banci-banci Thailand yang terkenal kecantikannya, bahkan melebihi wanita yang asli, hhmmmm bikin jeles aja deh :p. Saya skip aja deh menonton Cabaret Show. Selain gak tega nontonnya badan juga sudah lelah banget. Belum lagi urusan packing oleh-oleh biar muat dalam satu koper. Mungkin karena pengaruh cuaca yang panasnya ekstrim sekali, lelahnya terasa berat banget.

Keesokan harinya, berhubung masih tersisa US Dollar, saya putuskan untuk dihabiskan di toko cinderamata hotel saja. You know what, harga di hotel lebih murah dari belanja di Wat Arun! huh, sumpeh nyesel banget gak belanja dari kemarin disitu aja. Lumayan deh hanya dengan US$35 saya memborong 3 syal sutra Thai, 2 T-Shirt dewasa pesanan teman, 2 T-Shirt anak-anak pesanan orang rumah dan 2 Magnetic fridge. Akibat kekhilafan saya di toko souvenir hotel, saya harus menenteng belanjaan tersebut karena udah gak muat lagi di koper :D

Oya ngomong-ngomong saya salut sekali dengan rakyat Thailand yang terlihat begitu menghormati dan mencintai Raja dan Ratu beserta keluarganya. Di jalan-jalan protokol banyak terpampang foto-foto Raja dan Ratu Thailand dalam berbagai jaman dan pose. Lydia tourist guide kami pun terlihat begitu menghormati dan mencintai Rajanya dalam setiap pembicaraan mengenai negeri Thailand. Semoga Indonesia bisa mencontoh sikap seperti itu ya.
Tepat jam 10 pagi, kami berangkat menuju bandara Suvarnabhumi. Sawadikap Thailand....see you later. saya masih punya obsesi untuk mengunjungi Phuket, bersafari gajah dan keluyuran malam hari naik tuktuk ;)

PS: foto-fotonya bisa dilihat di album foto jepretan iseng-iseng sebelah kiri atas ya.... *mohon maaf kalo gak bagus, masih amateur :p*